Otomotif

Saat Mogok di Bahu Jalan Tol, Ini Langkah Aman yang Perlu Dilakukan

×

Saat Mogok di Bahu Jalan Tol, Ini Langkah Aman yang Perlu Dilakukan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Terpaksa Berhenti di Bahu Jalan Tol, Lakukan Hal Ini agar Tetap Aman

jurnalistik.co.id – Berhenti di bahu jalan tol sering kali terjadi ketika kendaraan mengalami mogok atau gangguan teknis. Dalam kondisi seperti ini, pengemudi tidak boleh sembarangan menepi karena bahu jalan tetap berisiko bagi keselamatan.

Rio Octaviano dari Road Safety Association (RSA) Indonesia menekankan bahwa pengemudi perlu memahami prosedur yang benar saat terpaksa berhenti di bahu jalan tol. Ia mengingatkan, risiko kecelakaan bisa meningkat karena masih ada pengendara yang menyalahgunakan bahu jalan sebagai jalur untuk mendahului.

Pastikan kondisi benar-benar darurat

Langkah awal yang harus dilakukan adalah memverifikasi bahwa situasi yang dialami memang sangat darurat. Jika gangguan masih bisa ditangani atau memungkinkan kendaraan terus melaju hingga keluar tol atau mencapai tempat yang lebih aman, maka kondisi tersebut tidak semestinya membuat pengemudi memaksakan berhenti di bahu.

Prinsipnya jelas: pastikan keadaan tidak bisa ditunda. Ketika keputusan berhenti di bahu tol sudah dibuat, pengemudi juga perlu segera menyiapkan tindakan berikutnya tanpa membuang waktu.

Nyalakan lampu hazard dan pasang segitiga pengaman

Begitu kendaraan sudah berhenti, pengemudi wajib segera menyalakan lampu hazard sebagai tanda bahwa ada kendaraan yang mengalami masalah. Tindakan ini membantu pengguna jalan lain memahami adanya hambatan di area tersebut.

Selain itu, segitiga pengaman harus dipasang. Rio menyebut segitiga pengaman merupakan perlengkapan wajib yang harus tersedia di setiap mobil, dan fungsinya adalah memberi peringatan dini agar pengendara lain bisa mengurangi kecepatan serta berpindah lajur lebih awal.

Segitiga pengaman perlu diletakkan dengan jarak pemberitahuan awal sekitar 3 meter dari kendaraan. Pengemudi juga perlu memastikan segitiga pengaman itu tetap ada sesuai ketentuan yang disebutkan Rio.

Waspada arus lalu lintas saat menunggu bantuan

Meski kendaraan sudah tidak bergerak, kewaspadaan terhadap arus lalu lintas tetap harus dijaga. Rio mengingatkan masih ada pengemudi yang melintas di bahu tol secara ilegal, sehingga potensi tertabrak tetap nyata.

Karena itu, pengemudi dan penumpang tidak sebaiknya mengambil posisi yang meningkatkan paparan terhadap kendaraan lain. Jika harus menunggu bantuan, pengambilan jarak dan penentuan tempat menunggu menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko.

Posisi menunggu yang lebih aman

Jika memungkinkan, Rio menyarankan agar pengemudi dan penumpang berpindah ke area di luar pagar pembatas tol atau tempat yang lebih aman. Namun, bila tidak ada kemungkinan untuk keluar dari area tol, posisi menunggu perlu dipilih dengan cermat.

Dalam kondisi tersebut, Rio menilai posisi menunggu yang lebih aman adalah berada di depan kendaraan atau sejajar dengan segitiga pengaman yang telah dipasang. Ia menegaskan, posisi menunggu yang berdampingan atau berada di belakang kendaraan dinilai lebih berisiko karena kendaraan lain dapat tetap melintas di area yang berbahaya.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, peluang terjadinya kecelakaan saat berhenti di bahu jalan tol dapat diminimalkan, baik bagi pengemudi maupun pengguna jalan di sekitarnya.

Setelah memastikan bahwa gangguan memang tidak memungkinkan untuk ditangani segera, fokus berikutnya adalah menjaga proses komunikasi kepada pengguna jalan lain. Lampu hazard yang sudah dinyalakan perlu diikuti penataan peringatan di lokasi, agar setiap pengemudi di sekitar memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi.

Pengemudi juga perlu memperhatikan konsistensi tindakan pengaman selama situasi berlangsung. Segitiga pengaman yang dipasang jangan sampai bergeser atau terlepas, karena fungsinya sebagai tanda peringatan dini akan hilang bila jarak dan posisinya tidak sesuai ketentuan yang disampaikan Rio.

Ketika bantuan masih dalam perjalanan, keputusan terkait posisi menunggu menjadi penentu untuk mengurangi paparan risiko. Dengan memilih lokasi menunggu yang berada di depan kendaraan atau tepat pada area yang sejajar dengan segitiga pengaman, peluang kendaraan lain melewati titik berbahaya bisa ditekan dibanding posisi yang berada berdampingan atau berada di belakang mobil.