Daerah

Menjelang Hari Pertama Masuk Sekolah, Penjahit Pasar Tanjung Anyar Mojokerto Kebanjiran Permak Seragam

×

Menjelang Hari Pertama Masuk Sekolah, Penjahit Pasar Tanjung Anyar Mojokerto Kebanjiran Permak Seragam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hari Terakhir Libur Sekolah, Penjahit di Pasar Mojokerto Kebanjiran Order Permak Seragam

jurnalistik.co.id – Menjelang hari pertama masuk sekolah, suasana di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, berubah menjadi sangat padat. Sejumlah penjahit mengaku kebanjiran permintaan permak seragam sekolah, khususnya karena hari libur sekolah tinggal tersisa.

Minggu (12/7/2026) menjadi momen yang disebut paling akhir sebelum aktivitas belajar dimulai. Senin (13/7/2026), tahun ajaran baru 2026-2027 dijadwalkan berjalan kembali.

Yuni (47), salah satu penjahit yang melayani pemasangan atribut serta permak ukuran seragam, terlihat bekerja cepat di depan lapaknya. Ia menyebut pekerjaan pada rentang waktu ini tidak hanya meliputi penambahan atribut, tetapi juga pengubahan ukuran seragam agar sesuai kebutuhan siswa.

“Dua hari ini memang ramai. Untuk hari ini saya buka lebih awal, dari pukul 06.30 WIB. Biasanya kalau hari biasa saya baru buka sekitar pukul 09.00 WIB,” kata Yuni saat ditemui Kompas.com pada Minggu (12/7/2026).

Keramaian tersebut membuat Yuni harus membagi tenaga dan mengatur kapasitas lapaknya. Karena kebanyakan pelanggan datang berbarengan, ia mengaku terpaksa menolak pesanan dan mengarahkan calon pembeli ke penjahit lain di area Pasar Tanjung Anyar.

Yuni menjelaskan bahwa keputusan itu diambil karena ia bekerja sendiri. “Dilemparkan ke temannya sana, sana, atau sana. Karena ini kan saya kerjakan sendiri. Rata-rata ini yang datang seragam sekolah SD, SMP, hingga SMA,” ujarnya.

Dengan kondisi antrean yang terus bertambah, Yuni akhirnya menutup lapaknya lebih malam dari kebiasaan. Biasanya lapak tutup sekitar pukul 17.00 WIB, tetapi pada hari-hari ramai ia harus bekerja melewati jam tersebut agar pesanan yang sudah masuk dapat diselesaikan.

Meski melelahkan, momen padat pelanggan tetap disyukuri Yuni. Ia menyebut pendapatan dalam sehari bisa melonjak hingga Rp 500.000 dibanding hari biasa.

“Momen ini itu memang ramai seperti Lebaran. Tapi masih ramai ini,” tandas Yuni, menggambarkan suasana yang terasa seperti puncak musiman menjelang hari raya.

Di lokasi yang sama, Komsiyati (56) juga merasakan lonjakan jumlah pelanggan dalam dua hari terakhir. Ia mengatakan peningkatan mulai terlihat sejak Sabtu (11/7/2026), lalu berlanjut hingga hari Minggu (12/7/2026).

Menurut Komsiyati, aktivitas yang ia jalani pada periode ini berfokus pada permak seragam, bukan pembuatan baru. “Saya ini fokus permak saja. Tidak bikin baru. Permak berarti memperkecil atau memperbesar saja, atau masang atribut. Ini sampai antre. Kalau sekarang ini saya sudah tidak menerima,” kata Komsiyati kepada Kompas.com.

Ia menekankan bahwa layanan permak yang dimaksud mencakup penyesuaian ukuran—baik mengecilkan maupun memperbesar—serta pemasangan atribut seragam. Ketika antrean sudah terlalu panjang, ia memilih tidak menerima tambahan pesanan agar proses yang sedang dikerjakan tetap bisa selesai tepat waktu.

Padatnya aktivitas di Pasar Tanjung Anyar tidak terjadi pada satu lapak saja. Secara umum, di tempat itu terdapat lebih dari 10 penjahit yang membuka jasa pemasangan atribut, permak seragam, maupun pembuatan seragam baru.

Keberagaman layanan tersebut membuat pasar menjadi tujuan penting bagi orang tua yang memerlukan penyesuaian mendadak menjelang sekolah. Para penjahit mengaku, menjelang tanggal-tanggal awal masuk kelas, permintaan biasanya meningkat karena banyak orang baru menyelesaikan urusan seragam pada akhir masa libur.

Keramaian ini juga tidak hanya datang dari warga sekitar. Kehadiran pelanggan dari luar kota ikut dimanfaatkan untuk menyelesaikan kebutuhan seragam anak.

Salah satu yang datang dari wilayah lain adalah Tatok (52), warga Desa Curah Malang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Ia hadir untuk mengurus kebutuhan seragam sekolah, menunjukkan bahwa Pasar Tanjung Anyar menjadi rujukan saat waktu persiapan semakin sempit.

Dengan berakhirnya masa libur sekolah, penyesuaian ukuran dan penambahan atribut menjadi kebutuhan yang harus dikerjakan cepat. Hal itu pula yang membuat para penjahit pada Minggu (12/7/2026) terlihat lebih sibuk dibanding hari biasa, baik dalam menyiapkan bahan maupun mengatur urutan pengerjaan agar antrean tetap berjalan.

Di tengah tingginya permintaan, penolakan pesanan oleh sebagian penjahit bukan tanpa alasan. Para pelaku usaha menyebut kapasitas kerja yang terbatas, terutama bila pengerjaan dilakukan oleh satu orang, menjadi hambatan utama saat pelanggan datang dalam jumlah besar bersamaan.

Sejumlah penjahit akhirnya memilih mengalihkan pelanggan ke lapak lain agar proses permak tetap dapat dilayani. Pola saling mengarahkan ini juga membantu menjaga agar pelanggan tetap mendapatkan solusi tanpa harus menunggu terlalu lama hingga hari pembelajaran dimulai.

Adanya lonjakan sejak Sabtu hingga Minggu memperlihatkan bahwa jelang sekolah merupakan titik waktu yang paling menentukan bagi urusan atribut dan ukuran seragam. Ketika Senin (13/7/2026) menjadi awal tahun ajaran 2026-2027, pasar pun berusaha menyelesaikan pekerjaan yang sudah masuk agar tidak ada siswa yang tertinggal.

Bagi Yuni dan Komsiyati, tingginya pesanan memang membawa dampak pada pendapatan, namun juga menuntut ketahanan kerja yang lebih besar. Dalam dua hari menjelang sekolah, mereka terlihat menghadapi antrean panjang dengan cara masing-masing: sebagian menerima hingga batas kapasitas, sebagian lagi harus menutup dan mengalihkan agar proses tetap terkendali.