jurnalistik.co.id – Allianz SE berencana melakukan pemangkasan jumlah pekerjaan di anak usaha yang fokus pada layanan bantuan serta asuransi perjalanan, yakni Allianz Partners. Langkah ini dikaitkan dengan upaya perusahaan menerapkan solusi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai proses operasional.
Keputusan tersebut diumumkan dalam sebuah acara pada Selasa malam di Munich. Dalam kesempatan itu, CEO Allianz Partners, Tomas Kunzmann, menyatakan pemotongan tenaga kerja diperkirakan berdampak pada kisaran 1.500 hingga 1.800 posisi di seluruh Eropa.
“Selama enam bulan terakhir, kami telah bernegosiasi dengan rekan-rekan kami di dewan pekerja,” kata Kunzmann, seraya menuturkan bahwa proses penyesuaian pekerjaan dilakukan lewat mekanisme yang melibatkan perundingan dengan pihak perwakilan pekerja.
Menurut penjelasan yang disampaikan, pengurangan karyawan akan ditempuh melalui sejumlah opsi, termasuk perjanjian pesangon, pensiun dini, serta skema lain yang serupa. Dengan cara tersebut, perusahaan menyiapkan jalur transisi bagi sebagian tenaga kerja yang terdampak.
Allianz Partners sendiri diketahui mempekerjakan lebih dari 22.000 orang. Dalam konteks transformasi internal, perusahaan sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa perubahan yang didorong oleh AI berpotensi memengaruhi struktur tenaga kerja di masa mendatang.
Dalam rangkaian negosiasi itu, tawaran cuti sukarela disebut telah diperluas ke beberapa negara. Kunzmann menyebut ekspansi opsi tersebut mencakup Spanyol, Prancis, Jerman, Italia, serta negara-negara Benelux.
Perluasan cuti sukarela tersebut juga menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengelola dampak adaptasi teknologi terhadap organisasi. Dengan kata lain, penyesuaian dilakukan secara bertahap melalui berbagai instrumen yang disepakati bersama pihak terkait.
Berita Terkait
Allianz Partners menyebut teknologi sebagai faktor utama yang mendorong pemangkasan. Perusahaan memandang penerapan AI sebagai penggerak efisiensi yang kemudian berimbas pada kebutuhan tenaga kerja dalam layanan assistance dan travel insurance.
Proses perampingan yang diproyeksikan di Eropa berada dalam kisaran yang sama seperti yang disampaikan pada kesempatan tersebut. Dengan target antara 1.500 dan 1.800 posisi, rencana ini mencerminkan skala penataan ulang layanan setelah perusahaan menilai pergeseran cara kerja akibat automasi dan penerapan sistem cerdas.
Di saat yang sama, langkah yang dilaksanakan tidak sepenuhnya hanya berbentuk pengurangan langsung. Skema pesangon, pensiun dini, dan opsi serupa menunjukkan bahwa perusahaan menempatkan strategi transisi sebagai bagian dari pelaksanaan pemotongan.
Dengan latar perundingan selama enam bulan serta perluasan cuti sukarela di sejumlah negara Eropa, Allianz Partners berupaya menjaga agar perubahan yang dibawa AI dapat dikelola melalui kesepakatan dengan dewan pekerja. Rencana pemangkasan yang diumumkan di Munich kemudian menjadi sinyal bahwa adaptasi berbasis AI mulai diturunkan menjadi konsekuensi terhadap komposisi tenaga kerja perusahaan.
Langkah pemangkasan ini juga diposisikan sebagai bagian dari rencana penataan ulang operasional yang lebih luas, seiring perusahaan mendorong pemanfaatan AI pada aktivitas kerja sehari-hari. Menurut paparan yang disampaikan, proses penyesuaian tidak berdiri sendiri, melainkan dikaitkan dengan perubahan cara layanan dijalankan, khususnya pada unit yang menangani kebutuhan bantuan serta asuransi perjalanan.
Dalam konteks tersebut, perusahaan menekankan bahwa hubungan dengan pihak perwakilan pekerja menjadi elemen penting sebelum kebijakan dijalankan. Perundingan yang berlangsung selama setengah tahun diarahkan untuk menyusun skenario dampak yang paling dapat dikelola, termasuk bagaimana perusahaan menyediakan opsi transisi bagi tenaga kerja yang terdampak melalui kombinasi pesangon, pensiun dini, dan instrumen lain yang serupa.
Selain cuti sukarela yang diperluas, kerangka penataan ulang juga digambarkan mencakup penyesuaian bertahap di beberapa wilayah Eropa. Ekspansi opsi sukarela tersebut disebut meliputi Spanyol, Prancis, Jerman, Italia, serta kawasan Benelux, sehingga perusahaan dapat mengatur pelaksanaan perubahan dengan pendekatan yang disesuaikan pada masing-masing negara. Dengan target sekitar 1.500 hingga 1.800 posisi di seluruh Eropa, rencana ini pada akhirnya menempatkan otomasi berbasis AI sebagai pendorong utama yang akan menentukan kebutuhan tenaga kerja dalam layanan assistance dan travel insurance.












