jurnalistik.co.id – Dawood Safi, pria berusia 28 tahun yang mengaku menikam seorang pejalan anjing hingga tewas, kini dinyatakan bersalah pula dalam perkara percobaan membunuh tuannya, Shahzad Farrukh.
Keputusan tersebut diumumkan di Southwark Crown Court. Safi sebelumnya telah mengaku bersalah atas kematian Wayne Broadhurst dengan dasar tanggung jawab yang berkurang, dan pengadilan menerima bahwa ia berada dalam kondisi psikotik saat kejadian.
Percobaan membunuh yang dimaksud berkaitan dengan serangan terhadap Farrukh yang berujung pada dakwaan percobaan pembunuhan. Sementara itu, proses persidangan juga masih berjalan untuk dakwaan pembunuhan kedua terkait kematian seorang anak laki-laki berusia 14 tahun.
Menurut persidangan, Safi membunuh Broadhurst, yang berusia 49 tahun, pada 27 Oktober 2025. Ia melakukan serangan setelah lebih dahulu menyerang Farrukh, 45 tahun, di Uxbridge.
Di pengadilan, Safi mengajukan pengakuan bersalah atas pembunuhan yang dinilai menjadi manslaughter terhadap Broadhurst. Pembuktian dari jaksa menyatakan bahwa saat peristiwa terjadi, Safi berada dalam keadaan psikotik.
Safi juga mengakui beberapa dakwaan lain yang berkaitan dengan kekerasan. Ia mengakui melakukan actual bodily harm, melakukan penyerangan dengan maksud menyebabkan grievous bodily harm, serta kepemilikan senjata yang tergolong berbahaya.
Ketika jaksa menyampaikan argumen, pengadilan mendengar bahwa Safi meyakini Farrukh dapat membantunya karena peran Farrukh terkait kepolisian. Jonathan Laidlaw KC menyatakan bahwa kondisi psikotik tidak otomatis menghapus kemampuan Safi untuk membentuk niat.
Laidlaw menyebut, “The fact the defendant was no doubt in a psychotic state… does not mean he was incapable of forming an intention to kill.” Ia menambahkan bahwa “The defendant was hearing voices, he’d become consumed by paranoia and delusional beliefs which included that people generally and members of his family in this country were both controlling him and plotting against him”.
Peristiwa bermula pada sekitar pukul 16:45 waktu setempat pada 27 Oktober. Farrukh membuka pintu ke lampiran tempat tinggal, dan mendapati Safi bersenjatakan pisau dapur berukuran besar.
Pada saat itu Safi kemudian menikam Farrukh. Sejumlah kesaksian menggambarkan bahwa Farrukh melihat Safi dengan kondisi “staggering around covered in blood” serta terdapat “puncture wounds to his back and chest area”.
Pengadilan juga mendengar bahwa Safi “couldn’t breathe properly” akibat luka yang dialami. Pada titik itu, Broadhurst yang bekerja sebagai petugas penyapu jalan juga muncul dari lorong dengan anjingnya.
Untuk kematian Broadhurst, seorang ahli patologi menyatakan bahwa korban meninggal “almost instantly” setelah mengalami sekitar 14 tusukan. Luka tersebut dilaporkan berada di bagian leher, dada, punggung, serta sisi tubuh.
Berita Terkait
Segera setelah kekerasan terjadi, polisi menggunakan alat kejut untuk menahan Safi. Ia kemudian ditangkap tak lama setelah insiden.
Persidangan menggambarkan bahwa Safi terlibat dalam pergulatan fisik yang bersifat kekerasan dengan Farrukh. Selain kesaksian, pengadilan juga memperlihatkan rekaman CCTV dari properti tetangga untuk mendukung rangkaian kejadian.
Dalam pembahasan kondisi mental sebelum serangan, pengadilan mendengar bahwa Safi bekerja sebagai pengemudi Uber. Safi disebut mulai dikuasai “depressive psychosis” yang kemudian mengarah pada serangan.
Beberapa hari menjelang penikaman, Safi menjalani penilaian kesehatan mental di Hillingdon Hospital karena ia “hearing voices”. Ia juga mencari bantuan di Hayes Police Station.
Asal-usul Safi juga terungkap dalam persidangan. Ia merupakan pengungsi asal Afghanistan yang tiba di Inggris pada 2020 menggunakan truk.
Dalam fase ini, pengadilan juga mendengar bahwa Safi pernah memberi tanggal lahir yang tidak benar saat kedatangannya. Jaksa menyebut bahwa informasi tersebut akan membuat usia Safi 23 tahun saat ini, padahal Safi seharusnya berusia 28 tahun.
Safi kemudian memperoleh suaka pada 2022, dan hal itu sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Home Office. Pengadilan juga menyebut latar belakang traumatis Safi ketika ia masih kecil.
Ketika Safi berusia 10 tahun, ia melihat ayahnya dibunuh di Afghanistan akibat sengketa lahan. Latar belakang tersebut dipaparkan sebagai bagian dari gambaran menyeluruh mengenai kondisi Safi.
Di awal Agustus 2025, Safi menjadi penghuni (lodger) Farrukh di sebuah flat lampiran di Midhurst Gardens. Hubungan tempat tinggal itu membawanya pada momen ketika Farrukh membuka pintu dan menghadapi Safi pada hari serangan.
Pada persidangan, juri menilai dakwaan percobaan pembunuhan terhadap Farrukh berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan. Pada akhirnya, Safi dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut.
Meski demikian, proses belum sepenuhnya berakhir. Juri masih melakukan musyawarah untuk dakwaan pembunuhan kedua yang menyangkut kematian seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, sementara bagian persidangan lain yang terkait percobaan pembunuhan juga telah disampaikan dalam persidangan.
Keputusan ini menjadi sorotan karena menegaskan bahwa meskipun pengadilan menerima adanya keadaan psikotik, unsur niat dan rangkaian tindakan Safi tetap dinilai memenuhi batas kesalahan dalam dakwaan yang dikenakan.









