jurnalistik.co.id – Di pesisir Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, suasana sore pada Rabu (22/7/2026) terasa tenang saat angin laut berembus pelan di antara tanggul dan kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar.
Tepat di tepi laut, berdiri sebuah pondok terbuka berbahan bambu dengan atap spandek—bangunan sederhana yang menjadi titik singgah anak-anak pesisir setelah aktivitas mereka selesai.
Satu per satu mereka menuruni tangga dari pondok tersebut sambil membawa buku, sementara sebagian lain melanjutkan merapikan perlengkapan kegiatan. Di sudut yang difungsikan sebagai perpustakaan, meja lipat dan koleksi bacaan disusun kembali agar siap dipakai pada pertemuan berikutnya.
Di balik aktivitas itu ada sosok Asep Maulana, yang akrab disapa Aceng Gimbal. Ia dikenal sebagai penggagas Taman Anak Pesisir, ruang belajar gratis yang dibangun dari pengalaman pribadinya saat harus berhenti sekolah karena kondisi ekonomi.
Pengalaman berhenti sekolah karena kemiskinan
Aceng menceritakan bahwa ia tumbuh di keluarga yang tidak mampu, sehingga biaya pendidikan menjadi beban besar sejak ia masih berada pada jenjang sekolah menengah pertama. Ia menekankan bahwa keputusan untuk putus sekolah muncul bukan karena kurangnya keinginan, melainkan karena keterbatasan yang ia rasakan langsung.
“Jadi cukup gua aja yang putus sekolah. Gua adalah salah satu anak yang korban putus sekolah. Zaman di era 90-an, biaya lumayan gede, mahal kan. Gua putus sekolah karena gua terlahir dari keluarga miskin, keluarga yang enggak mampu,” ujarnya kepada Kompas.com, pada Rabu.
Menurut Aceng, ia pernah mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesantren. Namun, saat biaya pendidikan kembali menuntut pembayaran yang tidak bisa dipenuhi, ia memilih mundur dari proses belajar yang sedang ia jalani.
Berita Terkait
“Gua kan mondok pada waktu itu, di kelas 3, caturwulan ketiga di pondok pesantren, gua kabur. Karena malu, anak usia SMP gua, dipanggil TU untuk bayar gedung lah, bayar SPP lah, kabur gua,” lanjutnya.
Bagi Aceng, berhenti sekolah membuat jalan hidupnya berubah. Setelah itu, ia belajar sambil menjalani rutinitas harian di jalan—sebuah fase yang membentuk cara pandangnya tentang masa depan anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir.
Dari pengalaman jalanan ke ruang belajar bersama
Pengalaman sebagai seniman jalanan menjadi modal tersendiri bagi Aceng ketika ia mulai mendekati anak-anak di sekelilingnya. Ia aktif mengajak mereka yang selesai mengamen untuk mengikuti kegiatan mengaji, bermain teater, hingga berkarya dalam berbagai aktivitas yang ia rintis.
Dari kegiatan-kegiatan yang awalnya tumbuh secara sederhana itu, Aceng kemudian mengarah pada gagasan yang lebih terstruktur: Taman Anak Pesisir. Tujuannya jelas, agar anak-anak di wilayah pesisir Jakarta Utara tidak mengulang nasib yang pernah ia alami.
Dalam pengaturan aktivitas di pondok pesisir Kalibaru, suasana belajar tampak berbaur dengan kerja kolektif setelah kegiatan berlangsung. Anak-anak tetap hadir untuk merapikan karpet dan banner, sementara sebagian yang lain menata buku dan meja lipat sebagai bentuk kerapian bersama sebelum kembali ke rutinitas.
Bagi Aceng, ruang seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan upaya menjaga agar kesempatan belajar tetap terbuka. Ia memposisikan pengalaman pahitnya sebagai alasan untuk menguatkan harapan pada anak-anak yang kemungkinan besar menghadapi hambatan serupa, terutama saat biaya pendidikan menjadi titik yang menahan mereka melangkah.
Melalui pondok bambu yang berdiri di pinggir laut itu, Taman Anak Pesisir menghadirkan ruang bagi anak-anak pesisir untuk membaca, belajar, dan mengembangkan diri tanpa harus merasakan putus sekolah sebagai satu-satunya pilihan. Harapan Aceng berangkat dari keyakinan bahwa masa depan anak-anak dapat ditopang lewat ruang yang dekat, membumi, dan bisa diakses kapan pun kebutuhan mereka muncul.
Dengan semangat yang sama, pada Rabu sore itu terlihat bagaimana kegiatan berjalan berulang, dari kebiasaan membawa buku, merapikan peralatan, hingga menata perpustakaan mini. Di tengah suara lalu-lalang kendaraan menuju terminal, pondok sederhana tersebut tetap menjadi tempat yang memberi arti pada waktu belajar anak-anak pesisir.












