jurnalistik.co.id – Pembayaran kompensasi kepada korban cedera akibat e-bike dan e-scooter di Inggris telah menembus £110 juta. BBC melaporkan angka ini didapat dari proses klaim yang berlangsung hanya dalam tempo tujuh tahun sejak klaim pertama diajukan.
Kasus-kasus tersebut juga berujung pada kenaikan premi asuransi bagi pengemudi. Kebutuhan pendanaan untuk membayar tagihan korban membantu mendorong tarif yang harus ditanggung seluruh pemilik polis.
Dari penelusuran BBC, pembayaran terbesar dalam rentang waktu tersebut mencapai £20 juta. Informasi itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa kendaraan mobilitas mikro semakin sering menimbulkan risiko di ruang publik.
Alison (nama samaran) mengalami patah tulang di panggul, pergelangan tangan, serta jari, selain luka sayat dan memar ketika ditabrak sebuah e-scooter pribadi saat menyeberang jalan di Coventry tahun lalu. Ia berharap bisa memperoleh kompensasi untuk cedera yang dialaminya.
“It was a lovely sunny day so we were all in a really good mood,” kata Alison. Ia menggambarkan momen setelah kejadian sebagai sesuatu yang datang mendadak: “Then the next thing I knew, it was just gravel and I was on the floor.”
Menurut Alison, rasa sakitnya muncul seketika. “It was instant pain, you know when the TV does grey static? That’s what my eyes were doing.”
Alison menyatakan ia sedang berada di penyeberangan dan menganggap situasinya aman. Ia menuturkan, “I was on a crossing. I thought it was safe, you just don’t expect it.”
CCTV menunjukkan Trevor Chandler, pria berusia 47 tahun dari Coventry, mengendarai e-scooter dan menabrak langsung Alison serta seorang temannya saat menyeberang jalan. Setelah peristiwa itu, Chandler meninggalkan lokasi.
Chandler mengalami patah tulang kaki, namun sempat lolos sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara 15 bulan. Kendaraan yang dipakainya juga dihancurkan.
Motor Insurers Bureau (MIB), lembaga yang menyelesaikan klaim seperti yang diajukan Alison, mendorong agar penjualan kendaraan jenis ini diberi pengaturan yang lebih baik, bahkan dalam beberapa kasus ingin dibatasi hingga dilarang.
Para ahli menyebut biaya klaim korban telah menjadi salah satu pendorong kenaikan premi tahunan bagi masyarakat umum. Di jalan-jalan Inggris, kendaraan mobilitas mikro memang semakin lazim terlihat, tetapi juga dinilai sebagai bahaya yang signifikan.
Kendaraan mobilitas mikro—termasuk e-scooter, e-bike, skuter roda bagi disabilitas, dan kini e-unicycle—secara hukum diklasifikasikan sebagai kendaraan bermotor. Ratusan e-scooter boleh digunakan di kota-kota dalam kerangka uji coba resmi, tetapi hanya kendaraan yang terdaftar dalam skema operator yang diizinkan dikendarai.
Sementara itu, e-scooter yang dimiliki pribadi hanya boleh digunakan secara legal di lahan milik pemilik dengan izin. Di sisi lain, operasi penegakan rutin polisi kerap berujung pada penyitaan dan pemusnahan ratusan e-scooter setiap tahun, termasuk e-bike yang dimodifikasi agar bisa melaju lebih cepat dari 15.5mph—batas kecepatan maksimum yang diizinkan untuk dikendarai secara legal.
BBC juga mencatat momen awal klaim yang dibayarkan oleh MIB. Klaim pertama untuk korban yang terluka akibat e-scooter dibayarkan pada 2019, sedangkan klaim pertama untuk korban yang terluka akibat e-bike terjadi pada 2020.
Berita Terkait
MIB adalah organisasi nirlaba yang membayar kompensasi kepada korban kecelakaan yang melibatkan kendaraan tanpa asuransi. Perusahaan asuransi utama membayar pungutan (levy) kepada MIB, sehingga pada akhirnya premi yang ditanggung semua pemegang polis kendaraan turut terdorong naik.
Pada 2025, tercatat 168 klaim untuk kecelakaan yang melibatkan kedua jenis kendaraan tersebut—angka tertinggi sejauh ini. Dalam kasus tunggal terburuk, seorang anak mengalami cedera yang mengubah hidup secara permanen dan dibayar £20 juta.
Total kumulatif pembayaran meningkat dari £51 juta menjadi £110 juta dalam 12 bulan terakhir. BBC juga menyoroti sejumlah kasus paling mengagetkan yang muncul dalam periode tersebut.
Dalam salah satu perkara yang paling menguatkan kekhawatiran publik, Billy Stokoe, 19 tahun, dipenjara selama enam tahun dan sembilan bulan setelah membunuh Gloria Stephenson yang berusia 86 tahun ketika ia menabraknya dengan e-bike pada Juli 2025 di Sunderland. Stokoe menggunakan ponsel saat kejadian dan mengonsumsi kanabis.
Ia dinyatakan bersalah karena menyebabkan kematian dengan mengemudi berbahaya. Kasus Stokoe saat ini sedang ditinjau di bawah skema “unduly lenient sentences scheme”.
Kembali ke Coventry, Alison menyebut dirinya merasa beruntung tidak sampai kehilangan nyawa. Walaupun kondisi panggulnya membaik, Alison diberi tahu bahwa ia tidak akan pernah memiliki pergerakan penuh pada pergelangan tangannya.
Alison mengatakan ia tak memahami alasan e-scooter masih dijual secara online maupun di toko. Ia mempertanyakan logikanya, karena kendaraan yang dimiliki pribadi ternyata ilegal digunakan di jalan dan trotoar.
“It is frightening to think they are willingly handing these things over to people with no licence, no insurance, no nothing and just letting them go,” tambah Alison.
MIB menilai, setidaknya masih ada kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran mengenai hukum yang berlaku. Organisasi ini juga memberikan donasi kepada beberapa unit polisi agar kendaraan yang digunakan dalam penegakan bisa lebih efektif.
Di Stoke-on-Trent, saat operasi kepolisian nasional menarget penggunaan ilegal kendaraan mobilitas mikro, Hayley Sutcliffe dari MIB menjelaskan bahwa biaya klaim yang terus membesar akibat korban cedera pada akhirnya memengaruhi banyak pihak.
“Whilst we will compensate victims of any injuries from e-scooters or electric motor bikes, everyone else has to pay for that,” katanya. Ia menambahkan, “It has a huge impact on your law-abiding citizens as well.”
PC Tom Cordell, yang secara rutin ikut operasi penegakan bersama Staffordshire Police, menyampaikan bahwa ketidaktahuan hukum bukanlah alasan. Namun ia meyakini sebagian besar orang yang mengendarai e-scooter mengetahui aturan yang melarang penggunaan di tempat yang tidak sesuai.
“I think the vast majority of people do know that they’re illegal,” kata Cordell. Ia juga menegaskan bahwa situasi ini bukan hal baru: “They’ve been around for a long, long time now. This isn’t something that’s new and just come out yesterday”.
Dari pernyataan resmi, pemerintah berulang kali menegaskan kembali ketentuan hukum yang berlaku. Meski demikian, dalam percakapan dengan BBC awal tahun ini, Menteri Transportasi Heidi Alexander mengatakan “the genie was out of the bottle” dan kebijakan baru bisa saja diperkenalkan apabila waktu di parlemen tersedia.












