jurnalistik.co.id – Rachel Williams menyambut kabar terbaru setelah angka pelaporan untuk tindak dicekik terus meningkat. Ia menilai tren itu menunjukkan pelanggaran kini dipahami lebih serius dan diperlakukan sesuai jalur hukum yang semestinya. Perempuan yang menjadi korban dicekik dalam hubungan kekerasan selama 18 tahun itu mengatakan, lebih dari 44.000 laporan mengenai tindak strangulasi dibuat ke polisi dalam satu tahun terakhir di Inggris dan Wales. Data tersebut, menurut laporan baru, memperlihatkan bahwa kejahatan ini makin sering dikenali sekaligus dilaporkan. Williams menyebut kabar tersebut sebagai “good news” karena ia melihat perubahan cara pandang. Baginya, sejak tindak dicekik ditetapkan sebagai tindak pidana yang berdiri sendiri empat tahun lalu, dampak yang ditimbulkan kini tidak dianggap remeh. Ia juga menekankan bahwa perlindungan terhadap korban tidak boleh berhenti pada pengakuan semata. Williams berharap pihak berwenang menerapkan hukuman yang tegas bagi pelaku yang terbukti melakukan kekerasan dicekik. Bagi Williams, upaya itu berangkat dari pengalaman langsung yang panjang dan berulang. Ia berperan dalam mendorong pengenalan tindak pidana dicekik ke dalam hukum, setelah sebelumnya mengalami kekerasan yang ia sendiri sempat tidak berani menganggap “besar”. Sebelum kasus penembakan yang dialaminya, ia bercerita bahwa ia dicekik dengan intensitas yang sangat kuat. “Six weeks before the shooting, I was strangled so furiously that's what made me decide to leave the relationship,” kata Williams. Ia menambahkan, kejadian itu sampai membangunkan anak-anaknya yang sedang tidur di kamar atas. Salah satu anaknya kemudian mengatakan mereka mendengar seperti bunyi “pig squealing” karena suara yang terdengar saat ia dicekik. Menurut Williams, tindakan dicekik itu terjadi berulang kali dalam hubungan tersebut. Namun, ia saat itu merasa hal tersebut tidak terlalu penting, karena akibat yang paling terasa hanya sakit tenggorokan. Ia baru memahami konsekuensi yang lebih luas setelah menyadari efek yang dapat muncul dari strangulasi. Ia menyebut, efek yang dipaparkan NHS mencakup stroke, cedera otak, serta gangguan kognitif jangka panjang. Williams mengatakan, keyakinannya untuk memperjuangkan perubahan hukum muncul karena ia merasa baru menyadari seberapa dekat ia dengan maut. Ia menyatakan hal tersebut melalui kutipan, “didn't realise how close to death she was” dengan tangan pelaku berada di sekitar lehernya. Ia turut menyoroti bahwa peningkatan pelaporan memberi sinyal adanya kesadaran di tingkat korban. “It's great to see the figures in this report, which show the awareness is out there and victims are seeing the seriousness and deciding to report this,” ujar Williams. Namun, ia tidak menilai angka itu sudah mencerminkan gambaran sepenuhnya. Williams meyakini jumlah sesungguhnya lebih tinggi, karena tidak semua orang merasa mampu melapor kepada polisi. Laporan dampak IFAS juga menjadi bagian penting dalam penjelasan perubahan respons terhadap tindak strangulasi. Institute for Addressing Strangulation (IFAS) dibentuk pada Oktober 2022 dengan dukungan pendanaan dari Home Office. Dalam rilis pekan ini, IFAS menyoroti pemahaman dan respons di Inggris terhadap strangulasi empat tahun setelah hukum diperkenalkan. Laporan tersebut memuat data dari sejumlah kekuatan kepolisian yang menunjukkan peningkatan 13% dalam pelaporan dibandingkan tahun sebelumnya. IFAS juga mencatat proses penegakan hukum yang berlangsung sejak tindak pidana ini mulai berlaku. Disebutkan, terdapat 24.446 tindak pidana yang dituntut melalui CPS sejak pelanggaran dicekik diperkenalkan. Dr Helen Bichard, psikolog klinis utama dari North Wales Brain Injury Service, terlibat dalam pengajuan pendanaan awal yang mendukung lahirnya IFAS. Ia mengatakan penelitian yang ia lakukan pada tahun 2020 membantu memperjelas dampak dicekik terhadap otak. Ia menyampaikan, “I had carried out research in 2020 which I think for the first time really highlighted the impact of strangulation on the brain, which was used by the government in creating the new legislation.” Menurutnya, perubahan hukum adalah langkah yang penting, tetapi masih diperlukan tindakan lanjutan agar penerapannya efektif. Bichard juga menggambarkan kebutuhan sistem pendukung untuk memastikan hukum benar-benar bekerja di lapangan. “It was almost as if the legalisation had proceeded all the systems that needed to be in place to make sure it's effective, so that's why IFAS was created,” katanya. Salah satu tindakan yang disebutnya adalah penyusunan panduan bagi tenaga medis. