Teknologi

Studi Terbaru Pertanyakan Peran Komet dalam Asal-Usul Kehidupan di Bumi

×

Studi Terbaru Pertanyakan Peran Komet dalam Asal-Usul Kehidupan di Bumi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Peneliti Bongkar Fakta Baru Misteri Asal-usul Kehidupan di Bumi

jurnalistik.co.id – Teori yang selama ini menempatkan komet sebagai pemasok bahan dasar kehidupan ke Bumi kini mulai mendapat sorotan baru. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa benturan komet dengan Bumi purba justru berpotensi menghancurkan molekul organik yang dibawanya akibat suhu dan tekanan ekstrem saat tumbukan terjadi.

Temuan yang dipaparkan dalam jurnal Scientific Reports menggarisbawahi kemungkinan adanya revisi terhadap pandangan yang berkembang puluhan tahun mengenai asal-usul kehidupan. Selama ini, komet kerap dikaitkan dengan peran menyediakan air serta senyawa organik yang dibutuhkan untuk memicu rangkaian proses kimia menuju kemunculan kehidupan.

Komet sendiri umumnya tersusun atas es, debu, dan material organik, sehingga kerap dijuluki sebagai “bola salju kotor” (dirty snowballs). Dalam kerangka gagasan panspermia, bahan pembentuk kehidupan diperkirakan berasal dari luar angkasa dan kemudian tiba di Bumi. Konsep ini disebut telah dikemukakan secara ilmiah sejak 1908, sementara kaitan komet dengan suplai bahan organik ke Bumi mulai berkembang setidaknya sejak 1961.

Simulasi menunjukkan tumbukan tidak selalu terjadi

Penelitian terbaru memanfaatkan model pembentukan dan evolusi komet untuk mensimulasikan kondisi Bumi lebih dari 4 miliar tahun lalu. Tim melakukan simulasi sebanyak 100.000 kali untuk menguji peluang komet mengantarkan molekul organik tanpa merusaknya.

Hasilnya, sebanyak 54% simulasi tidak menunjukkan terjadinya tumbukan komet dengan Bumi. Sementara itu, 46% sisanya memperlihatkan setidaknya satu tumbukan, tetapi hanya sebagian sangat kecil yang menghasilkan hingga tiga tabrakan.

Richard Anslow, peneliti yang melakukan riset tersebut saat menempuh program doktoral di Institute of Astronomy, University of Cambridge, Inggris, menyatakan bahwa sebagian besar tumbukan tidak memungkinkan molekul organik bertahan. Ia mengatakan, “Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang lingkungan permukaan di Bumi purba, secara rata-rata, simulasi kami menemukan bahwa tidak ada tumbukan yang berhasil,” seperti dikutip CNN, Minggu (1/11/2026).

Kecepatan tumbukan memicu kerusakan molekul

Anslow menekankan bahwa komet memang mengandung konsentrasi tinggi sejumlah molekul penting bagi kehidupan. Namun, menurutnya, kecepatan tumbukan yang sangat tinggi membuat material berisiko rusak sebelum dapat dimanfaatkan dalam proses kimia pembentukan kehidupan.

Ia menambahkan, “Kecepatan khas komet-komet ini saat menghantam Bumi berarti bahwa sebenarnya sangat sedikit, jika ada, yang mampu mengantarkan molekul organik utuh; sehingga komet tampaknya tidak sebermanfaat bagi kimia prabiotik seperti yang sebelumnya diperkirakan.”

Dengan demikian, kesimpulan penelitian tidak hanya menyoroti apakah tumbukan terjadi, tetapi juga menilai daya tahan molekul dalam kondisi ekstrem. Pada titik inilah peran komet sebagai “pengantar” bahan kehidupan menjadi lebih sulit dipastikan, setidaknya bila mengacu pada kemampuan molekul bertahan setelah tumbukan.

Fokus pada HCN dan dampaknya bagi kimia pra-kehidupan

Studi ini secara khusus menyoroti hidrogen sianida (HCN), senyawa alami yang terdiri dari hidrogen, karbon, dan nitrogen. HCN telah terdeteksi pada puluhan komet, termasuk Komet Halley dan Hale-Bopp, serta dipandang sebagai salah satu prekursor penting dalam proses kimia prebiotik.

Ketika HCN bereaksi dengan air, senyawa ini berpotensi menghasilkan asam amino, yaitu molekul penyusun protein yang menjadi komponen penting bagi kehidupan. Namun, ketika komet menghantam permukaan Bumi, material di dalamnya mengalami tekanan dan suhu yang sangat tinggi.

