Olahraga

Tuchel Redam Stres Timnas Inggris: Sepeda dan Es Krim

×

Tuchel Redam Stres Timnas Inggris: Sepeda dan Es Krim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cara Tuchel Lepas Stres di Timnas Inggris, Bersepeda dan Makan Es Krim

jurnalistik.co.id – Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina, Thomas Tuchel membagikan cara sederhana yang ia pakai untuk meredam stres saat menangani tim. Laga itu dijadwalkan berlangsung pada hari Rabu (15/7/2026) atau Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB di Stadion Atlanta.

Tuchel mendapat mandat dari asosiasi sepak bola Inggris (FA) pada 2024 dengan target yang besar, yakni meraih trofi Piala Dunia 2026. Ia juga mengingat pentingnya momen tersebut bagi The Three Lions, mengingat tahun ini tepat 60 tahun gelar terakhir Inggris di ajang empat tahunan itu, yakni pada 1966.

Bersepeda dan es krim sebagai jeda dari tekanan

Di tengah persiapan menjelang pertandingan, Tuchel memilih melakukan aktivitas yang berfokus pada ritme dan rasa nyaman, bukan strategi teknis tambahan. Menurutnya, ia mengandalkan rutinitas bersepeda dan menikmati es krim pada sore hari sebagai cara untuk menurunkan ketegangan yang menyertai tugasnya.

Pelatih asal Jerman itu menjelaskan bahwa ia sering melakukannya selama 15 menit, sambil menikmati hangatnya mentari sore. “Terkadang, Anda hanya perlu bersepeda, lalu singgah di area parkir yang luas sambil memegang es krim selama 15 menit, dan seketika Anda merasa seperti remaja berusia 15 tahun lagi,” ujar Tuchel.

Ia menambahkan bahwa momen tersebut membuatnya kembali merasakan suasana yang menenangkan setelah rutinitas kerja yang panjang. “Anda menikmati suasana malam musim panas yang hangat selama 15 menit ditemani es krim, lalu kembali merasakan keindahan emosi yang ada dalam diri kita semua dan terkadang, hanya itu yang kita butuhkan,” imbuhnya.

Rasa penat karena perjalanan dan tuntutan pertandingan

Tuchel juga menyinggung bahwa Inggris sempat merasakan penat selama menjalani rangkaian pertandingan, khususnya karena harus bermain di Meksiko. Ia menyebut tim menghadapi situasi yang menuntut adaptasi, termasuk bermain di dataran tinggi.

Dalam pembahasan itu, Tuchel mengaitkannya dengan pengalaman saat pertandingan berintensitas tinggi. Ia menyoroti dua peristiwa penting: laga melawan RD Kongo di babak 32 besar dan pertandingan melawan Norwegia di babak perempat final, yang menurutnya menuntut Inggris untuk membalikkan kedudukan setelah kebobolan lebih dulu.

Meski kondisi tersebut bisa membuat pikiran semakin padat, Tuchel memandang pertandingan dengan adrenalin tinggi justru memberi energi. Baginya, momen seperti itulah yang mendorong tim untuk tampil maksimal saat menghadapi tekanan di lapangan.

Target besar tanpa beban yang merusak fokus

Tuchel menegaskan bahwa ia tidak merasa terbebani dengan target meraih trofi Piala Dunia 2026 bersama Inggris. Ia menganggap dorongan untuk mencapai hasil puncak justru bekerja sebagai energi harian dalam menjalankan tugas.

“Saya bisa katakan bahwa hal itu memacu semangat saya dan membuat saya merasa hidup. aya sangat menyukainya hingga hal itu memberi saya energi setiap hari,” ujar Tuchel. “Saya tidak merasa terbebani.”

Ia juga menambahkan penjelasan terkait reaksi mental saat tekanan meningkat. “Anda merasakan ketegangan dan saya akan merasa gugup, dan tentu saja itu wajar. Namun, saya tidak merasa terbebani,” ungkapnya menambahkan.

Dengan semifinal yang tinggal beberapa langkah lagi, ritme Tuchel tampak dibangun dari dua sisi: merawat kendali emosi melalui jeda sederhana seperti bersepeda dan es krim, sekaligus memanfaatkan pengalaman pertandingan berintensitas tinggi untuk menjaga tenaga dan fokus tim. Pada akhirnya, pendekatan itu menjadi bagian dari cara ia menghadapi momen-momen besar yang menentukan perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026.