Teknologi

12 Agustus: Ilmuwan Menyelidiki Misteri Korona Saat Gerhana Matahari

×

12 Agustus: Ilmuwan Menyelidiki Misteri Korona Saat Gerhana Matahari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ilmuwan Memburu Misteri Korona di Gerhana Matahari 12 Agustus - Teknologi

jurnalistik.co.id – Fenomena gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 dipandang sebagai laboratorium alam yang jarang terjadi. Gerhana itu direncanakan melintasi Greenland, Islandia, Spanyol, Portugal, hingga Rusia, sehingga perhatian ilmuwan bisa tertuju pada momen ketika pengamatan korona menjadi jauh lebih terbuka.

Bagi publik, gerhana total adalah peristiwa langit yang memikat. Namun di mata peneliti, jalannya Bulan saat menutup seluruh piringan Matahari memberi peluang untuk mengkaji bagian atmosfer terluar Matahari yang selama ini sulit teramati.

Korona tampak lebih jelas saat piringan Matahari tertutup

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebut bahwa gerhana Matahari total memungkinkan korona terlihat jelas. Kondisi itu terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, sebagaimana dikutip Kamis (6/8/2026).

Dalam pengamatan sehari-hari, cahaya dari fotosfer Matahari terlalu terang sehingga korona tertutupi dan nyaris tidak menonjol. Karena itu, gerhana total sering diposisikan sebagai salah satu waktu terbaik untuk menyingkap detail struktur, dinamika, hingga medan magnet yang terkait dengan korona.

Teka-teki suhu: mengapa korona bisa jauh lebih panas?

Gerhana Matahari Total dinilai penting untuk menjawab salah satu teka-teki besar dalam fisika Matahari, yakni perbedaan ekstrem suhu. Korona disebut memiliki kisaran sekitar 1 juta hingga 3 juta derajat Celcius, sementara permukaan Matahari hanya sekitar 5.500 derajat Celcius.

Selisih suhu sebesar itu masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terpecahkan. Para peneliti terus menelusuri bagaimana energi bisa beralih dan berubah bentuk hingga mencapai kondisi yang membuat atmosfer terluar Matahari terasa jauh lebih panas dibanding bagian yang terlihat langsung oleh pengamatan biasa.

Hipotesis yang sedang diuji

Sejumlah kemungkinan penyebab masih menjadi fokus riset para ilmuwan. Salah satu yang dibahas adalah rekoneksi medan magnet, yaitu proses yang memungkinkan perubahan konfigurasi medan magnet dan memicu pelepasan energi.

Selain itu, riset juga menyinggung peran gelombang magnetohidrodinamika (MHD). Dalam kerangka ini, gelombang yang terkait dinamika fluida bermuatan dapat membawa energi menuju lapisan luar atmosfer Matahari, sehingga mendorong peningkatan temperatur di wilayah korona.

Dengan memanfaatkan momen gerhana total, pengamatan langsung diharapkan membantu peneliti menguji apakah mekanisme-mekanisme tersebut benar-benar berkontribusi pada pemanasan korona. Upaya ini selaras dengan kebutuhan untuk memetakan hubungan antara medan magnet, dinamika plasma, dan perubahan yang terjadi pada saat Matahari “dilihat” tanpa dominasi cahaya fotosfer.

Karena itu, peristiwa pada 12 Agustus 2026 tidak hanya menarik sebagai tontonan astronomi. Bagi komunitas sains, gerhana total menjadi kesempatan untuk memperjelas data yang dapat mempersempit ruang jawaban atas pertanyaan tentang mengapa korona sanggup mencapai suhu jutaan derajat Celcius, jauh melampaui permukaan Matahari.

Saat fase total berlangsung, perhatian bergeser pada kontras antara bagian yang biasanya tertutup oleh silau fotosfer dan wilayah korona yang selama ini samar. Dengan piringan Matahari yang tertutup penuh, pengamat memperoleh ruang untuk menilai bagaimana bentuk dan kilau korona merespons perubahan kondisi di sekitar atmosfer terluarnya.

Kerangka risetnya juga menempatkan korona sebagai jendela untuk memahami perubahan medan magnet. Bila rekoneksi medan magnet benar-benar menjadi pemicu utama, maka tanda-tanda pergeseran konfigurasi medan yang terkait dengan pelepasan energi semestinya dapat terlihat dari pola pengamatan yang muncul selama gerhana total.

Di sisi lain, gagasan gelombang magnetohidrodinamika (MHD) memberikan penjelasan tentang cara energi dapat ditransfer menuju lapisan luar. Dengan mengamati korona pada momen ketika cahaya fotosfer tidak lagi mendominasi, peneliti dapat membandingkan bagaimana dinamika plasma dan transport energi yang dibawa gelombang MHD terhubung dengan peningkatan temperatur yang selama ini hanya dibaca melalui perbedaan ekstrem suhu.