jurnalistik.co.id – Upaya Presiden Donald Trump membangun tembok tarif di Amerika Serikat kembali menemukan sandaran baru. Kali ini, narasi yang dipakai adalah tuduhan bahwa sejumlah barang diproduksi dengan kerja paksa.
Sepanjang masa jabatannya, Trump berulang kali mencari alasan untuk mengenakan bea tambahan kepada sekutu dekat. Dari krisis opioid hingga isu migrasi ilegal, lalu dorongan memulangkan manufaktur ke “tanah” AS, daftar justifikasinya terus bertambah.
Di periode kedua, alasan tarif itu bahkan muncul hampir tiap bulan. Sebagian langkahnya pernah dibatalkan oleh pengadilan, sebagian lagi kandas oleh penilaian ekonomi, dan ada juga yang dianggap bertabrakan dengan logika kebijakannya sendiri.
Namun, kali ini, pendekatan yang mengemuka adalah upaya menjadikan soal kerja paksa sebagai dasar penguat. Tuduhan tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi tarif ketika menghadapi potensi gugatan dari Kongres atau proses hukum di pengadilan.
Dalam praktiknya, skema yang diterapkan untuk negara-negara mitra dagang juga menunjukkan kemiripan yang “janggal” dibanding putaran tarif sebelumnya. Meski disebut memiliki alasan yang berbeda, pola tarif berdasarkan negara dinilai tetap berada di sekitar rezim yang sudah ada.
EU mendapat posisi lebih baik dibanding Inggris
Bagi Inggris, kabar yang semula dianggap positif adalah rezim tarif pada dasarnya tidak berubah secara total. Titik perbedaannya justru datang dari tempat terdekat: Uni Eropa kini memperoleh perlakuan yang lebih menguntungkan ketimbang sebelumnya.
Secara tampilan, baik Inggris maupun Uni Eropa sama-sama berangkat dari angka tarif sekitar 10%. Akan tetapi, bentuk penerapannya tidak identik: Uni Eropa memakai tarif dengan tarif datar, sementara Inggris menerapkan bea itu di samping tarif lain.
Tarif Inggris diuraikan akan berlaku untuk sejumlah kategori barang, termasuk sepatu dan tekstil. Karena bersanding dengan tarif lain, struktur akhirnya membuat dampak yang dirasakan berbeda dibanding skema Eropa.
Pemerintah Inggris juga disebut telah mengamankan “side deal” yang efektif untuk beberapa komoditas. Paket itu mencakup obat-obatan, baja, aluminium, mobil, serta wiski—yang disebut mendapat bantuan dari Raja Charles.
Meski demikian, pada tahap akhir, estimasi tarif efektif berbasis perdagangan yang tertimbang (trade-weighted) untuk Uni Eropa dapat berakhir sedikit lebih rendah daripada Inggris. Angka yang disebutkan adalah 8,5% untuk Uni Eropa dan 6,8% untuk Inggris, sehingga selisihnya tidak terlalu jauh.
Secara teori, selisih tersebut mungkin tidak terasa besar. Tetapi, dorongan yang muncul dari kesepakatan awal serta kebebasan dagang pasca-Brexit disebut tampak singkat usianya.
William Bain, pakar perdagangan dari British Chambers of Commerce, menyoroti konsekuensinya bagi daya saing. Dalam beberapa sektor, eksportir Uni Eropa dinilai bisa meraih keuntungan saat menjual ke pasar AS.
Alasannya bukan sekadar tarif angka, melainkan aturan yang menyertai dasar tuduhan kerja paksa. Uni Eropa disebut memperoleh perlakuan lebih baik karena telah meloloskan larangan atas barang yang berpotensi terkait kerja paksa, sementara Inggris belum melakukan langkah legislasi yang setara.
Berita Terkait
Perlu dicatat, narasi ini tidak diarahkan sebagai tuduhan menyeluruh bahwa rantai pasok Inggris benar-benar menggunakan kerja paksa. Intinya adalah perbedaan pada regulasi spesifik yang disahkan: skema Eropa meniru pelarangan AS terhadap produk yang memakai kerja paksa di rantai pasok.
Risiko kebijakan dan hubungan dengan China
Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan bagi Inggris: apakah kebijakan yang saat ini ada akan didorong untuk berubah mengikuti model Eropa. Secara luas, langkah tarif berbasis kerja paksa juga dibaca sebagai “jalur belakang” untuk menekan China.
Dalam pembacaan itu, perhatian khusus diarahkan pada konteks provinsi Xinjiang. Karena itulah, setiap perubahan hukum atau regulasi terkait kerja paksa di Inggris menjadi sensitif secara politik dan ekonomi.
Pada bulan Oktober lalu, pemerintah Inggris disebut menyatakan tetap menentang keras penggunaan kerja paksa yang dipaksakan negara. Namun, pemerintah juga menyebut tengah mempertimbangkan cara terbaik untuk mencerminkan posisi tersebut, dengan alasan kompleksitas operasional dan hukum.
Sejak pernyataan itu, hubungan dagang Inggris dengan China digambarkan tetap bergerak. Inggris disebut menyambut impor mobil dari China, sekaligus menjajaki kesepakatan perdagangan layanan dengan negara tersebut.
Dengan kata lain, hubungan Inggris–China dipotret sebagai permainan keseimbangan kebijakan. Di satu sisi, ada tekanan kebijakan yang bisa menuntut kepastian norma kerja paksa, di sisi lain ada agenda dagang yang terus dijalankan.
Perang tarif memetakan ulang arah perdagangan
Kasus ini juga ditempatkan dalam gambaran lebih besar tentang perang tarif global. Ketika AS berkali-kali berganti alasan tarif, pihak lain justru menaruh fokus untuk mengatur ulang perdagangan mereka satu sama lain.
Contohnya, Kanada dikatakan meningkatkan perdagangan dengan seluruh dunia lebih banyak daripada yang hilang dari AS. Data lain menyebut total perdagangan China dengan AS dalam ukuran dolar tetap datar pada paruh pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, perdagangan China naik 21% di berbagai tujuan. Di rincian mitra, kenaikan itu disebut mencakup 14% dengan Uni Eropa, 11% dengan Inggris, serta 24% dengan Afrika.
Kondisi tersebut memberi tekanan baru pada agenda kebijakan di negara-negara lain. Ada kemungkinan muncul dorongan untuk mengubah dari rezim yang lebih ringan ke aturan formal yang melarang produk terkait kerja paksa.
Pemerintah-pemerintah sebelumnya disebut memilih pendekatan “due diligence” sukarela yang lebih ringan. Kini, pertanyaan besarnya adalah apakah AS akan benar-benar memaksa perubahan di Inggris dan negara lain, serta imbalan apa yang mungkin ditawarkan sebagai pengarah kebijakan.
Alternatif lain adalah Inggris tetap menjaga posisi geopolitiknya yang dianggap rapuh. Yakni, dengan mempertahankan kesepakatan yang sudah ada di bidang obat-obatan, logam (metals), dan mobil, tanpa memperluas larangan yang sepenuhnya meniru jalur Eropa.












