jurnalistik.co.id – Pemerintah sedang menyiapkan pusat keuangan internasional (international financial centre/IFC) di Jakarta dengan mengacu pada model Dubai International Financial Centre. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pengembangannya dimulai dari Jakarta terlebih dulu, kemudian menyusul Bali.
Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam sesi tanya jawab bersama moderator mengenai upaya meningkatkan level Jakarta menjadi kota global. Acara tersebut berlangsung di Kearney 100 Years of Impact bertema “Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together” di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Model Dubai dan arahan presiden
Airlangga mengatakan pemerintah pusat mendorong pembentukan IFC dan saat ini masih mempelajari pola yang diterapkan di Dubai. Menurutnya, skema itu juga menjadi bagian dari arahan presiden terkait urutan pengembangan.
Dalam paparannya, Airlangga menyatakan pemerintah “sedang kita pelajari ini, mengopi di Dubai FC” dengan arahan presiden, “pertama nanti di Jakarta dulu, baru di Bali.” Ia juga menilai Jakarta dari sisi kesan sebenarnya sudah berada pada jalur yang cukup baik sebagai kota global.
Meski demikian, Airlangga menegaskan masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibereskan. Fokusnya mencakup kesiapan infrastruktur regulasi, aturan turunan, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Kedap celah investasi dan kesiapan aturan
Airlangga menyebut salah satu perubahan yang dipelajari pemerintah adalah mekanisme penyelesaian sengketa atau dispute settlement yang kini terdiri dari dua tingkat (two tier). Ia menilai rancangan tersebut sudah “water tight” atau kedap celah bagi investasi internasional.
“Ini sudah water tight untuk international Investment,” tegas Airlangga. Ia menggambarkan bahwa timing langkah tersebut juga dinilai tepat, termasuk dengan mempertimbangkan kekhawatiran pelaku usaha terhadap situasi di Timur Tengah.
Berita Terkait
Bagi Indonesia, Airlangga menekankan perlunya mempelajari ilmu yang dibutuhkan untuk menarik pusat keuangan seperti Dubai. Penyiapan tersebut tidak hanya berbicara pada desain kelembagaan, tetapi juga pada perangkat aturan dan kapasitas pelaksanaannya.
Infrastruktur, regulasi, dan konektivitas
Menurut Airlangga, keberhasilan IFC sangat bergantung pada konektivitas. Ia menilai waktu tempuh yang singkat menjadi faktor penting selama transportasi, karena koneksi yang cepat akan mempermudah mobilitas pelaku bisnis dan aktivitas layanan.
Airlangga juga mengapresiasi Pemprov DKI yang dinilai sudah berada di jalur yang tepat. Ia menyebut khususnya rencana transportasi perkotaan seperti MRT dan LRT yang seluruhnya berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dari Kemenko Perekonomian.
Selain itu, ia menyinggung rencana perpanjangan LRT hingga Manggarai serta integrasi moda di Dukuh Atas. Kawasan tersebut, menurut Airlangga, akan memiliki dua terminal LRT, MRT, dan kereta api sehingga konektivitas lintas moda dapat berjalan lebih terpadu.
Di luar aspek transportasi, Airlangga menegaskan Jakarta masih perlu menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah lain. Ia menyebut tantangan seperti sampah dan banjir yang harus dibenahi, bersamaan dengan upaya memperkuat sektor jasa, ekonomi digital, serta pusat kecerdasan buatan (AI).
Melalui kombinasi infrastruktur, regulasi, serta kesiapan sumber daya manusia, Airlangga berharap Jakarta dapat semakin siap menyandang status kota global. Ia menempatkan konektivitas dan kesiapan sistem sebagai kunci agar rencana pusat keuangan dapat menarik investasi dan berkelanjutan.
Di sisi tata kelola, Airlangga menekankan bahwa pembelajaran dari model Dubai tidak berhenti pada bentuk kelembagaan, tetapi juga mencakup kesiapan implementasi di lapangan. Pemerintah perlu memastikan aturan turunan berjalan konsisten, sekaligus meningkatkan kapasitas lembaga yang akan menjalankan kebijakan tersebut agar investor memperoleh kepastian yang utuh.
Airlangga juga mengaitkan kesiapan IFC dengan kenyamanan mobilitas perkotaan. Dengan skema transportasi seperti MRT dan LRT yang menjadi Proyek Strategis Nasional, serta rencana pengembangan hingga Manggarai dan pengintegrasian di Dukuh Atas, aktivitas bisnis dan layanan dapat bergerak lebih efisien, sehingga ekosistem kota global makin saling terhubung.
Sementara penguatan kerangka investasi terus dipersiapkan, pemerintah menilai Jakarta juga perlu menyelesaikan persoalan kualitas lingkungan seperti sampah dan banjir. Perbaikan dasar tersebut, ditambah dorongan pada sektor jasa, ekonomi digital, serta pengembangan pusat kecerdasan buatan (AI), diharapkan ikut memperkuat daya tarik Jakarta sebagai kota global yang siap berkembang.