Menurut Anslow, kondisi tersebut dapat menghancurkan molekul-molekul organik yang seharusnya menjadi bahan dasar pembentukan kehidupan. Ia menjelaskan bahwa sekalipun ada tumbukan yang memungkinkan sebagian HCN bertahan, jumlah HCN yang berhasil dihantarkan kemungkinan tidak cukup untuk mendukung proses kimia tersebut.

Ia juga menyinggung skenario ketika komet jatuh ke lautan. Dalam kondisi seperti itu, HCN yang dibawanya berpotensi cepat larut sehingga konsentrasinya menjadi terlalu rendah. Artinya, bukan hanya kerusakan akibat panas dan tekanan yang menjadi faktor, melainkan juga nasib senyawa setelah masuk ke lingkungan Bumi.

Selain itu, proses pembentukan kehidupan tidak hanya bergantung pada satu jenis senyawa. Sejumlah senyawa lain yang mengandung fosfor dan sulfur juga diperlukan untuk mendukung reaksi kimia prebiotik. Sementara itu, unsur-unsur tersebut tidak secara rutin ditemukan dalam komet, sehingga keberhasilan komet memasok satu jenis molekul belum tentu cukup untuk membentuk lingkungan yang mendukung munculnya kehidupan.

Jika komet bukan pemasok utama, apa alternatifnya?

Penelitian ini kemudian membuka ruang bagi kemungkinan lain yang masih perlu dieksplorasi. Salah satunya adalah teori bahwa sup purba (primordial soup) di Bumi mampu menghasilkan sendiri molekul-molekul yang dibutuhkan untuk memulai kehidupan melalui reaksi kimia alami.

Asteroid juga disebut sebagai kandidat alternatif pembawa material organik dari luar angkasa. Berbeda dengan komet, asteroid umumnya menghantam Bumi dengan kecepatan lebih rendah dan jumlah yang lebih banyak. Temuan dari sampel asteroid Bennu dan Ryugu ikut memperkuat kemungkinan tersebut, karena kedua asteroid diketahui mengandung sebagian besar jenis asam amino yang digunakan untuk membangun protein.

Peran komet mungkin lebih besar di Mars purba

Selain memperbandingkan komet dan asteroid, studi ini juga menyatakan kemungkinan komet memiliki peran lebih besar dalam memasok bahan kimia pembentuk kehidupan di Mars purba. Anslow menjelaskan bahwa ukuran Mars yang lebih kecil dan jaraknya yang lebih jauh dari Matahari membuat kecepatan tumbukan komet di planet tersebut relatif lebih rendah dibandingkan di Bumi.

Dengan kecepatan yang lebih rendah, molekul HCN memiliki peluang lebih besar untuk bertahan saat komet menghantam permukaan Mars. Temuan ini, menurutnya, dapat menjadi perspektif tambahan dalam memahami evolusi awal Mars, termasuk kemungkinan planet merah tersebut pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan.

Peneliti lain tidak langsung menutup kemungkinan kontribusi komet

Meski demikian, penelitian terbaru ini tidak serta-merta menghapus kemungkinan komet pernah berkontribusi terhadap munculnya kehidupan di Bumi. Queenie Chan, profesor madya ilmu kebumian di Royal Holloway University of London yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai ada kemungkinan HCN mengalami reaksi kimia sebelum komet memasuki atmosfer Bumi.

Reaksi tersebut, menurut Chan, berpotensi menghasilkan senyawa penting secara biologis, termasuk bahan penyusun protein, yang lebih stabil dan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan saat tumbukan. Ia menambahkan bahwa ketidakmampuan komet mengantarkan HCN dalam kondisi utuh tidak sepenuhnya menghapus kemungkinan perannya dalam memasok senyawa organik lain yang berkontribusi terhadap persediaan bahan kimia pra-kehidupan di Bumi.

Pandangan serupa juga disampaikan Nicolle Zellner, profesor fisika di Albion College, Michigan. Ia mengaku tidak terkejut dengan hasil penelitian tersebut, tetapi juga belum bersedia mengesampingkan komet sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kemunculan kehidupan.

Zellner menilai penelitian ini memberikan gambaran dan batasan yang lebih jelas mengenai seberapa besar kemungkinan komet berperan dalam mengantarkan bahan dasar kehidupan ke Bumi. Dengan kata lain, meski peran komet kini dipertanyakan dari sisi ketahanan molekulnya, diskusi tentang asal-usul kehidupan tetap terbuka untuk berbagai skenario dan jalur kimia lain yang mungkin terjadi di lingkungan planet-planet awal.