Hukum & Kriminal

Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Pelanggaran Berisik Terbaca, Penderitaan Senyap Terlewat

×

Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Pelanggaran Berisik Terbaca, Penderitaan Senyap Terlewat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

jurnalistik.co.id – Kasus ledakan bom rakitan yang melibatkan seorang siswa di MAN 3 Kota Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (14/07/2026), memunculkan sorotan baru tentang rapuhnya deteksi dini kekerasan di lingkungan pendidikan.

Menurut peneliti dari Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), pola yang berujung kekerasan tidak muncul secara tiba-tiba tanpa tanda. Temuan itu mengarah pada pentingnya membaca sinyal yang kerap “terlewat” sebelum sesuatu berubah menjadi tragedi.

Pelaku disebut tidak pernah “langsung meledak”

Wawan Kurniawan menegaskan bahwa riset kekerasan di sekolah menunjukkan pelaku hampir tidak pernah “tiba-tiba meledak”. Pernyataan ini disampaikan Wawan kepada Kompas.com pada Selasa (14/7/2026).

Dalam keterangan yang dihimpun, guru dan teman kelas pelaku berinisial R menilai R sebagai siswa pendiam yang tidak menonjol. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa fokus pengamatan sekolah mungkin tidak menangkap perubahan perilaku yang lebih halus.

Wawan lantas menguraikan bahwa di balik kejadian ekstrem, sering terdapat tanda awal yang tidak selalu ditangkap orang dewasa. Ia menyebutnya sebagai leakage atau kebocoran niat.

Kebocoran niat dapat muncul dari aktivitas sehari-hari

Wawan menuturkan, “Kebocoran niat ini bisa lewat ucapan sambil lalu, tulisan, atau unggahan di media sosial.” Dengan demikian, sinyal bisa tampak di ruang interaksi yang mudah terlewat jika tidak ada saluran yang benar-benar dipercaya.

Ia menambahkan, “Sering kali hal ini diketahui oleh teman sebaya, namun tidak pernah sampai ke telinga orang dewasa atau guru.” Pernyataan itu menggarisbawahi adanya jarak antara persepsi teman sebaya dan respons pihak sekolah.

Temuan di lapangan juga selaras dengan keterangan teman sekelas pelaku. Disebutkan bahwa sebelum melakukan aksi, R memposting bahan untuk merakit bom di media sosial.

Di titik ini, “kebocoran” yang dimaksud bukan sekadar isyarat yang gamblang, melainkan jejak yang bisa terlihat jika seseorang benar-benar mencermati konteks ucapan, tulisan, dan unggahan.

Tanda lain yang sering lolos dari pengamatan

Selain kebocoran niat, Wawan menyebut sejumlah indikasi yang kerap tidak dibaca sebagai pertanda serius. Ia menyoroti penarikan diri yang makin dalam, fiksasi atau ketertarikan baru pada tema-tema kekerasan, hingga munculnya “ketenangan” mendadak yang sebenarnya merupakan fase kepasrahan.

Dalam logika ini, perubahan perlahan pada cara berinteraksi, pilihan topik, serta sikap yang terlihat seperti “beres” justru bisa menandai proses internal yang lebih jauh.

Persoalannya, ketika sekolah tidak menyiapkan cara membaca dinamika psikologis murid secara memadai, sinyal-sinyal yang halus itu tidak masuk ke radar prioritas.

Kesalahan fokus pengawasan: berisik, bukan senyap

Wawan mengkritik sistem pengawasan sekolah yang dinilai salah fokus dalam membaca dinamika psikologis murid. Menurutnya, sekolah cenderung memakai indikator yang mengarah pada insiden yang tampak dan mudah dikenali.

Ia menegaskan, “Akar masalahnya, sekolah kita cenderung terlatih mendeteksi pelanggaran yang berisik, bukan penderitaan yang senyap.” Kalimat itu menekankan bahwa masalah sering terlihat ketika sudah menjadi gangguan nyata, padahal bagian yang paling menentukan justru terjadi lebih awal.

Wawan juga menyebut cara menafsirkan klaim “tidak ada laporan perundungan” sebagai hal yang problematis. Ia menegaskan, “Jika ada klaim ‘tidak ada laporan perundungan’, itu hampir selalu berarti tidak ada saluran pelaporan yang dipercaya oleh siswa, bukan berarti perundungan itu tidak ada.”

Dengan cara pandang itu, ketiadaan laporan tidak otomatis identik dengan ketiadaan masalah. Yang mungkin terjadi adalah siswa tidak merasa aman untuk menyampaikan.

Ruang digital dan pola pemberitaan ikut membentuk iklim

Di luar faktor internal sekolah, Wawan turut menyoroti bahaya ruang digital. Salah satu risikonya adalah munculnya group polarization (polarisasi kelompok), yaitu pergeseran sikap anggota komunitas menjadi makin ekstrem saat berada di lingkungan daring yang homogen.

Anonimitas di internet, menurut Wawan, menurunkan rem sosial dan ikut menormalkan hal-hal yang di dunia nyata dianggap tabu. Kondisi ini dapat memperkuat narasi yang salah, sekaligus membuat tindakan kekerasan terasa lebih “mungkin” bagi sebagian remaja.

Wawan kemudian menyoroti aspek empati yang runtuh. Ia menjelaskan, “Yang paling merusak empati adalah dehumanisasi. Calon korban hanya hadir sebagai abstraksi—’mereka, para perundung’—bukan sebagai manusia konkret.”

Ia melanjutkan dengan peringatan yang lebih tajam, “Ironisnya, bagi remaja yang terisolasi, komunitas daring yang memvalidasi rencana kekerasannya justru menjadi komunitas pertama yang mau menerimanya.”

Dalam pembacaan ini, penerimaan sosial di ruang digital bisa menjadi “penguat” yang berbahaya ketika bertemu keyakinan keliru tentang jalan keluar.

Wawan juga mengingatkan media massa agar berhati-hati dalam membingkai kasus. Menurutnya, pemberitaan kasus serupa di masa lalu yang terlalu detail dan luas rentan berfungsi sebagai cetak biru bagi remaja lain yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya.

Ia menutup dengan peringatan langsung tentang dampak narasi media, “Liputan yang terlalu mendetail menyediakan naskah siap pakai. Remaja yang terluka tidak perlu mengarang solusinya sendiri, mereka tinggal meniru narasi yang beresonansi dengan luka mereka.”

Selanjutnya, Wawan menegaskan, “Cara media membingkai kasus ini sekarang akan menentukan ada-tidaknya peniru (copycat) berikutnya.” Ia menempatkan framing sebagai variabel penting yang dapat memengaruhi rantai penularan di level sosial.

Kompas.com menegaskan komitmennya untuk menyajikan fakta secara jernih, tepercaya, dan berimbang, sementara isu yang diangkat dalam pengamatan UI tetap berpusat pada satu pertanyaan: apakah tanda-tanda “senyap” benar-benar terbaca dan diberi jalur respons yang dipercaya siswa.