Olahraga

Eddie Howe Mundur, Apakah Ini Tanda Awal Redupnya Mimpi Arab Saudi Newcastle?

×

Eddie Howe Mundur, Apakah Ini Tanda Awal Redupnya Mimpi Arab Saudi Newcastle?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Eddie Howe: Does Newcastle manager's departure mark the beginning of the end of Saudi dream?

jurnalistik.co.id – Target menjadi klub kelas dunia yang dikejar Newcastle bersama pemilik Arab Saudi sudah lama dipatok dalam percakapan internal. Pada 2030, CEO David Hopkinson pernah menyebut Newcastle bisa “in the debate about being the top club in the world”. Namun, pemisahan antara ambisi tersebut dan kenyataan musim ini terasa makin nyata.

Pergantian pelatih Eddie Howe pada Kamis, bersamaan dengan laporan penunjukan Matthias Jaissle, datang setelah kampanye Premier League yang mengecewakan. Newcastle finis di posisi 12 dan menutup musim dengan jendela transfer yang tak cukup meyakinkan, di tengah tuntutan untuk menjual pemain demi menghasilkan pemasukan agar bisa membelanjakan lebih banyak.

Di musim panas, dinamika itu ikut memperbesar pertanyaan: apakah keputusan Howe menandai masalah yang lebih besar di balik proyek jangka panjang? Dalam rentang yang tidak panjang, klub melepas beberapa nama yang dianggap kunci, termasuk Anthony Gordon dan Sandro Tonali. Kapten Bruno Guimaraes juga disebut-sebut bisa menjadi bagian dari daftar yang akan pergi.

Perpindahan besar sebelumnya bahkan sudah terjadi lebih dulu. Alexander Isak dilaporkan dijual ke Liverpool dengan nilai ÂŁ125 juta pada September lalu. Sementara itu, perekrutan alternatif tidak selalu berjalan: Newcastle gagal mendapatkan gelandang Swiss Johan Manzambi dari Aston Villa, dan juga tersaingi dalam usaha merekrut winger Spanyol Victor Munoz yang berujung ke Liverpool.

Konstelasi inilah yang membuat langkah terbaru Newcastle terlihat seperti ujung dari rangkaian keputusan finansial dan performa. Pengambilalihan oleh Public Investment Fund (PIF) pada 2021 semestinya mengantar klub masuk jajaran elit dunia, tetapi dalam beberapa periode terakhir muncul sinyal yang memicu keraguan tentang momentum yang tengah menurun.

Rangkaian hasil buruk dan timing yang dipertanyakan

Howe memang membawa Newcastle menutup penantian 70 tahun untuk trofi domestik lewat kemenangan Carabao Cup pada musim lalu. Namun, rumor mengenai kepergiannya sudah beredar sejak awal tahun, ketika Newcastle masih berada di urutan ke-13 dan kualifikasi Liga Champions untuk musim berikutnya mulai tampak tidak mungkin.

Tekanan itu bertambah pada Maret, saat Newcastle menelan kekalahan di derby Tyne-Wear. Sunderland bangkit di akhir pertandingan untuk mengalahkan Newcastle 2-1 di St James’ Park, memperpanjang catatan menyakitkan Newcastle terhadap rival lokal menjadi 15 tahun tanpa kemenangan di liga. Di kompetisi lain, langkah Newcastle juga terhenti: tersingkir dari Piala FA pada putaran kelima, keluar dari Liga Champions di fase 16 besar, serta mencapai semifinal EFL Cup sebelum akhirnya dipukul telak 5-1 oleh Manchester City dalam dua leg.

Meskipun demikian, bagi banyak pendukung, yang paling membuat mereka bingung justru kapan keputusan ini muncul. Howe, yang sebelumnya bisa saja berpamitan di akhir musim dengan kemungkinan perpisahan yang lebih “positif” dari suporter, justru mengambil keputusan setelah memulai pramusim. Dalam pemahaman yang beredar, pengganti potensial sudah mulai didiskusikan pada Juli, termasuk nama Kieran McKenna.

Dalam prosesnya, kesulitan membangun skuat yang benar-benar sesuai keinginan pelatih dinilai menjadi faktor yang menumpuk. Ketika situasi berantakan, Howe sempat mengingatkan soal batas yang harus dihadapi. Pada Maret, ia mengatakan “there’s a limit to what we can spend”, dan dipahami pula ia menyampaikan niat untuk pergi sekitar dua minggu sebelum keputusan resmi.

Kepergian Howe juga terjadi di tengah pergantian komposisi skuat yang sulit diterima banyak pihak. Dalam satu tahun, Newcastle melepas tiga pemain terbaiknya: Isak ke Liverpool pada musim panas lalu, Gordon ke Barcelona pada tahun ini, serta Tonali ke Tottenham. Jika langkah berikutnya benar-benar melibatkan Guimaraes, pola penjualan seperti itu tentu tidak mudah selaras dengan target menjadi klub papan atas.

