Internasional

Air Force One baru Trump Tersebar ke Publik, Disiapkan “Dikandangkan” Sekitar Sebulan

×

Air Force One baru Trump Tersebar ke Publik, Disiapkan “Dikandangkan” Sekitar Sebulan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kelemahan Air Force One Anyar Bocor ke Publik, Langsung Dikandangkan Sebulan

jurnalistik.co.id – Pesawat Air Force One baru milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan dinonaktifkan sementara selama sekitar satu bulan pada musim gugur mendatang. Gedung Putih menyebut jet Boeing yang dihibahkan Qatar itu perlu menjalani peningkatan dan penyempurnaan tambahan sebelum kembali digunakan secara penuh.

Kabar tersebut muncul sehari setelah Trump secara terbuka mengakui bahwa Air Force One terbarunya membutuhkan lebih banyak fitur. Publik kemudian menyoroti kesiapan sistem pertahanan pada pesawat kepresidenan generasi baru tersebut, khususnya dibandingkan model yang selama ini dipakai.

Menurut konfirmasi Gedung Putih, kondisi armada anyar itu sebenarnya tetap dinilai aman untuk perjalanan presiden. Namun, proses penguatan dan perbaikan tambahan akan dilakukan pada musim gugur, sehingga penerbangan sementara akan dialihkan ke pesawat yang lama.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan hal tersebut lewat pernyataan yang dikutip dari New York Times pada Senin (20/7/2026). Leavitt menyebut, “Pesawat Air Force One yang baru sangat aman untuk perjalanan presiden, tetapi akan menerima peningkatan dan perbaikan tambahan pada musim gugur yang akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk diselesaikan,” ujar Leavitt. “Selama waktu itu, presiden akan terbang dengan pesawat Air Force One yang lama,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Leavitt tidak merinci peningkatan seperti apa yang akan diterapkan pada jet tersebut. Di sisi lain, akun resmi Gedung Putih di media sosial X menggambarkan rencana perbaikan ini sebagai bentuk “planemaxxing”, istilah slang internet yang merujuk pada proses optimasi.

Air Force One baru yang dipersoalkan merupakan hadiah dari keluarga kerajaan Qatar berupa Boeing 747-8. Pesawat tersebut, meski berusia 13 tahun, disebut memiliki nilai sekitar $400 juta ketika diserahkan untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan baru.

Trump tercatat baru satu kali mengudara dengan pesawat hibah tersebut. Kejadiannya terjadi saat ia menghadiri KTT NATO di Turkiye pada awal bulan ini, ketika ia menggunakan Air Force One baru untuk penerbangan yang terkait agenda tersebut.

Meski sempat terbang dengan pesawat baru, Trump tidak memakai armada itu secara penuh hingga akhir perjalanan. Dalam beberapa segmen penerbangan, ia berpindah menggunakan Air Force One lama sebelum akhirnya kembali naik jet Qatar itu untuk rute penerbangan menuju Amerika Serikat.

Peralihan armada terjadi ketika Trump menempuh penerbangan dari Turkiye menuju Inggris dengan pesawat lama, lalu setelah itu kembali menggunakan Air Force One baru. Berdasarkan laporan awal New York Times, pergantian tersebut dilakukan atas permintaan Dinas Rahasia.

Para petugas pengawalan dilaporkan menyampaikan kekhawatiran mereka saat peperangan dengan Iran kembali menghangat. Dalam konteks tersebut, perubahan penggunaan pesawat kepresidenan dilakukan sebagai bagian dari penilaian keamanan dan kesiapan operasional.

New York Times juga mengungkap bahwa Air Force One baru belum dilengkapi penanggulangan pertahanan yang setara dengan model lama. Salah satu kemampuan yang disebut belum tersedia pada jet baru adalah kemampuan anti-rudal.

Selain sorotan mengenai perbedaan sistem pertahanan, pemberitaan juga menyinggung momen pengenalan dan kunjungan ke pesawat. Trump diketahui berpidato usai mengunjungi Air Force One terbaru dalam armada kepresidenan di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Maryland, pada Jumat (19/6/2026) di Joint Base Andrews.

Dengan demikian, penonaktifan sementara selama sekitar satu bulan pada musim gugur berfungsi sebagai fase peningkatan sebelum pesawat kembali digunakan. Sementara perbaikan berjalan, presiden akan menggunakan Air Force One lama untuk memastikan kelangsungan penerbangan kepresidenan selama periode transisi.

Meski rincian teknis tidak dipaparkan secara terbuka, pilihan untuk mengalihkan penerbangan ke pesawat lama memperlihatkan bahwa kebutuhan penyempurnaan tetap menjadi pertimbangan operasional. Pada saat yang sama, pernyataan Gedung Putih menekankan bahwa keselamatan perjalanan presiden tetap menjadi prioritas selama proses peningkatan berlangsung.