jurnalistik.co.id – Pelari ultra asal Selandia Baru, Sophie Woods, menuntaskan tantangan daya tahan Via Alpina dengan catatan rekor tercepat: 29 hari. Ia menempuh sekitar 2.000 km melintasi delapan negara, mengikuti seluruh rentang Pegunungan Alpen.
Lintasan itu dirancang menuntut fisik sekaligus teknis, dengan akumulasi ketinggian yang disebut setara seperti mendaki Gunung Everest sebanyak 12 kali. Woods memulai perjalanan pada 4 Juli di Italia dan mengakhiri rute di pesisir Laut Tengah, Monaco, pada Sabtu malam.
Perjalanan Woods bergerak melalui jaringan jalur yang mencakup Slovenia, Austria, Jerman, Liechtenstein, Swiss, hingga Prancis. Rute tersebut menjadikannya atlet yang dituntut beradaptasi pada perubahan medan yang konstan, dari pendakian curam hingga bagian lintasan yang memaksa pengaturan ritme harian secara ketat.
Menurut laporan BBC Sport, Woods menyelesaikan tantangan tersebut dalam waktu yang lebih cepat dibanding catatan tercepat sebelumnya yang dikenal. Pelari asal Inggris, Jake Catterall, sebelumnya menyelesaikan rute itu dalam 35 hari pada 2024.
Jika dilihat dari jarak total, Woods tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga menjaga keberlangsungan stamina selama lebih dari tiga pekan penuh. Dalam prosesnya, tantangan yang dihadapi datang dari cuaca ekstrem dan gangguan lingkungan yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi.
Gelombang panas, badai, hingga kebakaran hutan
Woods dan timnya harus menghadapi dua heatwave, badai, kerumunan horseflies, serta kebakaran hutan yang mengubah rencana perjalanan. Dalam salah satu dampak yang paling terlihat, ia mengalami detour yang menambah rute sebesar lima kilometer dan menambah 200 meter pendakian yang tergolong berbahaya.
Situasi kebakaran hutan juga disebut terjadi secara luas di sejumlah negara Eropa pada musim panas kali ini. Italia dilaporkan menempatkan hampir semua kota besar pada status siaga “red” untuk suhu tinggi pada Sabtu, sementara kebakaran di Prancis, Spanyol, dan Portugal memaksa lebih dari 300.000 orang untuk dievakuasi.
Woods menggambarkan kekhawatirannya soal risiko keselamatan saat berada di dekat titik-titik kebakaran. Ia mengatakan, “I’ve been close to wildfires before and they are terrifying. I didn’t want to put myself, my crew or anyone in danger by going through the fires,” Woods said.
Ia menambahkan bahwa rute sempat disusun dengan kerangka kasar, tetapi pelaksanaan di lapangan banyak berubah. Woods menyebut, “We had a rough plan of what it [the route] was going to look like, but there was quite a lot of winging it along the way. “All of our calculations were out. Every day was longer and higher than we had calculated.”
Dari sisi mental, penyesuaian kondisi cuaca dan pergeseran rute menjadi bagian dari tantangan utama. Woods juga menggambarkan momen-momen ketika ia meragukan kemampuan mencapai finis, meski ia tidak berniat berhenti.
Ia menuturkan, “There were a few points where I felt like I don’t know how I’m going to get to the finish of this,” she said. “I never wanted to stop but the enormity of the task was overwhelming at times.”
Meski menempatkan dirinya bukan sebagai yang tercepat di arena ultra-running, Woods menekankan kompetensinya dalam “hari-hari panjang” di pegunungan. Ia berkata, “I might not be the fastest person out there but I know how to do big, long days in the mountains and just keep moving when everything hurts.”
Berita Terkait
Fokus pada pemulihan dan strategi makan
Keberhasilan Woods juga dipengaruhi oleh cara ia mengatur kebutuhan energi selama fase lari. Dalam pengabdiannya pada rute yang panjang, ia mengandalkan asupan bahan bakar seperti McDonald’s, pasta, dan energy gels untuk menopang aktivitas lari harian sekitar 15 sampai 18 jam.
Selama perjalanan, Woods tidak berjalan sendirian. Ia disebut didukung oleh suaminya George, temannya Zoe, serta Nila—seekor anjing yang ikut dalam tim pendukung.
Di awal tantangan, kondisi tubuh dilaporkan belum stabil, dengan rasa sakit dan pembengkakan yang terasa. Woods menjelaskan, “The first week was horrendous – everything was swollen, everything was sore. I was sure I was going to pull 15 million muscles,” Woods said.
Perkembangan terasa mulai muncul pada minggu-minggu berikutnya. Ia menambahkan, “Week two wasn’t great either and then week three, I felt like I was getting fitter. “It was like I was eating mountains for breakfast.”
Selain soal fisik, ia juga menyoroti kelelahan yang menumpuk ketika mendekati akhir. Woods mengungkapkan perasaannya setelah menyelesaikan rute, “I am ecstatic but knackered,” Woods told BBC Sport.
Ia menambahkan bahwa dua hari terakhir menjadi fase dorongan yang dilakukan dengan tidur yang sangat terbatas. Woods berkata, “The last couple of days I did on one and a half to two and a half hours of sleep to really push at the end “That tipped me over the edge a little bit.”
Tanda penting bagi ultra-running putri
Catatan Woods juga dipandang memberi warna pada tahun yang disebut luar biasa bagi atlet putri di dunia ultra-running. Laporan menyebut Rachel Entrekin lebih dulu memenangkan Cocodona 250 pada bulan Mei dengan waktu rekor.
Di sisi lain, perjalanan Woods menuju tantangan ini juga terkait dengan proses panjang yang dialaminya. Setelah menjalani rangkaian perjuangan kesuburan, termasuk IVF, ia mengatakan ingin, “her life to look different”.
Setelah memutuskan ikut challenge Via Alpina, ia menyebut rekor berada dalam bidikan sejak awal. Woods menuturkan, “I didn’t want to be running for more than 30 days – 30 days is enough,” she said.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan dan kesiapan mental menjadi bekal, tetapi perjalanan tetap melampaui ekspektasinya. Ia berkata, “I knew that I was strong and capable. But this has taken it over and beyond that. “Ultra-running is about preparation, mental strength and being able to continue to persevere when things go wrong. “I think women are really good at adapting and continuing.”
Setelah lari selama 29 hari, dengan intensitas yang sangat besar—bahkan hingga sekitar 18 jam per hari—Woods menanggapi pertanyaan tentang apa yang akan ia lakukan setelahnya. Ia menyebut, “I intend to spend quite a lot of time on the couch and watch Netflix – and eat some vegetables,” she added.







