jurnalistik.co.id – British Steel resmi diambil ke dalam kepemilikan publik guna menjaga pekerjaan dan melindungi kemampuan industri baja yang disebut pemerintah sebagai “a vital national capability”. Kebijakan ini ditetapkan setelah serangkaian langkah pengendalian sebelumnya dan disahkan lewat undang-undang pekan ini.
Pemerintah mengatakan keputusan nasionalisasi itu bertujuan melindungi pekerjaan serta memberi waktu agar rencana jangka panjang untuk pabrik bisa ditentukan tanpa menutup operasional utama terlalu cepat. Langkah tersebut juga dimaksudkan mempertahankan keberlangsungan blast furnaces.
Fasilitas baja di Scunthorpe mempekerjakan sekitar 2.700 orang dan turut menopang berbagai industri lain di North Lincolnshire. Selama beberapa tahun terakhir, masa depan pabrik kerap dibayangi ketidakpastian.
Menurut laporan BBC, pemerintah telah mengambil alih pengendalian operasi British Steel di Scunthorpe pada tahun lalu, namun perusahaan tersebut tetap dimiliki oleh grup baja asal Tiongkok, Jingye Group. Kondisi kepemilikan itu disebut membatasi ruang gerak pemerintah untuk menentukan strategi ke depan.
Nationalisation, demikian istilah yang digunakan dalam pemberitahuan pemerintah, memberi pemerintah “time” sekaligus kewenangan dan kebebasan untuk memutuskan masa depan pabrik. Di saat yang sama, pemerintah ingin memastikan blast furnaces tetap berjalan.
Dasar hukum dan respons pemilik
Keputusan ini muncul setelah Parlemen pada hari Rabu meloloskan legislasi yang memungkinkan pemerintah membawa industri baja ke dalam kepemilikan publik, dengan syarat melalui public interest test. Dalam konteks itu, Jingye disebut tengah mengupayakan kompensasi atas nasionalisasi.
Jingye sebelumnya pernah menyatakan bisnis tersebut mengalami kerugian sebesar £700,000 per hari. BBC juga melaporkan bahwa pihaknya tidak berhasil memperoleh respons dari Jingye atas pengumuman yang disampaikan pada hari Kamis.
Di sisi lain, National Audit Office merilis laporan pada bulan Maret yang menyebut biaya pengoperasian Scunthorpe menelan sekitar £1,3 juta per hari bagi pemerintah.
Secretary of State untuk bisnis, Peter Kyle, mengatakan pemerintah perlu menanggung biaya operasional “for the immediate future”. Ia menambahkan bahwa seorang penilai independen akan menentukan apakah Jingye harus dikompensasi berdasarkan nilai perusahaan.
Kyle juga menegaskan alternatif yang tidak dipilih. Ia menyatakan, “But let me be really clear, there is an alternative here – that we let this business go bust,” dan menambahkan, “If that business disappears, we will lose the ability for primary steel production in our country, we will become entirely dependent on global supply.”
Blast furnaces dan nilai strategis baja “virgin”
Blast furnaces dirancang agar dapat beroperasi terus-menerus. Bila tungku didinginkan, kerusakan serius bisa terjadi, dan diperlukan pekerjaan yang luas untuk memulai kembali operasionalnya.
Berita Terkait
Proses pemulihan, termasuk bila dilakukan melalui program refurbish yang terencana, bahkan dapat menelan biaya puluhan juta poundsterling. Sementara itu, blast furnaces yang tersisa di Scunthorpe disebut sudah sangat tua.
Relasinya jelas terlihat dari umur fasilitas. Tungku yang dikenal sebagai Queen Anne dibuka pada 1954, sedangkan Queen Bess telah memproduksi baja sejak 1938. Keduanya disebut mendekati akhir masa operasional, sehingga restart setelah didinginkan dipandang akan tidak terjangkau secara finansial bagi perusahaan yang sudah mengalami kerugian besar.
Pemerintah ingin menjaga agar fasilitas tersebut tetap beroperasi karena Scunthorpe merupakan sumber terakhir “virgin” steel di Inggris, yaitu baja baru yang diproduksi langsung dari iron ore. Jika produksi virgin steel berhenti, Inggris disebut akan menjadi satu-satunya anggota G7 yang tidak memiliki kemampuan membuatnya.
Di tempat lain, produksi baja di dalam negeri banyak bergantung pada electric arc furnaces (EAFs). Sistem ini mendaur ulang scrap metal menjadi produk baru. Meski strategi jangka panjang pemerintah menargetkan seluruh baja domestik berasal dari EAFs—karena lebih murah dan jauh lebih rendah intensitas karbon—pemerintah tidak ingin kehilangan produksi Scunthorpe dalam waktu dekat.
Alasannya, pabrik tersebut memproduksi jenis baja yang belum dibuat di tempat lain di Inggris. Sebagian besar kebutuhan itu, menurut pemberitaan, diperlukan oleh Network Rail dan industri konstruksi.
Keputusan menjaga operasional juga didorong kekhawatiran bahwa hilangnya output bakal mengganggu jalannya industri dan membuat negara terlalu bergantung pada impor. Karena itu, Scunthorpe perlu tetap berjalan sampai alternatif tersedia.
Dampak ekonomi dan pandangan pelaku industri
Selain soal pasokan, pemerintah juga mempertimbangkan pekerjaan yang terkait. Pabrik ini tidak hanya mempekerjakan tenaga kerja langsung di British Steel, tetapi juga menopang ribuan pekerjaan di rantai pasok.
Dalam pemberitaan, pabrik disebut sebagai “economic anchor” bagi North Lincolnshire. Penutupan mendadak blast furnaces dinilai berisiko besar bagi banyak pekerjaan.
Simon Boyd, managing director Reid Steel—perusahaan produsen structural steel berbasis di Dorset—menyatakan nasionalisasi “had to be done”. Ia menggambarkan bahwa perusahaannya membeli ribuan ton dari British Steel setiap tahun.
Boyd, dalam wawancara program Today, menyebut bahwa Jingye melakukan “sabotaging the infrastructure” dan pemerintah “had to step in”. Ia menambahkan pemerintah perlu berinvestasi secara serius, dan tidak akan melihat pengembalian dalam 10-20 tahun.
Namun Boyd juga menekankan aspek kepemilikan nasional. Ia mengatakan, “now belongs to the British people”. Ia menambahkan bahwa rencana melepasnya kepada investor swasta akan membutuhkan dukungan pemerintah, dan pada masa lalu keputusan semacam itu dilihat hanya “benefit the private companies and not the British people”.
Meski demikian, ia menilai keberadaan pemerintah sebagai pengendali bisnis kemungkinan tidak akan bertahan lama. Hal ini terkait perkiraan biaya yang disebut melebihi £1 juta per hari bagi pemerintah.












