jurnalistik.co.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kemungkinan menyesuaikan target jumlah perusahaan yang melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sepanjang 2026. Langkah itu saat ini masih dibahas secara internal di bursa.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, BEI menargetkan 50 perusahaan mencatatkan saham perdana di pasar modal. Namun, hingga 9 Juli 2026, realisasi baru mencapai enam perusahaan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyampaikan bahwa keputusan terkait revisi masih berada pada tahap pembahasan. “Apakah kita akan revise atau engga, itu masih jadi bahan pembahasan kita juga,” ujar Saidu kepada wartawan di Gedung BEI, Kamis (9/7/2026).
Meski demikian, BEI menyatakan tetap menjaga optimisme agar target IPO tetap dapat dikejar. Saidu menilai capaian tahun ini sangat terkait dengan sejumlah kondisi yang memengaruhi minat pelaku pasar, termasuk pemulihan kepercayaan serta perbaikan situasi ekonomi.
Ia juga menyoroti meredanya ketidakpastian global sebagai faktor yang dapat ikut mendorong aktivitas penghimpunan dana lewat pasar modal. Dalam konteks tersebut, Saidu memasukkan risiko geopolitik sebagai bagian dari dinamika yang perlu terus dipantau.
“Kalau kita berjuang, kalau kita bisa dapat trust secepat mungkin, kondisi juga membaik, geopolitik, dan segala macamnya support, rasa-rasanya kita harus melihat ke depan, betul-betul optimis kan. Masalah nanti tercapai atau tidak kan, akhir tahun,” pungkas Saidu.
Dengan pendekatan itu, bursa belum ingin menarik kesimpulan apakah target IPO 2026 akan tercapai atau tidak. Menurut BEI, proses pencapaian target perlu dilihat hingga akhir tahun sambil menilai perkembangan pasar secara berkelanjutan.
Berita Terkait
Saidu menegaskan bahwa minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui IPO masih terjaga. Sejalan dengan itu, ia menyebut masih ada lima perusahaan dalam pipeline pencatatan saham pada awal Juli 2026 dengan target penghimpunan dana sebesar Rp 2,47 triliun.
“Saat ini juga terdapat 5 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan total target himpunan dana sebesar Rp 2,47 triliun, yang menandakan bahwa instrumen ekuitas tetap diminati oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan,” katanya.
Selain IPO, Saidu menyampaikan bahwa besarnya perhatian perusahaan pada pendanaan melalui pasar modal juga tercermin dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Per 9 Juli 2026, tercatat 71 emisi EBUS dari 43 perusahaan dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 76,1 triliun.
“Hal ini sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana penghimpunan dana melalui emisi EBUS lebih tinggi dari penghimpunan dana melalui pencatatan saham,” lanjutnya.
Meski demikian, BEI mengakui bahwa aktivitas IPO pada tahun ini lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Meski jumlah pencatatan saham perdana tidak sekuat periode-periode tertentu, bursa menyatakan tidak akan menyederhanakan ukuran keberhasilan hanya dari nilai nominal penghimpunan dana.
“Jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kegiatan penghimpunan dana melalui pasar modal, khususnya IPO, memang lebih sedikit pada tahun ini. Namun, kami tidak menilai keberhasilan kami hanya berdasarkan nilai nominal dari kegiatan penghimpunan dana,” tukas Saidu.
Dalam menjalankan perannya sebagai penyelenggara pasar modal, BEI terus memantau perubahan yang terjadi di pasar dan dinamika dunia usaha. Pemantauan tersebut dimaksudkan agar kebijakan yang dirumuskan selaras dengan kebutuhan para pelaku pasar yang bergerak di berbagai sektor.
Dengan target IPO yang masih menjadi bahan evaluasi internal, BEI tampak menjaga dua arah sekaligus: memberi ruang untuk penyesuaian target apabila diperlukan, tetapi pada saat yang sama tetap berupaya mendorong proses pencatatan saham perdana agar momentum penghimpunan dana melalui pasar modal dapat kembali meningkat.












