jurnalistik.co.id – Masalah gangguan kesuburan atau infertilitas masih menjadi tantangan besar bagi banyak pasangan di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang ada, diperkirakan terdapat sekitar 4 juta sampai 6 juta pasangan usia subur di Tanah Air yang menghadapi kesulitan untuk mendapatkan keturunan.
Persoalan ini selama ini kerap dipahami hanya sebagai beban pihak perempuan, baik dari sisi psikologis maupun dari proses pemeriksaan medis saat program kehamilan dijalankan. Padahal, faktor dari pihak pria memegang peran yang cukup besar dalam menentukan keberhasilan perencanaan kehamilan.
Kontribusi faktor pria dalam infertilitas
Secara medis, data menunjukkan bahwa faktor pria menyumbang sekitar 30 persen dari total kasus infertilitas yang ditemukan. Persentase itu bahkan bisa meningkat hingga 50 persen apabila masalah kesuburan terjadi secara kombinasi dari kedua belah pihak, yaitu pria dan perempuan.
Karena itu, kesadaran untuk melakukan skrining kesehatan sistem reproduksi tidak lagi bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2026), Dante menegaskan bahwa pemeriksaan dan penanganan kesuburan harus dilakukan bersama sejak awal.
“Kondisi ini menegaskan pentingnya pemeriksaan dan penanganan kesuburan yang dilakukan secara bersama sejak awal,” ujar Dante dalam rilisnya, Kamis (28/5/2026). Ia juga menambahkan, “Prinsip it takes two to tango sangat berlaku dalam hal ini; kesuksesan sebuah program kehamilan merupakan buah dari tanggung jawab kolektif.”
Untuk menekan angka infertilitas yang tinggi, penguatan fasilitas dan layanan kesehatan reproduksi menjadi hal yang krusial. Dante menyebut dukungan teknologi modern juga dibutuhkan agar masyarakat dapat mengakses program kehamilan secara maksimal.
Pemeriksaan pada laki-laki perlu dilakukan sejak awal
Senada dengan Wamenkes, Dokter Andrologi RSCM, Prof Silvia Werdhy Lestari, menyoroti pentingnya keterlibatan aktif pria dalam perencanaan kehamilan. Menurut dia, performa reproduksi pria sangat dipengaruhi oleh kualitas sperma yang dihasilkan.
Prof Silvia menyayangkan pola penanganan yang selama ini sering terlambat dilakukan pada pihak pria. “Banyak pasangan yang bertahun-tahun menjalani program kehamilan, tetapi gagal karena pemeriksaannya hanya berfokus pada perempuan saja. Padahal, ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Karena itu, pemeriksaan kesuburan pada laki-laki juga perlu dilakukan sejak awal agar penanganannya dapat lebih tepat,” ucap dia.
Ia menjelaskan, masalah pada sperma dapat dilihat dari jumlah sperma yang rendah, yakni kurang dari 16 juta per ml atau oligozoospermia. Selain itu, ada juga persoalan pergerakan sperma yang kurang baik, dengan motilitas kurang dari 40 persen atau asthenozoospermia. Bentuk sperma yang tidak normal serta fragmentasi DNA sperma juga disebut dapat memengaruhi proses pembuahan.
Dengan deteksi dini faktor infertilitas pada laki-laki, jenis program kehamilan bisa ditentukan secara lebih tepat sejak awal. Pilihannya dapat berupa program alami dengan senggama terjadwal atau alami, inseminasi buatan atau IUI, hingga bayi tabung. Dalam konteks ini, penanganan kesuburan tidak semestinya berjalan parsial, karena keberhasilan program kehamilan bergantung pada pemeriksaan dan tindak lanjut dari kedua belah pihak.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa edukasi publik soal kesuburan masih perlu diperkuat agar pasangan tidak terlambat mencari bantuan medis. Jika pemeriksaan sejak awal sudah menjadi kebiasaan, peluang untuk memahami sumber masalah bisa lebih cepat terbuka dan penanganan pun dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan.
Di sisi lain, pendekatan yang menempatkan pria dan perempuan sebagai satu kesatuan dalam program kehamilan dapat membantu mengurangi beban psikologis yang kerap muncul saat hasil belum sesuai harapan. Dengan cara pandang seperti ini, upaya mencari kehamilan tidak lagi dipahami sebagai tanggung jawab sepihak, melainkan proses bersama yang membutuhkan evaluasi, kesabaran, dan tindak lanjut yang tepat.






