jurnalistik.co.id – Reuben Ward mengubah mimpi yang berawal di Glasgow menjadi kenyataan di Commonwealth Games 2026. Dua belas tahun lalu, ia menyaksikan Dan Keatings membawa pulang emas senam untuk Skotlandia di kota yang sama; kini Ward berdiri sebagai peraih emas dan merasakan momen yang terasa seperti lingkaran penuh.
Ward mengingat bagaimana tayangan keberhasilan Keatings saat itu langsung menetapkan arah dalam pikirannya. Pada usia sembilan tahun, gagasan untuk tampil mewakili Skotlandia di Commonwealth Games mulai terbentuk—bukan sekadar ingin ikut, tetapi ingin mengenakan seragam dan merasakan atmosfer persaingan di ajang itu.
Ia baru bisa merasakan langsung arti “besar” dari momen tersebut ketika namanya diumumkan sebagai juara all-around Glasgow 2026 di Emirates Arena. Saat arena dipenuhi sorak-sorai, Ward menjadi emas ketiga Skotlandia pada hari ketiga pertandingan, sebuah capaian yang melampaui bayangannya semula.
“I remember seeing him win and seeing how it was a big deal to people and I thought ‘I want to do that’,” kata Ward kepada BBC Sport Scotland, mengulang kembali kilasan keberhasilan Keatings saat ia masih menjadi penonton. “So to be here now, having done it myself, is spectacular. It’s such a full-circle moment. Glasgow and East Kilbride have been like second homes to me my entire life so to do it here is incredibly special.”
Bagi Ward, hubungan emosional dengan wilayah itu bukan hal baru. Ia menyebut bahwa orang tuanya, Brendan dan Lisa, pindah dari East Kilbride ke Bury sebelum ia lahir, sehingga sejak awal hidupnya ia tumbuh dengan kedekatan yang terus kembali ke Skotlandia dan lingkungan yang membentuknya.
Di sisi lain, menjelang kompetisi, ada keyakinan bahwa Ward mampu bersaing memperebutkan posisi terdepan. Prediksi yang sempat mengemuka lebih realistis pada awalnya—mungkin perunggu, bahkan potensi perak—namun rekan-rekannya diam-diam membuka kemungkinan bahwa emas bisa saja jatuh ke tangannya jika semuanya berjalan sesuai rencana.
Mereka menilai Ward berada pada kondisi yang tepat setelah melihat penampilannya selama latihan, sekaligus ketika tampil dalam nomor beregu pada Jumat. Saat itu tim Skotlandia finis keempat, dan pengalaman berada di kompetisi dengan tekanan serupa menjadi bagian dari persiapan sebelum all-around.
Dalam putaran yang menentukan, Ward tidak langsung memimpin. Ia berada di posisi ketujuh setelah menjalani lantai. Namun momentum berbalik cepat setelah ia melangkah ke kuda pelana (pommel), lalu melaju masuk ke papan atas dengan penampilan yang dinilai sangat kuat.
Keunggulan tersebut tidak langsung hilang ketika ia melanjutkan ke gelang-gelang (rings). Pada fase ini, beberapa pejabat Team Scotland dan media Skotlandia mulai berdatangan perlahan-lahan, seakan mendengar sinyal bahwa emas memang bisa menjadi target yang realistis.
Detail lain yang membuat hasilnya semakin berarti adalah situasi berbeda di nomor vault. Dalam beregu, Ward sempat menghadapi kendala kecil pada run-up sehingga ia harus beradaptasi cepat; ia hanya mampu menjalankan dua putaran. Kali ini, ia tampil lebih meyakinkan dan menyelesaikan tiga putaran sebelum dua rotasi terakhir.
Di palang sejajar (parallel bars), performa Ward kembali menegaskan konsistensinya. Tim juga mengajukan banding yang dinilai “judicious” sehingga mendapatkan tambahan 0.100. Dengan tambahan itu, keunggulan Ward bertahan pada jarak 0.550.
Berita Terkait
Angka tersebut memberi gambaran yang jelas: agar bisa mengunci emas, Ward perlu menjaga bentuk dan eksekusinya pada palang tunggal (horizontal bar). Pada titik inilah perlombaan berubah menjadi penentuan akhir.
Ward memenuhi kebutuhan tersebut—bahkan lebih. Ketika ia mendarat dengan mantap, pelatihnya, Jake Seager, langsung berlutut dan merayakan kemenangan. Ada momen yang terasa “belum resmi” saat itu, tetapi keduanya paham bahwa hasil yang dicapai sudah sangat dekat dengan harapan.
“I like to imagine the best scenario possible and that was winning,” tambah Ward ketika ditanya apa yang terlintas dalam pikirannya setelah kepala menyentuh bantal pada Sabtu malam. Ia mengatakan bahwa imajinasi itu sempat membuatnya sulit tidur, karena ia membayangkan jalannya pertandingan sekaligus merasakan emosi yang menyertai gambaran tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa kemenangan itu tetap melampaui ekspektasinya. “But this beat the expectations by a mile.”
Ia juga berbicara tentang rasa yang ia rasakan setelah kegagalan sehari sebelumnya. “Falling short on Friday was heartbreaking and I’m just so overwhelmed, man. I can barely put words together.”
Langkah berikutnya di Commonwealth Games
Kemenangan di all-around tidak mengakhiri perjalanan Ward di Games ini. Ia masih akan melanjutkan nomor lantai dan pommel pada Senin, dan menurut evaluasi yang ada, ia adalah kandidat medali yang nyata untuk nomor-nomor berikutnya.
Meski begitu, ia menunda perayaan besar untuk sementara. Jadwalnya mengarah pada momen bersama tim. Pada Selasa, Ward berpotensi merayakan dengan rekan-rekan Skotlandia dengan berbagai kegembiraan ala tim setelah seluruh rangkaian kompetisi berjalan.
Ward menggambarkan ritme hari-harinya setelah kemenangan. “Tonight looks like eating hotel food and probably getting a pretty bad night’s sleep,” ujarnya. “Then I’ll come in tomorrow, and try to relax and hit my routine.”
Ia menambahkan bahwa pada Selasa—setelah kompetisi—ia ingin merayakan lebih besar bersama “tim inti”-nya. “On Tuesday, after the competition, I’ll celebrate big time with the team, with my boys.”
Ia juga mengungkapkan bahwa momen saat ia menjalani putaran di arena dikejutkan oleh kehadiran orang-orang yang ia sayangi. “I love them so much and them coming to see me at the end when I was going around of the arena was special.”
Harapannya tidak hanya berhenti pada medali yang sudah didapat. “I’m hoping we’ll get to experience a bit of Glasgow..” Dengan kata-kata itu, Ward menutup perayaan awalnya sekaligus membuka babak lanjutan—tetap membawa semangat penuh, namun fokus pada rutinitas dan nomor berikutnya.












