jurnalistik.co.id – Arthur Fery melanjutkan perjalanan ajaibnya di Wimbledon 2026 setelah menyingkirkan Flavio Cobolli dan memastikan diri tampil di semifinal. Sebagai wildcard, ia mengalahkan petenis peringkat 10 dunia itu dengan skor 6-4, 7-6 (7-4), 6-0 di depan Centre Court yang memadati penonton setianya.
Hasil ini menjadi tonggak bersejarah, karena Fery tercatat sebagai wildcard putra pertama yang mencapai semifinal Wimbledon dalam 25 tahun terakhir. Ia bahkan sampai terjatuh ke lapangan saat nama Fery terus dikumandangkan oleh suporter setelah memastikan tiket empat besar.
Meski sebelum turnamen ini peringkat Fery berada di luar radar, yakni dunia nomor 114, ia tampil begitu tajam sejak awal laga. Cobolli yang datang sebagai unggulan kesembilan dan runner-up French Open harus meredup ketika Fery mengendalikan ritme permainan dengan konsistensi dari sisi belakang lapangan.
Suasana kemenangan itu makin terasa saat Fery mengurai perasaannya setelah pertandingan perempat final. Ia mengungkap, “I felt emotions that I’ve never experienced before in my life in that last game, and I’m sure it is the same up there [in my coaching box],” sebelum menambahkan, “I’m just going to keep going. I’ve been doing a great job for the past 10 days, so I’m just going to do the same thing and see where that takes me.”
Bagi Fery, momen ini juga sekaligus kelanjutan dari rentetan kepercayaan diri yang sudah dibangunnya sejak awal pekan. Dua hari sebelumnya, pada debutnya di Centre Court, ia menaklukkan Grigor Dimitrov yang saat itu berstatus mantan nomor tiga dunia, dan kala itu ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia raih.
Kali ini tantangannya terasa berbeda, tetapi cara Fery mengatasinya tetap tenang. Penampilan melawan Cobolli ditandai oleh penguasaan emosi yang stabil, sekaligus ketepatan memaksimalkan peluang pada fase-fase krusial.
Setelah debu laga mereda, Fery kini menatap semifinal pada Jumat melawan Alexander Zverev. Zverev disebut sebagai juara French Open, sekaligus berstatus unggulan kedua dan berada di posisi dunia nomor tiga dari Jerman.
Nama Fery pun kian menguat di papan klasemen turnamen dan membawa dampak besar bagi masa depannya. Ia keluar dari Wimbledon dengan status sebagai nomor satu tenis Inggris baru, serta dipastikan naik ke peringkat 36 dunia—hanya empat tingkat dari posisi unggulan pada undian US Open.
Di sisi prestasi historis, Fery juga masuk catatan sebagai pemain Inggris kelima era Open yang menembus semifinal tunggal putra Wimbledon. Ia sekaligus menjadi pemain dengan peringkat terendah yang mencapai babak empat besar di All England Club sejak petenis Kroasia pada 2001.
Dari sisi finansial, kemenangan ini membawa Fery meraih hadiah uang sebesar ÂŁ900,000. Angka tersebut bahkan lebih dari dua kali lipat total pendapatan kariernya sebelumnya, yang tercatat sekitar ÂŁ650,000.
Terlepas dari deretan statistik itu, Fery datang dengan beban mental yang tidak kecil. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum melangkah keluar untuk melakoni perempat final, namun ia terus menjalankan rencana permainan tanpa terbawa arus.
Berita Terkait
Secara permainan, laga ini juga menghadirkan kontras yang mencolok. Dengan jarak peringkat lebih dari 100 tempat antara kedua pemain sebelum pertandingan, hasilnya terasa tidak terbayangkan, meski secara set ia mencatatkan kemenangan yang relatif paling langsung dalam perjalanan memorablenya menuju empat besar.
Ia lolos dengan pola yang penuh ujian sebelumnya, karena Fery merangkai kemenangan beruntun dalam dua laga lima set yang melelahkan, keduanya berakhir melalui match tie-break. Ia juga pernah bangkit dari ketertinggalan set untuk meraih dua kemenangan pertamanya di turnamen ini.
Saat menghadapi Dimitrov, Fery memperlihatkan ketahanan ekstra melalui momen-momen paling sulit. Ia dua kali pulih setelah tertinggal break pada set keempat yang menjadi penentu, lalu akhirnya menang dalam waktu di bawah empat jam.
Melawan Cobolli, Fery tetap memiliki modal keyakinan meski kali ini tantangannya lebih berat. Di Australian Open tahun ini, Fery pernah mengalahkan Cobolli, tetapi pada pertemuan tersebut Cobolli menghadapi masalah fisik berupa gangguan pada perut.
Di Wimbledon 2026, Fery justru menghukum ketidakstabilan Cobolli dengan cara yang lebih tegas. Ia merebut kedua peluang break pada dua set pertama, lalu mempercepat laju menuju akhir pertandingan setelah tie-break yang sangat baik.
Cobolli sempat terpengaruh oleh riuhnya penonton dalam momen-momen penting. Ia akhirnya menghasilkan 41 unforced errors, sementara Fery menutup laga dengan permainan agresif dan tetap solid dari baseline: ia mencatat 27 winners dan hanya melakukan 15 unforced errors.
Di balik hasil yang begitu besar, ada cerita panjang yang membentuk karakter Fery sejak ia tumbuh dekat lingkungan tenis. Ia sudah tinggal di Wimbledon saat muda, dan kebiasaan menyaksikan para bintang tenis di venue ikonik itu menumbuhkan dorongan agar suatu hari ia juga bertanding sebagai profesional.
Tenis memang mengalir dalam keluarganya. Ibunya, