Olahraga

Commonwealth Games 2026: Inggris takluk dari Australia pada perebutan perunggu netball

×

Commonwealth Games 2026: Inggris takluk dari Australia pada perebutan perunggu netball

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: England beaten by Australia to netball bronze

jurnalistik.co.id – Tim netball Inggris harus mengakui keunggulan Australia pada perebutan medali perunggu Commonwealth Games 2026. Berlaga sebagai tim yang mengejar podium setelah kalah di semifinal, Inggris akhirnya tumbang 50-68 di pertandingan yang berlangsung penuh tempo dan kontras dengan dinamika perolehan angka yang sempat berubah cepat.

Ini merupakan ulangan perjalanan mereka menuju laga penentuan, setelah sehari sebelumnya Inggris mengalami kekalahan yang terasa menyakitkan dari Selandia Baru di babak semifinal. Namun, pada laga perunggu, tantangan yang mereka hadapi berbeda karakter: Australia, yang hadir sebagai peringkat satu dunia, tampil dengan konsistensi dan daya tekan yang mengubah ritme permainan sejak awal.

Australia sendiri datang dengan cerita yang lebih mengejutkan. Pada Sabtu sore, mereka tersentak oleh Jamaica—sebuah hasil besar yang membuat waktu pemulihan untuk pertandingan perebutan perunggu menjadi lebih pendek dibanding yang dimiliki Inggris. Menariknya, Australia tidak hanya tampil sebagai pesaing biasa, tetapi juga tim yang sebelumnya selalu berada di setiap final Commonwealth Games dan telah meraih turnamen itu sebanyak empat kali. Karena itu, kekalahan atau “kewajiban” untuk bermain di partai perunggu seperti tidak pernah benar-benar masuk dalam bayangan mereka.

Babak pertama: tekanan awal berujung perubahan arah

Penonton langsung merespons dengan antusias pada awal laga. Tekanan yang dibangun kapten Roses, Fran Williams, sempat membuat Australia kehilangan peluang awal: penembak mereka, Kiera Austin, gagal memasukkan satu tembakan saat kedudukan sempat sama kuat 5-5. Setelah momen itu, Liv Tchine hadir dengan ketepatan saat bola mengalir ke sisi yang tepat, sehingga membawa Australia unggul pada fase berikutnya.

Inggris kemudian memperkuat pertahanan mereka, berupaya menutup opsi operan ke depan milik Diamonds—julukan Australia. Dengan pendekatan ini, Inggris memaksa Australia bermain melebar dan bergerak dari sisi ke sisi. Akan tetapi, justru ketika pola tersebut terbaca, Australia menemukan momentumnya dan membuat perubahan paling menentukan: mereka mampu membalik ketertinggalan 7-9 menjadi keunggulan 19-11 dalam rentang tujuh menit yang “keras” di kuarter pertama.

Secara gambaran, pertandingan ini terasa seperti kelanjutan dari pola pertemuan mereka sebelumnya. Di fase penyisihan grup (pool stage), Inggris juga pernah kalah dari lawan yang sama dengan skor 66-47. Pada laga perunggu ini, meski Inggris lebih kompetitif pada sebagian momen, momentum Australia tetap lebih dominan terutama ketika pertandingan memasuki fase-fase kunci.

Kedua kuarter hingga setengah waktu: Australia menjaga jarak

Memasuki kuarter kedua, Anna Stembridge dan skuadnya menghadapi hambatan yang terlihat dari sisi ritme. Inggris sempat kehilangan dorongan, dan tanda-tanda kelelahan mulai muncul ketika mereka berhadapan dengan pasangan penembak yang sangat mapan di level dunia—Austin dan Sophie Garbin. Salah satu momen penting datang dari umpan longgar Williams, yang berujung bola jatuh langsung ke tangan Australia.

Dari kesalahan itu, Austin mampu menambah jarak dengan tenang hingga angka berubah menjadi 28-16. Sejak titik itu, Australia menjaga keunggulan mereka dengan stabil—tidak sekadar unggul, tetapi juga mampu mengatur tempo agar peluang Inggris tidak berkembang menjadi rangkaian tembakan yang mengubah skor secara cepat. Hasilnya, papan skor saat jeda menunjukkan Australia memimpin 35-24.

Kuarter ketiga dan akhir: perubahan strategi Inggris tidak cukup

Pada kuarter ketiga, Australia sudah memimpin dengan selisih 16 poin. Inggris kemudian melakukan keputusan taktis dengan mendatangkan Eleanor Cardwell untuk menggantikan Tchine. Perubahan ini memberikan efek awal yang berarti: Roses mencatat lima angka tanpa balas, membuat permainan mengecil namun tetap menempatkan Inggris dalam posisi mengejar.

Namun, meski sempat memperketat perbedaan, angka tetap berlari sesuai arah yang dikuasai Australia. Inggris sempat berada pada tren mengejar saat tertinggal 45-34, lalu 49-36 dengan sekitar 15 menit tersisa. Upaya tersebut menunjukkan keberanian Inggris untuk merespons, tetapi Australia tetap mampu mempertahankan kontrol atas momen-momen kritis menjelang akhir.

Pada akhirnya, Australia menutup laga dengan kemenangan 68-50. Selisih yang diraih memang lebih kecil dibanding pertemuan pool stage mereka—Inggris kalah dengan margin 18 poin pada pertandingan perunggu ini, sedangkan pada pool stage mereka menelan kekalahan dengan margin 19 poin. Artinya, Inggris masih memberi perlawanan yang lebih rapat ketimbang sebelumnya, tetapi tetap belum cukup untuk menahan laju Diamonds.

Bagi Australia, medali perunggu bukan “warna” yang selama ini mereka bayangkan akan diperebutkan. Tetapi jika dilihat dari cara mereka bermain, yang tampak justru adalah respons profesionalitas: mereka memanfaatkan momentum setelah kejutan atas diri mereka di laga sebelumnya, lalu memastikan bahwa kualitas tim tetap menjadi penentu. Stacey Marinkovich dan jajaran Diamonds tampil sebagai paket yang matang—dengan ritme, ketahanan, dan eksekusi tembakan yang membuat Inggris kembali harus menerima hasil yang sama: datang dekat podium, namun tetap kalah dari tim yang berada di kelasnya.

Jamaika ke laga emas bersama Selandia Baru

Setelah perebutan perunggu ini, perhatian beralih ke laga penentuan medali emas. Jamaica—yang belum pernah memenangi emas netball pada Commonwealth Games—akan menghadapi Selandia Baru pada pertandingan final yang digelar Minggu sore pukul 13:00. Selandia Baru hadir sebagai juara dua kali, sehingga laga emas berikutnya diprediksi akan lebih ketat dan sarat cerita.