Politik & Parlemen

Mengurai Kawan dan Lawan Prabowo dalam Pidato Sidang MPR 2026

×

Mengurai Kawan dan Lawan Prabowo dalam Pidato Sidang MPR 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Membedah Kawan dan Lawan Prabowo dalam Pidato di Sidang MPR 2026

jurnalistik.co.id – Dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menampilkan pidato kenegaraan yang pada dasarnya mengikuti naskah resmi. Kebiasaan itu menjadi kontras karena sebelumnya ia dikenal tidak menyukai pembacaan pidato formal, bahkan pernah berkelakar soal rasa bosan yang biasanya muncul saat teks dibacakan.

Menariknya, pada momen-momen tertentu ia tidak sepenuhnya bertahan sebagai pembaca pasif. Hampir di sepanjang pidato, ia tampak bergantung pada pengingat visual seperti teleprompter. Namun, ada bagian ketika ia mengalihkan perhatian dan melakukan improvisasi, sehingga teks tertulis dan performa lisan terasa memiliki “celah” yang bisa dibaca.

Pidato resmi, menurut kerangka yang dipakai penulis, selalu menyimpan dua lapisan. Lapisan pertama adalah naskah diplomatik yang disusun oleh tim birokrasi. Lapisan kedua adalah cara orator membawakan pesan di podium, termasuk penekanan-penekanan yang lahir dari improvisasi.

Dalam pandangan tersebut, improvisasi bukan sekadar hiasan retorika. Improvisasi dimaksudkan untuk memperdalam apa yang sudah ada dalam teks, atau untuk memberi bobot lebih pada pesan tertentu yang ingin diutamakan oleh pembicara. Di titik inilah, penyimakan terhadap bagian “out-of-text” menjadi penting.

Memetakan pesan lewat “Memoria”

Untuk memahami bagaimana Prabowo bisa menepis teks formal lalu menonjolkan perluasan lisan secara spontan, penulis memakai konsep retorika Memoria. Memoria diposisikan sebagai salah satu dari lima pilar retorika, di samping Inventio, Dispositio, Elocutio, dan Actio.

Penjelasan pada kerangka itu menempatkan Memoria bukan sebagai hafalan kata per kata, melainkan penguasaan substansi yang “menetap” di pikiran pembicara. Dalam studi komunikasi modern, pilar ini dipahami sebagai kemampuan menjadikan gagasan berada di puncak kesadaran, sehingga orator dapat beralih dari teks menjadi improvisasi.

Karena itu, momen ketika seorang Presiden memilih menggunakan memorinya alih-alih sepenuhnya mengikuti lembaran pidato dapat dibaca sebagai isyarat yang lebih jujur terkait ketertarikan pada isu-isu tertentu. Dengan asumsi ini, penyisiran bagian-bagian di luar naskah menjadi alat untuk memetakan pesan dengan lebih presisi.

Metode dua tahap: dari tayangan sampai transkripsi

Penulis menyatakan bahwa ia menelusuri pidato Prabowo pada Sidang Tahunan MPR 14 Agustus 2026 dalam dua tahap. Tahap pertama adalah mendengarkan tayangan ulang pidato melalui kanal YouTube dan mencatat poin-poin yang disampaikan di luar teks resmi.

Tahap kedua dilakukan dengan membaca teks tertulis pidato yang diperoleh dari transkripsi. Transkripsi tersebut, menurut sumber narasi penulis, ditayangkan oleh Tirto.id. Catatan dari tahap pertama kemudian dibandingkan dengan transkripsi pada tahap kedua untuk mencari apa yang menonjol sebagai elemen Memoria.

Dari proses perbandingan itu, penulis mengemukakan bahwa ditemukan beberapa bagian yang menonjol. Temuan-temuan tersebut kemudian dipadatkan menjadi dua golongan, yakni pujian dan kritik beserta sasaran yang disebutkan sebagai “kawan” atau “lawan”.

Garis besar: pujian untuk meningkatkan kesejahteraan, kritik untuk menghambatnya

Kriteria pujian yang dipakai penulis adalah bentuk apresiasi yang diberikan secara lisan kepada pihak-pihak yang dianggap berkontribusi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, kritik dipahami sebagai sindiran, teguran, bahkan kecaman kepada pihak yang dipandang menghambat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan pola penyusunan yang demikian, penulis menyatakan bahwa pada bagian pertama ia memaparkan pujian dan sasaran pujian. Pada bagian kedua, ia menyajikan kritik dan sasaran kritik, sebagai rangkaian analisis yang menggunakan elemen Memoria dari lima pilar retorika.

Contoh yang disebut dalam narasi tersebut adalah bahwa Prabowo memberikan pujian yang terkesan sangat royal kepada Menteri Pertanian. Bagian lanjutannya tidak dirinci pada cuplikan teks yang tersedia, namun arah argumentasinya jelas: pujian dan kritik dibaca sebagai indikator hubungan retoris pembicara dengan kelompok yang ia sebut memperkuat atau menghalangi gagasan kesejahteraan.

Keseluruhan pendekatan ini membuat pidato kenegaraan tidak hanya dipahami sebagai bacaan resmi. Ia diperlakukan sebagai peristiwa komunikasi yang memperlihatkan bagaimana pembicara memanfaatkan memori dan improvisasi untuk menegaskan arah pesan. Dari sana, penyisiran yang teliti terhadap bagian out-of-text menjadi jalan untuk membaca peta “kawan” dan “lawan” dalam struktur retorika yang dibangun Prabowo.