Politik & Parlemen

Andy Burnham Tak Menutup Kenaikan Pajak di Budget Musim Gugur: ‘tak akan unrealistis’

×

Andy Burnham Tak Menutup Kenaikan Pajak di Budget Musim Gugur: ‘tak akan unrealistis’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Andy Burnham refuses to rule out tax rises in autumn Budget

jurnalistik.co.id – Menjelang penyusunan Budget musim gugur, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan pemerintah tidak sedang menutup kemungkinan kenaikan pajak. Pernyataan itu disampaikan di tengah penilaian bahwa kondisi keuangan publik sedang “challenging”.

Burnham menegaskan sikapnya bahwa ia “won’t be unrealistic” ketika membahas keadaan tersebut. Ia juga menyebut akan menerapkan “careful approach” dalam kebijakan ekonomi yang akan diputuskan dalam anggaran perdana pada 28 Oktober.

Dalam penjelasannya, Burnham membela janji-janji terkait biaya hidup yang telah diumumkan sebelumnya sebagai komitmen belanja yang sudah didanai. Namun, di balik janjinya memberi ruang napas bagi masyarakat, pertanyaan masih menggantung mengenai cara pendanaan kebijakan-kebijakan besar, termasuk reformasi perawatan sosial.

Langkah awal yang dianggap “doable”

Burnham menyampaikan bahwa kebijakan yang sudah diumumkan sejauh ini dipandang sebagai “the first steps that I’ve felt able to make”. Ia menilai langkah-langkah tersebut dapat dijalankan karena pemerintah mampu mengalihkan prioritas pendanaan dari area lain.

Di antara contoh yang ia sebut adalah pembatasan tarif bus menjadi ÂŁ2. Pemerintah juga memotong PPN (VAT) untuk tagihan listrik rumah tangga, sebagai bagian dari upaya menekan beban biaya hidup.

Burnham menjelaskan bahwa penetapan prioritas juga tercermin dari keputusan untuk menunda fokus pada program digital ID. “I took the decision early on that digital ID wasn’t the top priority for now. And so we’ve reprioritised funding to other priorities,” ujarnya dalam wawancara dengan ITV.

Dengan kerangka itu, ia berupaya menunjukkan bahwa langkah-langkah awal bisa bergerak tanpa langsung menyimpulkan kebutuhan pada kenaikan pajak baru. Saat ditanya apakah masyarakat perlu menerima kebijakan baru yang pembiayaannya datang dari kenaikan pajak, Burnham mengatakan tidak selalu harus demikian.

Ia kemudian juga menekankan soal prinsip kehati-hatian ketika diminta menjawab kemungkinan kenaikan pajak untuk menutup celah belanja. Burnham berkata, “I will always take a careful approach to things.”

Ia mengaitkan sikap tersebut dengan pengalaman memimpin Greater Manchester selama 10 tahun. Burnham menuturkan bahwa selama periode itu, ia menjalankan pemerintahan dengan pengelolaan ketat dan “rock solid finances”, serta menegaskan tidak ingin mengambil risiko terhadap pekerjaan, penghidupan, maupun keuangan keluarga.

“Nothing will change as I come into this role as prime minister. I won’t take risks with people’s jobs or their livelihoods or their family finances,” kata Burnham. Ia menambahkan bahwa pemerintah berupaya membantu masyarakat “in whatever way I can”, termasuk langkah-langkah yang telah dilakukan sebelumnya.

Dalam keterangan terpisah kepada BBC, Burnham mengakui bahwa upaya yang ia umumkan untuk menangani biaya hidup belum cukup. Ia juga mengisyaratkan adanya dukungan lanjutan, terutama setelah berbicara dalam kunjungan luar negeri resmi pertamanya pada hari Senin.

Pada kesempatan tersebut, Burnham menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan apa yang dapat dilakukan, tetapi menolak janji yang tidak realistis. “I won’t be unrealistic and people really need to understand that,” tuturnya, sembari menegaskan bahwa posisi keuangan yang “challenging” akan menentukan ritme dan arah kebijakan.

Ia menyebut, “We are in a challenging position, whatever I do will be carefully thought through, it will be funded and there will be more to come as we go into the autumn.” Pernyataan itu kembali menempatkan pembiayaan sebagai kunci, sekaligus membuka ruang bagi kebijakan lanjutan setelah rangkaian keputusan anggaran dimulai.

Tekanan pada keuangan publik

Di tengah sinyal kehati-hatian dari Burnham, rilis data resmi pekan lalu menunjukkan bahwa pemerintah meminjam lebih banyak dari perkiraan pada bulan Juli. Temuan tersebut muncul meski pada saat yang sama bulan Juli tercatat sebagai rekor untuk penerimaan pajak penghasilan.

Tekanan lain datang dari inflasi yang mencapai level tertinggi empat bulan terakhir, yaitu 2,9% pada Juli. Inflasi diperkirakan akan terus meningkat karena dampak berkelanjutan perang Iran yang memengaruhi harga energi dan biaya bahan bakar.

Sejumlah pakar memperingatkan Burnham dan Kanselir John Healey bahwa ruang untuk mengambil langkah fiskal tambahan tidak lagi lebar. Menurut mereka, pemerintah perlu memilih antara menaikkan pajak atau memangkas belanja di tempat lain agar tidak menambah tekanan pada keuangan publik.

Baik Burnham maupun Healey menyatakan akan mematuhi aturan fiskal yang ditetapkan oleh mantan kanselir Rachel Reeves. Aturan tersebut dirancang agar pengeluaran harian ditopang oleh penerimaan pajak pada akhir masa Parlemen, sekaligus menekan utang agar proporsinya terhadap PDB berkurang.

Selain isu fiskal, diskusi publik juga bergulir di kalangan dunia usaha. Rain Newton-Smith, kepala eksekutif Confederation of British Industry (CBI), mengatakan para pemilik usaha ingin menciptakan peluang bagi kaum muda, tetapi biaya mempekerjakan orang telah meningkat terlalu tinggi.

Ia menyampaikan bahwa “the cost of employing people has gone up so much”. Menurutnya, para pemimpin bisnis yang ia temui menyebut biaya menjalankan usaha kini begitu besar sehingga menghambat upaya menciptakan peluang.

Newton-Smith menambahkan bahwa dukungan yang ditargetkan untuk bisnis bisa mendorong pertumbuhan dan membuka kesempatan yang lebih luas. Ia juga menyatakan langkah semacam itu “saves money for the government” sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi pada penerimaan pajak yang lebih tinggi.

Dengan Budget yang tinggal menunggu waktu, pernyataan Burnham memperlihatkan bahwa debat soal pembiayaan kebijakan akan terus menjadi pusat perhatian. Pada saat yang sama, kebijakan-kebijakan awal seperti tarif bus ÂŁ2 dan pemotongan VAT untuk listrik rumah tangga menjadi penanda arah yang ingin dipertahankan, sambil menyesuaikan ruang gerak fiskal yang semakin ketat.