jurnalistik.co.id – Di Scunthorpe, Lincolnshire, keputusan pemerintah menasionalisasi British Steel langsung memantik beragam respons warga. Bagi sebagian orang, langkah itu diyakini menjadi jalan untuk menjaga pekerjaan sekaligus kemampuan industri yang dianggap krusial bagi negara.
Di Jubilee Park, Phil Tennyson berdiri memandang kompleks British Steel dari kejauhan. Phil, pensiunan pekerja pabrik itu yang mengabdi 38 tahun, menemani istri, Jenna, dan cucu mereka yang masih berusia dua tahun.
Dalam suasana santai siang hari, Phil menyampaikan bahwa ia memahami alasan pemerintah. Ia mengutip janji bahwa nasionalisasi “would protect jobs and safeguard “a vital national capability”” serta disebut “will protect future generations”. Ia lalu berkata, “It will help support the future for our children and our grandchildren,”.
Namun dukungan Phil tidak datang tanpa syarat. Menurutnya, ada keputusan yang semestinya tidak pernah dilakukan sejak awal, “But I do think it should never have been privatised in the first place.”
Phil menggambarkan kehidupan kerja di sekitar pabrik baja sebagai pekerjaan yang “mucky place and hard work”. Ia menekankan bahwa meski berat, pabrik tersebut telah memberi penghidupan bagi banyak warga selama bertahun-tahun, “those works have given a lot of people around here a good living over many, many years.”
Di sisi lain, Phil juga menyuarakan kehati-hatian soal keberlanjutan ekonomi pabrik. Ia mengatakan, “I don’t know how it’s going to remain profitable when it’s competing against cheaper, foreign steel,” lalu menambahkan bahwa industri tidak lagi seperti masa lalu.
Ia merangkum perubahan itu dengan nada yang tegas, “The industry is nothing like it was. Those days are gone. In the early 1970s, 22,000 people were employed in the works. Now, it’s less than 3,000, although plenty of others in the supply chain, shops and so on rely on it.”
Pada kesempatan yang berbeda, Robert Smith (61), yang bekerja di manajemen lalu lintas, menyatakan nasionalisasi British Steel “had to be done”. Bagi Robert, British Steel tidak hanya urusan pekerjaan lokal, tetapi juga kebutuhan terkait pertahanan, “We need British Steel for defence,”.
Pemerintah, kata Robert, berupaya memastikan dua tanur tinggi terakhir di Scunthorpe tetap beroperasi. Dua fasilitas itu disebut sebagai sumber terakhir “virgin”, atau baja baru, yang dihasilkan langsung dari bijih besi; jika keduanya tutup, Inggris akan menjadi satu-satunya anggota G7 yang kehilangan kemampuan untuk membuat baja jenis tersebut.
Dukungan beriringan dengan bayang-bayang biaya
Berita Terkait
Tak jauh dari Lincoln Gardens Primary School, Pat Stephenson (83) dan Brenda Ovenden (72) berjalan sambil berbincang. Pat pernah bekerja di kantor-kantor pabrik baja pada dekade 1950-an dan 60-an, dan meski ia mengakui pentingnya industri, ia tidak menutup kemungkinan hasilnya tidak sesuai harapan, “I don’t know if nationalising British Steel will work,”.
Pat melihat perubahan skala industri yang sudah terlanjur membentuk kebiasaan warga, “Steel is still important to Scunthorpe but people have got used to it not being as big as it was.”
Kekhawatiran soal biaya juga muncul dalam percakapan warga. Pada bulan Maret, National Audit Office menyebut pabrik baja Scunthorpe menelan biaya sekitar ÂŁ1.3m per hari bagi pemerintah.
Di bangku taman, Bradley Woodley (31) duduk bersama putranya yang berusia 12 tahun. Bradley mengatakan beberapa temannya bekerja di pabrik tersebut, sehingga ia memandang keputusan pemerintah sebagai kabar baik karena perusahaan kini berada “under the control of the government.”
Bradley menuturkan alasan dukungannya dengan menautkan industri dan masa depan keluarga, “It’s about protecting the industry, as well as Scunthorpe, for future generations like my son.” Putranya sendiri bercita-cita menjadi pesepak bola, tetapi tidak menutup kemungkinan bekerja di sektor baja.
“It’s hard graft though,” kata Bradley sambil tertawa, menggambarkan bahwa pekerjaan di industri memang menuntut tenaga dan ketahanan.
Beberapa kilometer dari area taman, Tym Wrona (20) melanjutkan aktivitasnya menjelang bertemu teman. Tym adalah mahasiswa fisika Universitas Durham yang pulang ke rumah untuk musim panas, dan ia melihat baja sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kota.
Ia menegaskan, “Steel is everywhere in Scunthorpe,” dan menyebutnya “It’s a huge part of the town.” Tym mendukung nasionalisasi karena menurutnya langkah itu melindungi pekerjaan lokal, “The government’s decision to nationalise [British Steel] is a good thing. It will protect local jobs.”
Shirley Armer (60) yang berjalan bersama anjingnya menyebut kabar tersebut sebagai “fantastic news”. Ia menilai Scunthorpe memiliki keunikan karena memproduksi virgin steel dengan kualitas tinggi, “We’re unique,” dan “We make virgin steel – and it’s high quality.”
Shirley juga berpendapat pemerintah tidak punya banyak pilihan, “The UK can’t afford to lose its steel industry,”. Ia mendukung nasionalisasi atas industri dan layanan penting, tetapi menuntut prosesnya dilakukan secara cerdas, “I support nationalising key industries and services but it needs to be done with real intelligence and thought to make it work for the people. We will see what happens.”
Respons warga Scunthorpe, secara keseluruhan, memperlihatkan dua hal sekaligus: harapan agar pekerjaan tetap terjaga dan industri tetap beroperasi, serta pertanyaan yang sama kerasnya tentang cara memastikan pabrik tetap kompetitif dan mampu bertahan dalam kondisi industri yang sudah berubah.











