Olahraga

Commonwealth Games 2026: Josh Kerr rayakan Glasgow Games lewat selfie, tanda tangan, dan media sosial

×

Commonwealth Games 2026: Josh Kerr rayakan Glasgow Games lewat selfie, tanda tangan, dan media sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: Selfies, signatures & social media - how Josh Kerr embraced Glasgow Games

jurnalistik.co.id – Josh Kerr mengaku tidak mendapat tidur nyenyak malam sebelumnya. “There’s no time for that. Glasgow on the weekend, mate, it’s bouncing,” kata pelari asal Skotlandia itu dengan sedikit serak di tenggorokannya.

Rasa euforia itu terasa nyata dalam cara dia menjalani hari-harinya di Glasgow. Sebab, kira-kira 11 jam setelah kemenangannya di nomor mil Commonwealth Games, Kerr tetap mengalirkan energi yang sama—terjun bersama Team Scotland, berada di tengah orang-orangnya, dan menikmati momen yang tengah membuncah.

Di media sosial, Kerr tampak terus bergerak: rekaman video pendek yang memperlihatkan dirinya berlari di jalanan kota, singgah di taman, hingga berlatih di lintasan. Ia juga membagikan momen di bawah Kingston Bridge flyover dari area parkir hotel, serta saat berinteraksi dengan kerumunan. Di antara yang datang menemuinya adalah para pendukung yang langsung ingin menyaksikan pelari pemegang rekor dunia mil—termasuk kakek-nenek dan paman/sepupu dari pihak keluarga, juga pelatih pertamanya, plus rekan-rekan latihan sejak ia berusia 11 atau 12 tahun.

Dalam sorot kamera itu, tidak hanya orang dewasa yang hadir. Ada ratusan anak yang terlihat kagum—sebagian bahkan sudah menyimpan ambisi untuk menjadi atlet. Kerr, yang dulu juga pernah memiliki impian serupa ketika Commonwealth Games kembali ke Glasgow pada 2014, seolah membawa kenangan itu saat berjalan perlahan menuruni lintasan dari podium seusai upacara medali yang emosional.

Ia menjawab kerumunan dengan cara yang konsisten dan personal: setiap penggemar yang meminta foto bersama mendapatkannya. Kerr juga menandatangani namanya berulang kali, memberi waktu dan perhatian tanpa terburu-buru. “I’m just trying to create a moment for them,” ucapnya kepada BBC Sport Scotland. Ia menambahkan, “There is absolutely nothing stopping any of them going out and doing what I’ve just done.” Bagi Kerr, kunci besarnya adalah kepercayaan diri yang tumbuh dari lingkungan: “I believe if you grow up in Scotland, you can be one of the best runners in the history of these distances. I’m not doing anything outrageously special.”

Relief, namun tetap terasa menyenangkan

Kerr memang sedang merayakan capaian puncak. Namun, justru di momen itulah ia menunjukkan bahwa ekspektasi musim panasnya dijalani dengan rasa yang lebih ringan dari yang mungkin dibayangkan. Setelah berbicara jelas tentang targetnya—yakni memecahkan standar mil berusia 27 tahun dan meraih emas Commonwealth Games—dia mengakui ada rasa lega karena apa yang dijanjikan akhirnya menjadi kenyataan.

Bagi Kerr, lega tersebut tidak meniadakan kenikmatan. Ia menyebut pengalaman keseluruhan “really fun” baginya. “This whole experience has been really fun for me, too, actually,” katanya. Ia lalu mengingat kebiasaan lama saat ia sering datang ke Glasgow untuk bertemu teman-teman yang ia kenal lewat atletik. “It’s funny, we’re staying pretty close to where we’d meet up and walk around town.” Kerr menilai kota itu tengah “buzzing with the Games” dan ia merasa ikut “feed off the city,” memanfaatkan atmosfer tersebut untuk mengisi energi hari-harinya.

Semua puncak emosi itu kemudian bermuara saat ia berdiri di podium sambil mendengarkan “Flower of Scotland” mengalun. Bibir bagian bawahnya tampak bergetar, dan ia beberapa kali harus berhenti bernyanyi agar bisa menata perasaannya. Ketika musik berhenti, ia juga terlihat menghapus air mata di matanya.

Kebanggaan identitas dan kata-kata soal legenda

Skotlandia menjadi bagian yang sangat sentral bagi Kerr. “It’s everything to me,” ujarnya tentang kebangsaannya. Ia mengaitkan kebanggaan itu dengan cara dirinya membangun identitas: “It’s the way I present myself and the way I was built.” Kerr menyatakan ia tumbuh di Edinburgh hingga usia 17 tahun dan merasa bangga sebagai orang Skotlandia. Ia juga bilang dirinya “back four times a year right now,” dan mengaku merasa cukup baik dengan ritme pulang-pergi tersebut.

Ketika ditanya bagaimana rasanya dianggap sebagai pembawa standar olahraga bagi negaranya—menyusul nama-nama seperti Sir Chris Hoy dan Sir Andy Murray—Kerr merespons dengan nada terbuka. “Um, yeah, that, that sounds, yeah, I mean, it’s an honour to be, to be spoken in the same sentence as those two legends,” kata Kerr. Ia menambahkan rincian yang membuat pesan itu terasa “dekat”: “Sir Chris Hoy went to my school, actually, and spoke a few times during assemblies and that just closed the gap between me and him for when I was sitting there as a pupil. It made it seem possible.”

Kerr lantas memberi harapan sekaligus pengakuan akan tantangan besar. “Hopefully I can do that too,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa dua tokoh itu adalah legenda. “but those two guys are absolute legends of the game and I’ve got a lot of work to do to keep up with them.”

Kalimat itu sejalan dengan gambaran Kerr sepanjang musim panas ini: menjaga ritme, merawat momentum, dan terus tampil tanpa terlihat kesulitan mengejar standar yang ia bicarakan sendiri. Bagi Kerr, Glasgow bukan sekadar panggung perlombaan—melainkan tempat di mana ia mengubah kemenangan menjadi momen nyata bagi orang lain, terutama generasi yang sedang mencari contoh untuk memulai mimpi mereka.