jurnalistik.co.id – Penelitian sains dari Prancis mengungkap bahwa keanekaragaman kicau burung di seluruh dunia dapat dipetakan lewat sejumlah “bahan dasar” yang seragam.
Temuan ini menunjukkan bahwa kicauan tidak sekadar terdengar berbeda-beda, melainkan tersusun dari pola suara yang dapat dikenali secara konsisten lintas wilayah.
Para peneliti menyatakan mereka menemukan “kesederhanaan yang mendasari keanekaragaman luar biasa” pada birdsong.
Studi tersebut menganalisis lebih dari 100.000 burung penyanyi (songbirds) dan menemukan bahwa kicauan global dapat dibangun dari delapan tipe dasar suara yang peneliti sebut “motifs”.
Dalam penjelasan mereka, birdsong di berbagai belahan dunia tersusun dari kombinasi motif-motif tersebut.
Lebih spesifik, para peneliti menyebut ada tiga tipe trill, tiga tipe whistle, serta catatan-catatan yang bersifat kacau dan harmoninya.
Dengan kata lain, variasi yang terdengar “luar biasa” ternyata dapat diringkas menjadi sejumlah komponen yang dipakai berulang.
Birdsong sendiri merupakan bentuk komunikasi berbasis suara yang kompleks di alam. Variasi dan kerumitannya lama menarik perhatian ahli biologi, tetapi mempelajarinya pada skala global selama ini sulit dilakukan.
Kesulitan itu muncul karena begitu banyak jenis lagu dengan karakter yang berbeda-beda. Meski begitu, tim riset kini mencoba memotret hubungan antar lagu melalui pendekatan yang memungkinkan analisis lintas ekosistem.
Sebagai pemimpin riset, Quentin Bacquelé—mahasiswa doktoral di University of Saint-Étienne—menekankan besarnya perbedaan yang bisa terdengar dari satu wilayah ke wilayah lain.
Ia mengatakan: “The diversity is huge. And if you go to Asia, Africa, Amazonia, you will hear totally different songs.”
Dalam studi terbaru, Bacquelé bersama koleganya menggunakan basis data global birdsong yang dibangun dari rekaman-rekaman yang diunggah oleh ribuan relawan.
Dengan basis data itu, para peneliti mampu menganalisis sekitar 116.000 lagu dari lebih dari 3.000 spesies birdsong.
Mereka kemudian meneliti pola dalam lagu: bagaimana setiap kicau bergeser dan berubah dari waktu ke waktu.
Setelah pola-pola itu dibaca, bantuan kecerdasan buatan (AI) dipakai untuk membandingkan ribuan rekaman guna menemukan apa yang sebenarnya saling terhubung di antara berbagai lagu.
“Pola terhubung” inilah yang pada akhirnya mengarah pada gagasan bahwa kicauan burung dapat dipahami lewat perangkat motif yang terbatas.
Berita Terkait
Hasil utama lain yang disoroti tim riset adalah pengaruh lingkungan tempat burung berkembang. Menurut mereka, lingkungan tempat burung berevolusi—mulai dari hutan tropis hingga bentang lahan beriklim sedang—membentuk cara burung “menyusun” kicauannya.
Para peneliti menjelaskan bahwa burung yang beradaptasi di hutan tropis menggunakan perangkat suara yang berbeda, atau motif yang berbeda, dibandingkan burung dari wilayah beriklim sedang.
Mereka juga menilai jenis motif tertentu cenderung muncul lebih sering pada lingkungan tertentu.
Motif yang lebih sederhana, misalnya whistle yang terdengar datar, lebih sering ditemukan di lingkungan tropis. Bacquelé mengaitkannya dengan kebutuhan agar burung dapat lebih terdengar di tengah lanskap suara yang ramai dan vegetasi yang padat.
Sebaliknya, komposisi yang lebih rumit—dengan trill yang sangat cepat (ultrafast trills) serta kombinasi yang memuat banyak informasi—lebih umum pada hutan beriklim sedang.
Dalam konteks ini, para peneliti menjelaskan bahwa komunikasi di wilayah beriklim sedang cenderung terjadi pada jarak yang lebih dekat.
Tim riset juga menggambarkan hubungan tersebut sebagai semacam pertukaran evolusioner: lagu yang sangat kompleks menawarkan banyak informasi, tetapi sulit menyalurkan informasi itu pada jarak jauh, terutama dalam lingkungan yang kompleks.
Lingkungan dan kebisingan baru akibat aktivitas manusia
Bacquelé menambahkan bahwa hubungan antara lingkungan dan lanskap suara alaminya kini sedang berubah akibat aktivitas manusia.
Ia mengatakan: “I think this research has opened up a new way to see songs as something [intrinsically] linked with the environment,” he told BBC News.
Ia melanjutkan: “So, we could try to use these motifs to help us understand how birds could adapt to the new background noise [that we produce].”
Pandangan ini menempatkan motif sebagai jembatan untuk memahami bagaimana burung dapat menyesuaikan diri terhadap kebisingan latar yang ditimbulkan manusia.
Bagi Bacquelé, suara alami juga memiliki arti penting bagi hubungan manusia dengan alam. Ia menyebut bahwa konservasi suara alami layak dilakukan.
Ia menegaskan: “If you think of a forest, near your town or near your house, you think about the songs of the birds in the morning when you go outside.”
Ia menambahkan: “And if a bird in a forest has a specific song, if you destroy the forest, then that song may not be adapted any more to the new environment.”
Dengan demikian, studi ini tidak hanya menawarkan kerangka memahami birdsong, tetapi juga membuka cara pandang mengenai dampak perubahan lingkungan terhadap cara burung “membangun” kicauannya.
Penelitian tersebut diterbitkan di jurnal Science.