Sejumlah figur internal pun bereaksi. Mantan bek Newcastle Steve Howey menyampaikan kepada BBC Radio Newcastle: “I’m shocked but at the same time kind of not.” Ia menambahkan, “Eddie for a long time has basically had to put fires out. You are losing your best players. You can understand the frustration with him when he’s trying to build something but you’re having that semi-taken away losing your best players. It’s always going to be difficult. You can understand his frustration.”

Sejauh mana aturan finansial membatasi “mimpi Saudi”

Untuk memahami apakah dukungan dari PIF mulai kehilangan tenaga, artikel ini mengarahkan perhatian pada regulasi finansial. Sejak awal pengambilalihan, Profit and Sustainability Rules (PSR) memberi rem yang membatasi ambisi Newcastle untuk membelanjakan besar di bursa transfer. Kekayaan pemilik tidak otomatis berarti klub bisa melakukan pengeluaran tak terbatas.

Dalam tiga tahun pertama setelah membeli klub, PIF menggelontorkan ÂŁ404.7 juta. Namun, hanya ÂŁ50.4 juta yang masuk dari hasil penjualan pemain, sehingga realitas PSR pada akhirnya menghantam performa finansial klub pada 2024. Dampaknya bergulir: Newcastle terpaksa melepas talenta lokal Elliot Anderson ke Nottingham Forest, dan efek tersebut terus melebar karena penjualan pemain penting terjadi dari musim ke musim.

Di sisi lain, Newcastle juga menyambut penerapan aturan fair play finansial baru, yakni Squad Cost Ratio (SCR). Pada prinsipnya, aturan ini mengaitkan kemampuan belanja dengan seberapa besar pemasukan yang dihasilkan. Akan tetapi, ketika dibandingkan dengan klub lain, anggaran SCR Newcastle berada di peringkat kesembilan dengan angka sekitar ÂŁ243 juta.

Selain aspek aturan internal, ada pula pergeseran dari sisi arah investasi yang ikut menambah pertanyaan. Pada April, PIF menarik dukungan multiyear terhadap LIV Golf setelah Yasir Al-Rumayyan—gubernur dan ketua PIF—menegaskan dana tersebut sedang meninjau kesepakatan dan investasi. Meski saat itu pihak senior klub diberi penjelasan bahwa penarikan tersebut tidak memengaruhi klub, publik tetap membaca sinyalnya sebagai bagian dari perubahan sikap.

Walau begitu, performa keuangan Newcastle juga dilaporkan menunjukkan peningkatan. Pada laporan keuangan paling baru untuk musim lalu, pendapatan klub lebih dari dua kali lipat menjadi £335.3 juta, naik dari £140.2 juta pada kampanye terakhir penuh era Mike Ashley. Klub juga disebut menyiapkan rencana fasilitas latihan yang lebih modern, sementara Hopkinson mengungkapkan keinginan untuk menata ulang St James’ Park atau bahkan mempertimbangkan perpindahan stadion untuk menaikkan pendapatan hari pertandingan.

Nama Jaissle turut mendapat sorotan karena latar pekerjaannya. Ia dikaitkan sebagai kandidat pelatih baru ketika saat ini menangani klub Al-Ahli di Arab Saudi—klub yang sebelumnya memiliki saham mayoritas dari PIF hingga dijual pada April. Karena itu, kedatangan Jaissle dianggap menarik, tetapi tetap memunculkan pertanyaan soal kapan proyek besar itu benar-benar berujung pada performa yang konsisten.

Transfer musim panas, kekhawatiran, dan kesepakatan yang dinilai tidak panas

Dalam bagian lain, proses transisi ini juga terkait cara klub merancang skuat berikutnya. Dipahami Newcastle berkomunikasi dengan Howe mengenai niatnya untuk pergi sekitar dua pekan sebelum keputusan final. Awalnya klub meminta Howe untuk mempertimbangkan ulang agar bisa memimpin hingga musim depan, tetapi pada akhirnya Newcastle menerima keinginannya sambil meminta Howe tetap berada sebentar untuk memastikan pengganti sudah diidentifikasi. Permintaan tersebut disetujui oleh sang pelatih.

Langkah transfer musim panas juga disebut menjadi sorotan. Dalam laporan pada April, Newcastle disebut membutuhkan penjualan setidaknya satu pemain top di jendela transfer yang sedang berlangsung agar sesuai dengan regulasi keuangan. Di saat yang sama, rekrutmen yang digadang lebih banyak mengarah pada pemain muda dan belum teruji, termasuk Bazoumana Traore dan Aladji Bamba.

Strategi seperti itu dilaporkan menimbulkan kekhawatiran soal bentuk skuat yang akan dipakai musim depan dan seberapa kompetitif Newcastle. Meski begitu, dinyatakan pula bahwa faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri sebagai penyebab Howe mundur, dan hubungan kedua pihak digambarkan bersifat cukup baik—perpisahan tanpa konflik besar.

Dengan rangkaian hasil yang menekan, aturan yang membatasi belanja, serta penjualan pemain penting yang terus berlanjut, keputusan Howe terasa lebih dari sekadar perubahan pelatih. Bagi Newcastle, pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa penggantinya, melainkan apakah langkah berikutnya mampu memulihkan daya saing agar ambisi menjadi klub kelas dunia tidak berhenti di slogan.