Internasional

Mantan Pekerja Katering Tuntut Upah Ribuan yang Belum Dibayar; Sonia Garcia Monuz

×

Mantan Pekerja Katering Tuntut Upah Ribuan yang Belum Dibayar; Sonia Garcia Monuz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ex-catering workers claim they are owed thousands in unpaid wages

jurnalistik.co.id – Banyak pekerja katering yang telah meninggalkan tempat kerja merasa harus berjuang sendiri untuk memulihkan hak yang mereka nilai belum dibayar. Kasus-kasus seperti ini, menurut Acas, makin sering masuk ke jalur penyelesaian sejak beberapa tahun terakhir.

Salah satu yang menyampaikan keluhan adalah Sonia Garcia Monuz. Ia mengatakan hanya ingin mendapatkan upah yang menurutnya menjadi haknya. “I just want my wages. It’s my hard work. I just want what I’m owed.” ucapnya saat menjelaskan situasi yang dialaminya.

Sonia bekerja penuh waktu sebagai juru masak di Viking Catering Ltd mulai Juni 2024. Menurut pengakuannya, enam bulan pertama berjalan positif, sebelum serangkaian perselisihan dengan pemilik menyebabkan ia mengundurkan diri dan pergi pada Agustus 2025.

Ia menyatakan bahwa upah akhir belum pernah diterimanya dalam bentuk paket pembayaran terakhir. Sonia mengatakan ia masih menunggak sebesar ÂŁ2,300 dan merasa kondisi itu berdampak langsung pada kehidupannya.

Sonia juga menilai ia bukan satu-satunya orang yang menunggu pembayaran. “A lot of us are waiting for our wages to pay our bills,” katanya. Ia menambahkan, “Some people don’t have savings. I was working to survive… I had to use my credit card in order to pay my rent and I had to ask for money from my family.”

Untuk mengejar haknya, Sonia mengajukan klaim ke Acas. Namun proses penagihan itu, menurutnya, bukan sekadar urusan administratif. Ia menggambarkan pengejaran upah sebagai sesuatu yang menguras tenaga dan menimbulkan rasa tak berdaya. “…and makes her feel ‘powerless’.”

Lonjakan kasus upah tak dibayar dan dampaknya

Acas menyebut perkara di jalur early conciliation untuk upah tak dibayar meningkat sekitar 17% antara 2024 dan 2025. Lembaga itu juga menyatakan hampir separuh pekerja di sektor hospitality, yakni 49%, mengalami masalah di tempat kerja.

Dalam penjelasannya, Acas menekankan bahwa keterlambatan atau ketidaksesuaian pembayaran upah dapat menjadi perbedaan besar bagi pekerja yang tidak memiliki tabungan. Poin ini juga muncul dalam kesaksian pekerja lain yang berusaha mendapatkan kembali upah mereka.

Salah satunya adalah Joan Fullbrook. Ia berharap menikmati masa pensiun, tetapi justru masih harus mengejar uang yang diyakini belum dibayarkan. Joan pernah bekerja untuk perusahaan katering lain yang dimiliki oleh seorang perempuan pengusaha berbasis Hampshire, yakni Martha Lindeque.

Joan menceritakan bahwa upayanya dibalas dengan perlakuan yang tidak sesuai harapannya. “I worked hard every day in that kitchen and that was how I was repaid. It makes me sick to be treated this way,” kata Joan.

Catatan employment tribunal menunjukkan bahwa Joan memenangkan perkara terhadap Chef2Table Ltd. Ia menuduh adanya “unauthorised deductions” dari upahnya setelah ia meninggalkan bisnis tersebut. Meski memenangkan kasus, Joan mengatakan perusahaan tidak melunasi uang sebesar £1,498 yang dijatuhkan.

Menurutnya, nominal tersebut bukan angka kecil jika seseorang bekerja untuk bertahan hidup. “When you’re working to live, these aren’t small sums of money. It wasn’t for luxuries, it was to survive. I was working to pay my bills,” ujar Joan.

Kini Joan menempuh upaya lanjutan dengan mengejar uang itu melalui county courts.

Putaran perjuangan lain: dari upah hingga persoalan pengantaran

Masalah serupa juga diungkap George Weal. Ia memulai pekerjaan di Chef2Table Ltd saat berusia 21 tahun. George mengatakan ia mulai bekerja, kemudian keluar dalam hitungan bulan setelah menemukan bahwa truk van makanan yang ia kemudikan untuk antar pengiriman tidak memiliki izin pajak dan tidak diasuransikan.

George menyampaikan bahwa ia tidak mengetahui kondisi tersebut sejak awal. Menurutnya, temuan itu bisa saja membuatnya menghadapi risiko kehilangan lisensi. Ia mengatakan ia memiliki “no idea about” hal tersebut dan “could have led to me losing my licence”.

George juga menyatakan tidak menerima pembayaran upah terakhir setelah meninggalkan perusahaan. Saat mencoba memulihkan haknya, ia merasa kewalahan. “felt ‘overwhelmed’ when trying to recover the money,” demikian gambaran yang ia berikan.

Dalam catatan employment tribunal, George memperoleh putusan sebesar ÂŁ1,052 untuk upah yang tidak dibayar pada Januari 2025. Namun ia mengaku Chef2Table Ltd tak pernah membayar jumlah tersebut.

George menilai proses ini menimbulkan tekanan besar. “It was just really stressful. Especially for someone of my age,” katanya. Ia menambahkan, “I had the backing of parents in that financial sense, but some people don’t, and could end up in a really bad situation with the loss of money.”

Nasihat Acas bagi pekerja yang mengalami upah tidak dibayar

Acas membantu pekerja maupun pemberi kerja melalui panduan gratis yang bersifat netral. Chrissy Bell, yang digambarkan sebagai senior advisor Acas, menyampaikan bahwa pengalaman di layanan teleponnya mencakup banyak kasus terkait hak ketenagakerjaan.

Chrissy menekankan dampak keterlambatan upah bagi orang yang tidak memiliki cadangan dana. “If someone is expecting their wages on a certain date and it doesn’t arrive or it doesn’t arrive in full, then if people haven’t got savings, even a small amount of difference can be the difference between them paying their bills and not being able to pay them,” ujarnya.

Bagi mereka yang yakin tidak dibayar sesuai haknya, Chrissy menyarankan langkah awal: menghitung jumlah yang seharusnya diterima. “Firstly, work out the amount you should have been paid. So check payslips, timesheets, contracts and the first step is to speak to the employers, as there may have been a genuine mistake.”

Jika cara internal tidak menghasilkan penyelesaian, ia menyarankan membuat pengaduan yang lebih formal dalam bentuk tertulis. Langkah itu harus memuat bukti, termasuk timesheets, lalu memberi kesempatan yang wajar bagi pemberi kerja untuk menanggapi.

Chrissy mengatakan jika persoalan tidak selesai setelah waktu yang masuk akal melalui jalur internal, pihak yang merasa masih memiliki upah terutang dapat mempertimbangkan pengajuan ke employment tribunal. Ia menambahkan, “If someone gets an award at an employment tribunal then there are systems in place to help them enforce it if necessary,”.

Martha Lindeque menolak memberikan pernyataan. Namun BBC memahami sikapnya adalah ia sangat menolak tuduhan yang diajukan oleh mantan stafnya.