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya tidak ada pedoman khusus mengenai strangulasi di Inggris, sehingga kerja IFAS berupaya mengisi kekosongan itu. Ia menegaskan nilai panduan tersebut bagi penyelamatan nyawa. “They are a first of its kind, they will save lives – there is no greater impact than that,” ujar Bichard. Bichard menambahkan bahwa tenaga kesehatan perlu memahami situasi dan dampak yang mungkin muncul setelah dicekik. Ia menilai strangulasi dapat berakibat fatal dan menjadi bentuk kekerasan yang sangat efektif bagi pelaku. Ia menyatakan, “It can be catastrophic, it can cause death that's why strangulation is used in violence because it is really effective.” Pesan itu sejalan dengan pengingat bahwa tidak ada cara yang aman untuk melakukan strangulasi. Pada bagian ini, laporan IFAS menegaskan bahwa strangulasi tidak selalu meninggalkan tanda cedera yang tampak. Dalam banyak kasus, strangulasi non-fatal tetap dapat memunculkan komplikasi yang mengancam nyawa. Rujukan dari NHS menyebutkan, ketika otak mengalami kekurangan oksigen, kondisi itu dapat berujung pada stroke, cedera otak, hilangnya kesadaran, maupun dampak kognitif jangka panjang. Cedera-cedera tersebut dapat terjadi meskipun tidak terlihat tanda kekerasan di luar tubuh. Laporan juga menyertakan temuan terkait kelompok usia tertentu. Disebutkan bahwa bukti menunjukkan perempuan di bawah usia 40 tahun yang mengalami strangulasi memiliki risiko stroke yang meningkat secara signifikan. Chief Executive IFAS, Bernie Ryan OBE, menilai bahwa perubahan sudah terjadi, tetapi perbaikan masih dibutuhkan. Ia mengatakan, empat tahun lalu banyak korban strangulasi non-fatal tidak dikenali, tidak dipercaya, atau tidak dirujuk untuk perawatan yang tepat. Ia menekankan kebutuhan respons yang lebih konsisten lintas sistem. “Four years ago, many victims of non-fatal strangulation were not recognised, believed or referred for appropriate care,” ujar Ryan. IFAS juga melaporkan upaya pelatihan kepada para profesional yang berada di garis depan. Lebih dari 22.000 profesional dilatih melalui program pelatihan nasional khusus IFAS yang disampaikan bekerja sama dengan SafeLives. Ryan menilai capaian itu menunjukkan kerja bersama berbagai pihak bisa menghasilkan dampak nyata. “This report demonstrates what can be achieved when government, clinicians, researchers, specialist organisations and survivors work together towards a shared goal, while reminding us there is still much more to do,” katanya. Di sisi lain, pemerintah juga disebut mengambil langkah pencegahan yang lebih luas. Tahun lalu, pemerintah mengumumkan bahwa pornografi daring yang menampilkan strangulasi atau suffocation akan dibuat ilegal sebagai bagian dari rencana menanggulangi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Pengumuman itu mengikuti suatu telaah yang menemukan penggambaran tindakan mencekik “rife” di situs pornografi arus utama. Telaah tersebut juga menyebut adanya normalisasi tindakan itu di kalangan anak muda. Laporan BBC Wales pada 2024 juga disebut menyinggung bahwa anak laki-laki setidaknya berusia 14 tahun pernah bertanya kepada guru mereka tentang cara mencekik perempuan saat berhubungan. Williams dan pihak terkait menilai isu ini memperlihatkan urgensi pendidikan sekaligus penegakan hukum. Natalie Fleet MP, Menteri untuk Safeguarding dan Violence Against Women and Girls, memuji laporan IFAS. Ia menyebut strangulasi sebagai bentuk kekerasan yang berbahaya dan dapat meninggalkan korban dengan dampak fisik serta psikologis yang menghancurkan dan bertahan lama. Ia menegaskan, “Strangulation is a dangerous form of abuse that can leave victims with devastating and long-lasting physical and psychological harm.” Fleet juga memuji laporan tersebut karena menunjukkan perbedaan respons yang dapat diperbaiki di berbagai sektor. Fleet menyatakan, “Our mission to halve violence against women and girls in a decade requires strong partnerships across government, healthcare, policing, the voluntary sector and academia.” Baginya, kemitraan kuat di banyak pihak menjadi prasyarat agar korban tidak hanya diakui, tetapi juga benar-benar dilindungi secara nyata.
Penyintas dicekik: lonjakan laporan ke polisi kabar baik











