Politik & Parlemen

Sonam Wangchuk: Mogok lapar 26 hari dan gerakan “Kecoa” melemahkan Narendra Modi, kata aktivis ke BBC

×

Sonam Wangchuk: Mogok lapar 26 hari dan gerakan “Kecoa” melemahkan Narendra Modi, kata aktivis ke BBC

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sonam Wangchuk: Protests weakened Narendra Modi, activist tells BBC after hunger strike

jurnalistik.co.id – Gelombang protes yang dipimpin anak muda disebut telah mengubah situasi politik di India secara signifikan, bahkan sampai memunculkan efek berantai di tingkat pemerintahan. Aktivisme jalanan dan tekanan publik yang berlangsung setelah persidangan serta kebijakan terkait kebocoran soal ujian mendorong perubahan respons negara.

Menurut aktivis pendidikan Sonam Wangchuk, suasana di India “berubah” setelah demonstrasi besar-besaran yang memicu pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan pada 25 Juli. Wangchuk menyampaikan hal itu kepada BBC, menyebut pengaruh gerakan tersebut melemahkan Perdana Menteri Narendra Modi “terribly”.

Wangchuk mengatakan, kini banyak pemuda merasa memiliki keyakinan untuk “change things if they want to” dan tidak lagi merasa harus “take everything lying down”. Ia menggambarkan bahwa gerakan protes yang menguat belakangan ini memberi ruang bagi publik untuk menilai ulang cara negara merespons krisis yang mereka alami.

Protes yang kemudian dikenal dengan sebutan gerakan “Kecoa” juga disebut sebagai salah satu bentuk penolakan publik terbesar terhadap pemerintahan Modi, yang berkuasa sejak 2014. Gerakan ini mengambil namanya dari komentar seorang hakim agung India yang dikritik setelah membandingkan kelompok pemuda penganggur dengan “cockroaches” dalam persidangan.

Wangchuk menjalankan mogok lapar di ibu kota Delhi selama 26 hari pada Juni dan Juli. Ia hanya mengonsumsi garam dan air selama aksi tersebut. Aktivis berusia 59 tahun itu mengklaim bahwa ia telah memulihkan enam kilogram dari 11 kilogram berat badan yang hilang selama mogok.

Ia juga mengatakan bahwa pada enam hari terakhir, ia “forcibly” dibawa ke rumah sakit yang ia gambarkan “more like prisons”. Sejak itu, ia menilai bahwa protes yang semula muncul dari kemarahan publik atas kebocoran soal ujian telah berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang termasuk yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Wangchuk menuturkan bahwa ia menghubungkan perubahan politik yang terjadi dengan rangkaian aksi dan respons terhadap kebocoran soal ujian. Ia menyebut pengunduran Pradhan terjadi sehari setelah Wangchuk mengakhiri mogok laparnya.

Setelah pengunduran diri itu, Modi mengumumkan sejumlah langkah percepatan untuk menangani kasus kebocoran. Pemerintah menyatakan akan membentuk “fast-track courts” untuk mengadili mereka yang dituduh melakukan kebocoran. Pemerintah juga menunjuk seorang miliarder teknologi untuk memimpin upaya reformasi sistem ujian.

Selain itu, pemerintah mengatakan akan memberi kompensasi kepada keluarga siswa yang mengambil nyawa setelah soal ujian bocor. Namun, Wangchuk menilai persoalan India tidak berhenti pada satu peristiwa kebocoran, melainkan lebih dalam.

Menurutnya, problem yang lebih mendasar terkait rendahnya peluang kerja, dengan angka pengangguran lulusan yang berada di kisaran 35–40% selama 25 tahun terakhir. Ia melihat reformasi pendidikan sebagai pintu untuk menata ulang hubungan antara sistem ujian dan kebutuhan pasar kerja.

