jurnalistik.co.id – Warga Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, masih menyimpan ketakutan setelah sekelompok massa kembali mendatangi kawasan itu pada Minggu (26/7/2026) tengah malam. Di lokasi, personel gabungan TNI-POLRI hingga Satpol PP berjaga ketat agar situasi tidak kembali memanas dan bentrokan susulan tidak meluas.
Meski aparat terus mengondisikan area, rasa waswas tetap tinggal di benak banyak keluarga. Sejumlah warga mengaku sulit memejamkan mata karena khawatir keributan yang sempat terjadi sebelumnya akan terulang.
Salah satunya Isnawati. Ia mengatakan kepanikannya muncul sejak informasi beredar bahwa massa membawa senjata tajam. Isnawati menuturkan dirinya terus memikirkan keselamatan anak dan suaminya yang masih berada di luar rumah.
“Saya panik kan, enggak bisa tidur, takut ribut lagi. Kepikiran anak saya masih di luar, suami posisinya narik ojol dia belum pulang. Gelisah aja pokoknya jadinya,” ujar Isnawati saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026) pagi.
Menurut Isnawati, ketegangan mulai terasa sekitar pukul 00.00 WIB ketika kerumunan kembali hadir di Jalan Tambak. Ia mengaitkan suasana malam itu dengan kabar yang ia dengar, bahwa massa membawa senjata tajam dan alat yang dapat digunakan untuk melukai.
Ia merinci bahwa massa disebut membawa parang panjang-panjang serta membawa panah yang dilengkapi busur. Dalam kesaksian Isnawati, situasi menjadi semakin mengganggu karena anaknya berada di sekitar lokasi, mengikuti aktivitas berkumpul di pos bersama temannya.
“Tengah malam itu jam 12 malam tiba-tiba ramai lagi. Anak saya kan sama temennya di depan juga, dia ikutan di pos. Katanya pada bawa senjata. Ada yang bawa parang panjang-panjang, sama bawa panah, itu sama busurnya,” katanya.
Isnawati memperkirakan jumlah massa yang datang sekitar 50 orang. Ia menyebut rombongan tersebut bergerak berjalan kaki secara berkelompok dari arah Flyover Pramuka menuju Jalan Tambak, setelah sebelumnya melewati area sekitar.
“Mereka datengnya dari arah Matraman, dari Flyover Pramuka situ, banyak kayaknya 50 orang ada deh,” ucapnya.
Berita Terkait
Di tengah kondisi yang menegangkan, warga memilih untuk tidak berdiam diri di dalam rumah. Sejumlah warga menunggu di sepanjang Jalan Tambak untuk mengantisipasi kemungkinan serangan atau keributan yang bisa terjadi kapan saja.
Isnawati mengatakan, mulai dari pemuda hingga warga dari lingkungan sekitar berdatangan untuk ikut berjaga. Ia menggambarkan suasana malam itu berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.
“Belum beres itu sampai jam 01.00 WIB. Orang dari tetangga tuh dari Manggarai sampai pada ke sini warganya, pakai baju hitam-hitam juga ngejagain,” kata dia.
Warga melanjutkan pengawalan hingga dini hari
Selain Isnawati, Jamal (34) menyampaikan keterangan serupa terkait kedatangan massa dan alasan warga terus berjaga. Ia menyebut massa sempat datang lagi sebelum kemudian bergerak ke lokasi lain.
Jamal menggambarkan bahwa rombongan itu datang dari lingkungan yang mereka kenal, dan suasananya lebih berupa pertemuan atau kerumunan daripada tindakan yang langsung menyerang. Namun karena keributan dapat berubah cepat, warga tetap menjaga agar tidak ada eskalasi.
“Semalam dari teman-temannya yang tewas itu masih ke sini lagi, ngumpul doang sih enggak ngapa-ngapain. Habis itu mereka ke RSCM katanya. Tapi ramai, makanya dijagain terus sampai pagi,” ujar Jamal.
Berdasarkan keterangan para warga, masa yang datang pada malam itu berulang kali membuat suasana di sekitar Jalan Tambak terasa tidak tenang, terutama karena adanya informasi membawa senjata tajam dan alat untuk menyerang. Situasi seperti ini juga membuat keluarga memilih bersiaga lebih lama, sambil menunggu perkembangan sampai aktivitas warga kembali normal.
Di hari berikutnya, Senin pagi, kondisi di area Jalan Tambak disebut terpantau kondusif. Pengawasan oleh aparat gabungan tetap menjadi penanda bahwa upaya pencegahan bentrokan susulan terus dijalankan, sementara warga berusaha kembali menenangkan diri setelah semalam penuh kepanikan.
Namun bagi warga yang sempat merasakan tekanan emosional selama kerumunan datang, kejadian tersebut tidak mudah dilupakan. Ketakutan, kekhawatiran pada anggota keluarga yang berada di luar rumah, serta ingatan akan kemungkinan keributan kembali menjadi alasan utama mengapa mereka tetap berjaga hingga situasi reda.












