jurnalistik.co.id – Musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan lebih panjang membuat mesin kendaraan bekerja dalam kondisi yang lebih panas dari biasanya. Dalam situasi seperti ini, kebiasaan mengulur waktu ganti oli sering dianggap cara cepat untuk menekan pengeluaran.
Namun, pertimbangan biaya yang terlihat “hemat” di awal berpotensi berubah menjadi pengeluaran jauh lebih besar ketika pelumasan tidak lagi bekerja optimal. Oli yang sudah melewati masa pakainya bisa kehilangan kemampuan melindungi komponen mesin.
Senior Analyst PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, Mulianto, menilai pemilik kendaraan perlu memperhatikan jadwal penggantian oli, terutama saat musim kemarau. Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan ikut memengaruhi temperatur kerja mesin.
“Suhu lingkungan yang tinggi membuat temperatur kerja mesin ikut meningkat,” ujar Mulianto dalam keterangan resmi yang disampaikan Jumat (24/7/2026). Di bawah temperatur yang lebih tinggi, oli tidak hanya berperan sebagai pelumas, tetapi juga ikut menjaga agar komponen mesin tetap terlindungi selama proses kerja berlangsung.
Mulianto menambahkan bahwa kondisi panas mempercepat degradasi oli. “Akibatnya, oli lebih cepat teroksidasi sehingga kemampuan melumasi dan melindungi komponen mesin menurun,” katanya.
Ketika oli tetap digunakan melewati masa pakainya, risiko keausan meningkat. “Jika tetap digunakan melewati masa pakainya, risiko keausan komponen meningkat,” lanjut Mulianto.
Di saat yang sama, prediksi BMKG menyebut musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang, dengan puncaknya terjadi pada Juli hingga September. Pada sejumlah wilayah, suhu udara bahkan diperkirakan melampaui 35 derajat Celcius.
Dengan kondisi tersebut, menunda ganti oli tidak lagi sekadar urusan jadwal servis. Mesin yang lebih sering berada pada temperatur kerja tinggi akan membuat oli bekerja lebih berat untuk menjalankan fungsinya.
Pertamina Lubricants juga mengumumkan peluncuran Enduro Service, yaitu layanan bengkel yang berlokasi di area Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU). Layanan tersebut hadir sebagai respons terhadap kebutuhan perawatan saat aktivitas berkendara kerap berlangsung di kondisi panas.
Penjelasan mengenai temperatur kerja yang meningkat menjadi salah satu alasan utama mengapa oli dapat lebih cepat teroksidasi. Bila kemampuan pelumasan menurun, perlindungan pada komponen mesin tidak lagi berada pada tingkat yang sama seperti saat oli masih dalam masa pakainya.
Selain faktor panas, cara menentukan waktu ganti oli juga sering menjadi sumber masalah. Menurut Mulianto, masih banyak pemilik kendaraan yang menjadikan jarak tempuh sebagai satu-satunya acuan untuk mengganti oli.
Berita Terkait
Padahal, tidak semua penggunaan kendaraan memiliki pola yang sama. Kendaraan yang lebih sering dipakai dalam lalu lintas padat atau situasi stop-and-go membuat mesin menjalankan proses kerja pada temperatur lebih tinggi dalam periode yang lebih sering.
Dalam kondisi lalu lintas seperti itu, mesin tidak berjalan stabil pada ritme normal. Karena itulah, kualitas oli dapat menurun lebih cepat dibandingkan penggunaan yang lebih lancar.
Mulianto menekankan bahwa selain memperhatikan jarak tempuh, pemilik kendaraan perlu mempertimbangkan pola penggunaan serta kondisi operasional. Lamanya oli digunakan juga perlu diperhitungkan agar perlindungan terhadap mesin tetap optimal.
Dengan pendekatan tersebut, pemilik kendaraan tidak hanya melihat angka odometer, tetapi juga memahami konteks pemakaian harian. Tujuannya sederhana: memastikan oli masih berada pada performa yang layak untuk melumasi dan melindungi komponen mesin.
Upaya menjaga kondisi mesin juga tidak selalu harus berujung biaya besar. Menghemat biaya perawatan, menurut gagasan yang sama, bukan berarti menunda penggantian oli sampai batas yang keliru.
Untuk menekan risiko dalam jangka panjang, salah satu langkah yang disoroti adalah menghindari kebiasaan mengemudi dengan putaran mesin (RPM) tinggi secara terus-menerus. Saat mesin bekerja pada putaran tinggi, suhu dan beban mesin meningkat.
Dalam kondisi tersebut, oli harus bekerja lebih keras untuk melumasi sekaligus membantu menjaga temperatur mesin. Konsekuensinya, proses oksidasi dan penguapan oli berlangsung lebih cepat.
Ketika oksidasi serta penguapan berjalan lebih cepat, viskositas oli dapat menurun sebelum masa pakainya berakhir. Artinya, walaupun jadwal ganti oli belum “terlewati” menurut hitungan pemilik, kemampuan oli untuk melindungi komponen mesin bisa sudah menurun lebih awal.
Pola berkendara yang memaksa mesin terus berada pada RPM tinggi membuat oli mengalami tekanan kerja yang tidak sama dengan pemakaian yang lebih tenang. Karena itu, pengendara perlu menyelaraskan kebiasaan harian dengan kebutuhan oli agar mesin tidak menerima beban perlindungan yang semakin menipis.
Secara keseluruhan, pesan utama tetap sama: musim kemarau meningkatkan temperatur kerja mesin, mempercepat degradasi oli, dan pada akhirnya meningkatkan risiko keausan bila penggantian diundur. Menunda ganti oli mungkin terasa sebagai penghematan di awal, tetapi risiko kerusakan yang menyusul dapat membuat biaya servis membengkak.
Bagi pemilik kendaraan, cara terbaik adalah memadukan kepatuhan pada jadwal penggantian oli dengan pemahaman terhadap kondisi penggunaan. Lalu lintas padat, stop-and-go, temperatur tinggi, serta kebiasaan mempertahankan RPM tinggi secara terus-menerus adalah faktor yang dapat mempercepat penurunan performa oli.
Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, perawatan dapat dilakukan lebih tepat sasaran. Keputusan untuk mengganti oli tidak lagi sekadar soal “kapan”, tetapi tentang menjaga fungsi pelumasan agar mesin tetap terlindungi selama masa pakainya.