Gagasan reformasi pendidikan menurut Wangchuk

Wangchuk berargumen bahwa pendidikan di India membutuhkan perubahan yang fundamental. Ia menyatakan bahwa ujian yang berlaku saat ini dinilai minim relevansi terhadap dunia kerja. Menurutnya, ujian umumnya dirancang untuk menilai jutaan siswa secara efisien melalui soal pilihan ganda, tanpa mempertimbangkan seberapa baik penilaian tersebut mengukur keterampilan dan pemahaman.

Ia menambahkan bahwa cara penyusunan ujian seperti itu turut membentuk pola pengajaran di sekolah. Jika ujian memberi porsi lebih besar pada pengalaman langsung dan penilaian berbasis kemampuan (aptitude), maka sekolah akan terdorong mengubah metode mereka dan berpotensi ikut meredam krisis kerja yang dihadapi lulusan.

Wangchuk mengatakan, “There needs to be some planning of what the world and the country are likely to look like in 15 years”. Ia menilai, bila anak-anak dididik dengan pendekatan yang berbeda, mereka tidak akan “not left unemployed and sectors that need people are not left underemployed”.

Di sisi lain, pemerintah sebelumnya membela kebijakan mereka dalam menangani ekonomi. Pemerintah berpendapat klaim tentang krisis pengangguran dibesar-besarkan dan kebijakan makroekonomi mereka tetap “fundamentally robust”.

Protes berlanjut meski ada arahan pengadilan

Sementara itu, laporan menyebut banyak demonstran dari Cockroach Janta Party masih menghadapi konsekuensi. Di antaranya, proses pengadilan, gangguan dari aparat kepolisian, serta pelecehan melalui media sosial. Hal ini disebut berlangsung meskipun Mahkamah Agung telah mengarahkan otoritas agar tidak melakukan tindakan koersif terhadap para demonstran yang berhadapan dengan tuduhan namun belum memiliki catatan kriminal sebelumnya.

Meski demikian, Wangchuk menyatakan bahwa perkembangan tetap terjadi. Ia mengatakan, “in the last few days, I think there has been good progress”.

Ia juga meyakini perubahan “is in the air” di India. Menurutnya, pemerintah mengalami kerusakan besar karena lamanya waktu sebelum Pradhan akhirnya mundur. Wangchuk menyebut situasi itu memberi pemuda kesempatan untuk membangun percaya diri dan kebersamaan.

Ia menegaskan, “This gave young people a chance to gain confidence and unity in their actions.” Namun ia juga memperingatkan bahwa bila pemerintah tidak mendengarkan masyarakat, protes dapat kembali melampaui isu pendidikan.

Wangchuk melihat dampak itu sudah mulai terasa pada Partai BJP yang memerintah. Ia mencontohkan, partai tersebut kalah dalam dua dari tiga pemilihan sela pekan ini, termasuk satu kursi di negara bagian Bihar yang telah dipegang selama lebih dari 30 tahun.

Meski tetap bersikap kritis, Wangchuk mengatakan peluang koreksi masih ada. Ia menyatakan, “I always believe in people realising their mistakes and amending their ways. So I would give them that chance.”

Wangchuk menyebut bahwa kini sudah 12 hari sejak ia mengakhiri mogok laparnya. Ia kembali ke Leh, kampung halamannya di wilayah Himalaya Ladakh. Ia mengatakan bahwa ia mendapatkan keyakinan baru terhadap kekuatan aksi mogok lapar, mengambil inspirasi dari filosofi perlawanan tanpa kekerasan Mahatma Gandhi.

Ia juga mengingat bahwa pada tahun-tahun sebelumnya ia pernah melakukan mogok lapar demi tuntutan otonomi yang lebih besar di Ladakh, serta menentang “a very powerful government” yang ingin “bulldoze ecologically sensitive places”. Menurutnya, meski target di sana tidak tercapai, “inflicting pain on ourselves makes the government feel differently, compared to us using sticks and stones”.

Ketika ditanya apakah ia berencana maju untuk jabatan politik, Wangchuk menjawab tidak. Ia mengatakan lebih baik memberi ruang agar orang lain yang bergerak dan mengambil peran.