jurnalistik.co.id – Saat melihat spesifikasi mobil baru, terutama kendaraan listrik, informasi jarak tempuh dan konsumsi energi biasanya ditulis berdasarkan standar pengujian tertentu. Dua yang paling sering muncul adalah WLTP dan NEDC.
Keduanya sama-sama digunakan untuk mengukur efisiensi kendaraan, tetapi metode pengujian yang berbeda membuat hasil angkanya tidak selalu bisa dibandingkan secara langsung. Karena itu, cara membaca angka di brosur atau materi promosi perlu menyesuaikan dengan standar yang dipakai.
NEDC
NEDC merupakan standar pengujian yang digunakan di Eropa. Standar ini terakhir diperbarui pada 1997, dan dikembangkan untuk mengukur konsumsi bahan bakar, emisi gas buang, serta konsumsi energi kendaraan listrik dalam kondisi baru.
Pengujian NEDC dilakukan di laboratorium menggunakan alat bernama dynamometer atau rolling road. Alat tersebut berfungsi mensimulasikan kondisi kendaraan saat melaju di jalan raya, sehingga kendaraan diuji tanpa harus berada di lintasan sesungguhnya.
Dalam pengujian NEDC, kendaraan menempuh jarak simulasi 10,9 kilometer dengan kecepatan rata-rata 34 kilometer per jam. Pengujian lalu dibagi menjadi dua tahap, yakni simulasi berkendara di area perkotaan (urban cycle) dan di luar kota (extra urban cycle).
Pada tahap perkotaan, kendaraan diuji dengan pola berhenti dan berjalan yang meniru kondisi lalu lintas kota. Sementara pada tahap luar kota, kendaraan dipacu hingga kecepatan maksimum sekitar 120 km per jam.
Selama proses pengujian berlangsung, seluruh perangkat yang dapat menambah beban kendaraan seperti pendingin udara, lampu, dan sistem hiburan dimatikan. Dari pengujian tersebut, diperoleh angka konsumsi bahan bakar, emisi, serta konsumsi energi yang kemudian dicantumkan dalam spesifikasi kendaraan.
WLTP
WLTP merupakan singkatan dari Worldwide Harmonised Light Vehicles Test Procedure. Standar ini mulai diperkenalkan pada September 2017, dan sejak September 2018 seluruh mobil baru yang dipasarkan di Eropa diwajibkan menggunakan WLTP.
Tujuan utama WLTP adalah menghasilkan data konsumsi bahan bakar, emisi, dan jarak tempuh yang lebih mendekati kondisi penggunaan kendaraan sehari-hari. Meski tetap dilakukan di laboratorium, metode pengujiannya jauh lebih kompleks dibandingkan NEDC.
Dengan pendekatan yang lebih mendetail tersebut, hasil yang keluar dari WLTP menjadi rujukan spesifikasi yang mencerminkan standar pengujian yang berbeda. Karena itu, ketika sebuah mobil mencantumkan angka berbasis WLTP, pembaca perlu memahami bahwa angka tersebut dihasilkan dengan prosedur yang tidak sama dengan NEDC.
Kenapa angkanya bisa berbeda?
Perbedaan paling mendasar ada pada cara kendaraan diuji serta bagaimana kondisi operasi disimulasikan dalam tiap standar. NEDC menggunakan pembagian urban cycle dan extra urban cycle dengan jarak simulasi 10,9 kilometer dan kecepatan rata-rata 34 kilometer per jam, lalu pada bagian luar kota kendaraan dipacu hingga sekitar 120 km per jam.
Selain itu, NEDC juga menerapkan kondisi tertentu selama pengujian, termasuk mematikan perangkat yang menambah beban seperti pendingin udara, lampu, dan sistem hiburan. Detail-detail prosedural seperti ini dapat memengaruhi hasil pengukuran yang akhirnya ditulis sebagai konsumsi bahan bakar, emisi, dan konsumsi energi.
Di sisi lain, WLTP—yang diberlakukan untuk mobil baru di Eropa sejak September 2018—dirancang untuk menghadirkan data yang lebih mendekati penggunaan harian. Standar ini pun ditetapkan dengan prosedur yang lebih kompleks, sehingga angka konsumsi energi dan jarak tempuh yang dihasilkan tidak akan sama dengan standar lama.
Cara membaca spesifikasi tanpa salah tafsir
Angka konsumsi energi atau jarak tempuh yang tercantum di brosur akan bergantung pada standar pengujian yang digunakan. Jika suatu spesifikasi memakai WLTP, maka hasilnya berasal dari kerangka pengujian WLTP yang mulai diperkenalkan pada September 2017 dan diwajibkan sejak September 2018.
Sementara itu, jika spesifikasi menggunakan NEDC, pembaca perlu ingat standar ini terakhir diperbarui pada 1997 dan pengujiannya dilakukan dengan simulasi laboratorium menggunakan dynamometer atau rolling road. Dalam NEDC, angka yang dihasilkan berasal dari jarak simulasi 10,9 kilometer dengan kecepatan rata-rata 34 kilometer per jam, serta tahap urban dan extra urban yang memiliki batas kecepatan maksimum sekitar 120 km per jam.
Karena standar yang dipakai berbeda, angka yang tampil pun tidak otomatis saling setara. Memahami arti WLTP dan NEDC membantu pembaca tidak menyimpulkan efisiensi kendaraan hanya dari angka yang terlihat, melainkan dari metode pengujiannya.











![[POPULER OTOMOTIF] Operasi Patuh 2026 Ditunda, Pengakuan Jorge Martin Otomotif 9 Juni 2026](https://jurnalistik.co.id/wp-content/uploads/2026/06/6a25ca9500411-180x130.jpeg)
