jurnalistik.co.id – Chris Rokos, salah satu miliarder dengan reputasi sebagai pembayar pajak terbesar di Inggris, dikabarkan akan meninggalkan negara itu dan menetapkan langkah ke Yunani. Berdasarkan informasi yang dihimpun BBC, ia berencana membuka kantor di Athena.
Laporan itu menyebut bahwa keputusan Rokos dipengaruhi skema pajak di Yunani yang dinilai lebih menguntungkan bagi warga asing berpenghasilan dari luar negeri. Negara tersebut memberi aturan pajak yang relatif “dermawan” bagi kalangan kaya yang memenuhi syarat tertentu.
Dalam catatan yang dirujuk dari laporan media, Rokos tercatat berada di peringkat ketiga dalam daftar pembayar pajak teratas Inggris versi The Sunday Times. Ia disebut telah membayar pajak sebesar ÂŁ330 juta pada tahun lalu.
Selain statusnya sebagai pembayar pajak kelas atas, Rokos juga pernah mengumumkan niat donasi besar. Pada bulan Maret, ia menyatakan akan menyerahkan dana sebesar ÂŁ190 juta kepada University of Cambridge.
Sampai saat ini, belum diketahui alasan spesifik yang membuat Rokos memilih keluar dari Inggris. BBC menyebut perwakilannya menolak memberikan komentar terkait rencana tersebut.
Pihak pemerintah menanggapi isu ini dengan menyatakan sikap yang menekankan daya tarik investasi. Seorang juru bicara pemerintah menyampaikan, “The UK remains an attractive destination for talent and investment”. Ia menambahkan, “The chancellor has made wealth creation one of his top priorities,” serta menyebut bahwa Inggris memiliki sistem pajak yang “competitive and stable tax system, deep capital markets, world-class universities and a highly skilled workforce”.
Rokos mengambil keputusan ini di tengah perdebatan yang lebih luas tentang perpindahan pembayar pajak sangat kaya. Dan Neidle, pendiri Tax Policy Associates, menilai potensi hilangnya penerimaan pajak dari Inggris bukan jumlah yang kecil. Ia mengatakan, “quite a lot of money” ketika membahas angka £330 juta yang berpotensi tidak masuk.
Menurut Neidle, jumlah tersebut “It is enough to fund 4,500 teachers… we have entire taxes that raise less than ÂŁ330m.” Ia juga menambahkan bahwa skema pajak di Yunani akan membuat dampaknya di Inggris makin terasa, dengan pernyataan: “He will probably pay almost nothing in Greece, and we can’t compete with that,”.
Berita Terkait
Namun, Neidle menekankan bahwa persoalan ini tetap tidak sederhana. Ia menyatakan, “no easy answers and no good statistics” mengenai skala perpindahan wajib pajak ultra-kaya dari Inggris. Meski Treasury disebut memiliki estimasi jumlah individu kaya yang pergi, ia menilai tidak ada data yang benar-benar memadai untuk menggambarkan kerugian pendapatan secara presisi.
Neidle menjelaskan, “We have lots of anecdotes… what we don’t really have is data,”. Karena itu, ia berpendapat pemerintah perlu menghadirkan kepastian untuk para wajib pajak kaya yang tinggal di Inggris. Ia mengaitkannya dengan perubahan kebijakan yang cepat dan adanya laporan tentang kemungkinan kebijakan pajak kekayaan.
Dalam penilaiannya, Neidle mengusulkan langkah yang lebih stabil, dengan mengatakan, “give certainty” dan kemudian menegaskan, “Stop rumours, stop tinkering”.
Pergerakan Rokos juga muncul menjelang anggaran pertama Kanselir John Healey pada 28 Oktober. BBC melaporkan bahwa dalam wawancara pada hari Senin, Healey tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan pajak dalam budget tersebut, terutama ketika biaya pinjaman pemerintah meningkat dan menambah tekanan terhadap keuangan publik.
Healey sendiri tidak memberikan detail mengenai keputusan perpajakan. Ia menyatakan hanya berkomitmen untuk “balance the books” dan “control public spending”.
Terlepas dari keputusan untuk meninggalkan Inggris, kiprah Rokos di bidang filantropi telah menjadi sorotan. Cambridge University menyebut pada bulan Maret bahwa dana dari Rokos akan menjadi “the largest single donation made to a British university in modern times”. Penggunaan dana itu diarahkan untuk membangun sebuah school of government di Cambridge yang akan dinamai sesuai namanya, dengan tujuan menyiapkan para pemimpin masa depan.
Rencana pembukaan sekolah tersebut dijadwalkan berlangsung pada musim gugur. Sementara itu, latar pendidikan Rokos juga ikut menegaskan kedekatannya dengan tradisi akademik Inggris. Rokos merupakan lulusan Oxford, dengan studi matematika di Pembroke College.
Dalam rekam jejak pendidikannya, ia pernah bersekolah di sekolah dasar negeri sebelum memperoleh beasiswa untuk Eton College. Latar itu kemudian mengantarnya pada jalur yang membuatnya dikenal luas, baik melalui capaian profesional maupun kontribusi donasi yang disebut bernilai besar.












