Otomotif

Tekanan Angin Ban Mobil Listrik Jangan Asal: Bisa Picu Radial Crack

×

Tekanan Angin Ban Mobil Listrik Jangan Asal: Bisa Picu Radial Crack

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Salah Tekanan Ban Mobil Listrik Bisa Sebabkan Radial Crack

jurnalistik.co.id – Mobil listrik umumnya memerlukan tekanan angin ban lebih tinggi dibanding mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Ketika tekanan tidak sesuai, salah satu risiko yang bisa muncul adalah retak pada dinding ban yang dikenal sebagai radial crack.

Penentuan tekanan ban pada kendaraan listrik bukan sekadar rekomendasi teknis. Hal ini berkaitan dengan karakter mobil listrik yang memiliki bobot lebih besar serta torsi instan saat mulai bergerak maupun saat menambah kecepatan.

Di Proving Ground Gajah Tunggal, Karawang, Jawa Barat, Asep Faisal selaku Dep. Head Business Sales Support PT Gajah Tunggal Tbk menjelaskan bahwa kebutuhan tekanan ban yang lebih tinggi muncul karena kombinasi beban dan cara kerja penggerak pada kendaraan listrik.

Beban dan torsi instan membuat ban bekerja lebih berat

Menurut Asep, “Karena dia kan juga lebih berat (baterainya besar). Selain itu, mobil listrik juga memiliki torsi yang tinggi (high torsion),” ujar Asep saat ditemui wartawan. Dengan bobot yang lebih besar, ban harus menopang beban kendaraan secara lebih berat setiap waktu, termasuk pada fase saat mobil mulai bergerak.

Asep menambahkan bahwa torsi instan dari motor listrik membuat gaya yang bekerja pada ban terjadi lebih cepat dibanding karakter pada sistem penggerak konvensional. Saat kendaraan mulai bergerak dari kondisi diam, ban menerima kombinasi beban dan gaya puntir yang lebih menuntut.

Dalam situasi seperti itu, tekanan angin yang tepat berperan untuk menjaga struktur ban agar mampu menahan beban serta deformasi yang terjadi akibat gaya puntir. Karena itu, tekanan ban tidak boleh diabaikan karena berhubungan langsung dengan keselamatan, kenyamanan, dan usia pakai ban.

Tekanan terlalu rendah dapat memicu retak di dinding ban

Asep menegaskan bahwa penggunaan ban yang tidak sesuai spesifikasi, termasuk ketika tekanan angin terlalu rendah, dapat memicu kerusakan pada area dinding ban. Ia menyebut, “Kalau dia pakai ban yang tidak sesuai, salah satu dampaknya biasanya adalah munculnya retak-retak pada dinding ban,” kata Asep.

Penjelasannya berangkat dari perilaku ban ketika menerima torsi besar. Ketika ban mulai berputar dari kondisi diam, dinding ban cenderung menjadi lebih fleksibel jika tekanannya tidak sesuai, sehingga deformasi yang terjadi saat menerima beban menjadi lebih besar.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu tertentu, deformasi berulang itu dapat berkembang menjadi retakan pada struktur dinding ban. “Retaknya ada di dinding ban, kita biasa bilangnya radial crack,” ujarnya.

Dengan kata lain, masalah bukan hanya soal ketahanan sesaat, melainkan juga akumulasi kerja ban yang tidak ideal dari waktu ke waktu. Karena radial crack berkaitan dengan retak pada dinding ban, maka pemilik kendaraan perlu memperhatikan tekanan angin sebagai bagian dari perawatan rutin.

Selain tekanan angin, Asep juga mengingatkan pemilik mobil listrik agar tidak sembarangan memilih ban pengganti. Pada konteks penggantian ban, salah satu aspek penting yang harus dipertimbangkan adalah load index atau indeks beban ban.

Load index menggambarkan kemampuan maksimum ban dalam menopang beban kendaraan. Bila pengguna memilih ban dengan load index yang lebih rendah dari spesifikasi pabrikan, maka risiko kerusakan ban akan meningkat.

Asep menuturkan, “Jadi, ini ada hubungannya dengan kekuatan ban menahan beban itu. Makanya, jangan sampai ban yang digunakan di bawah dari load index ban standarnya,” kata Asep.

Komitmen pada kesesuaian spesifikasi ini menjadi semakin relevan seiring bertambahnya model kendaraan listrik di Indonesia. PT Honda Prospect Motor (HPM) sendiri akan memperkenalkan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) terbaru, Honda Super One, pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Bagi pemilik maupun calon pengguna mobil listrik, pesan utama dari Asep cukup jelas: tekanan angin harus mengikuti rekomendasi yang sesuai karakter kendaraan, sedangkan ban pengganti perlu disesuaikan dengan spesifikasi termasuk load index. Dengan begitu, ban dapat bekerja dalam batas desainnya sehingga risiko kerusakan seperti radial crack dapat diminimalkan.