Bisnis & Ekonomi

Lonjakan Saham SpaceX Melahirkan Jutawan Baru: Pilih Investasi sampai Meteorit, Bukan Barang Mewah

×

Lonjakan Saham SpaceX Melahirkan Jutawan Baru: Pilih Investasi sampai Meteorit, Bukan Barang Mewah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: SpaceX Lahirkan Banyak Jutawan, Pola Belanja Mereka Bikin Industri Mewah Gigit Jari

jurnalistik.co.id – Reli saham dan lonjakan valuasi perusahaan teknologi, terutama SpaceX, memunculkan gelombang individu superkaya baru di Amerika Serikat. Namun, kekayaan yang terbentuk dari bursa belum tentu otomatis berujung pada peningkatan selera belanja barang mewah.

Di balik kenaikan aset itu, pola konsumsi sejumlah jutawan justru menampilkan kontras. Pengeluaran mereka lebih dekat dengan minat personal dan bentuk investasi, ketimbang membeli produk bernilai tinggi yang lazim dijadikan simbol status.

Salah satu contoh datang dari Chip, mantan ilmuwan data SpaceX. Nilai kepemilikan sahamnya kini berada di sekitar 3,5 juta dollar AS atau setara Rp 63,2 miliar.

Setelah SpaceX melantai di bursa pada Juni lalu, Chip mulai menikmati kekayaan barunya. Alih-alih mengejar barang prestise, ia memilih pembelian yang terdengar tidak biasa bagi standar industri barang mewah.

Chip diketahui membeli meteorit dengan harga 10.000 dollar AS atau kira-kira Rp 180,6 juta. Ia juga mengantongi truk pemadam kebakaran bekas senilai 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 90,3 juta.

Dalam keterangannya kepada Reuters pada Rabu (8/7/2026), Chip menyampaikan tidak ada rencana khusus untuk truk tersebut. “Mungkin sebagai atraksi untuk pesta ulang tahun anak saya yang berusia tiga tahun,” katanya.

Chip meminta agar identitasnya hanya ditulis memakai nama depan demi menjaga privasi. Meski demikian, ia tetap mengincar satu produk yang memang bernuansa kemewahan—meski bentuknya berbeda, karena terkait penghormatan pada sejarah misi antariksa.

Ia menargetkan jam tangan TAG Heuer Carrera Calibre 1887 SpaceX Chronograph dengan harga sekitar 8.000 dollar AS atau kira-kira Rp 144,5 juta. Jam tangan itu, menurut informasi produk, dibuat sebagai penghormatan terhadap misi astronaut NASA John Glenn yang mengorbit Bumi pada 1962.

Dalam konteks yang lebih luas, Bain & Company mencatat bahwa pasar barang mewah pribadi bernilai sekitar 358 miliar euro atau 406 miliar dollar AS pada 2025 justru menyusut. Penurunan tersebut terjadi selama dua tahun berturut-turut.

Bain & Company menilai industri mewah menghadapi tantangan karena pusat belanja konsumen tidak hanya bergeser ke kategori tertentu, tetapi juga bersaing dengan kebutuhan pengeluaran lain. “Industri ini semakin bersaing dengan industri lain dan dengan kemungkinan pengeluaran dan pembelian lainnya,” kata Mitra Bain & Company Federica Levato.

Di tengah melemahnya dorongan dari beberapa wilayah, produsen barang mewah mulai menggantungkan harapan pada pasar Amerika Utara. Mereka merespons bahwa permintaan di China melemah, sementara belanja konsumen global ikut melambat.

Laporan sejumlah merek, termasuk LVMH, Richemont, Hermès, dan Kering, menempatkan Amerika Utara sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat. Hal itu terjadi pada kuartal yang berakhir 31 Maret.

Dalam penilaiannya, CEO Richemont Nicolas Bos menyebut tingkat kepercayaan konsumen menjadi faktor penopang. “Tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi terhadap Amerika,” katanya.

Perbedaan cara jutawan teknologi memanfaatkan kekayaan juga terlihat pada Zack Kass. Mantan Kepala Strategi Go to Market OpenAI ini mengaku memiliki saham SpaceX, tetapi tidak menjadikan kekayaannya sebagai alat untuk membeli barang mewah.

“Saya bermain bola voli di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Saya benar benar mengambil kemenangan OpenAI saya dan membeli tim olahraga profesional,” ujarnya. Pernyataan Kass menegaskan bahwa lonjakan aset dapat mengalir ke aktivitas dan pengalaman, bukan semata produk-produk berlabel kemewahan.

Jika ditarik benang merahnya, pola belanja jutawan dari sektor teknologi cenderung tidak otomatis mengangkat industri barang mewah. Mereka dapat memilih investasi, pengalaman, hingga aset yang lebih spesifik sesuai minat—sekaligus menunjukkan bahwa ukuran kemewahan tidak selalu identik dengan tas, jam, atau barang status yang bersifat konvensional.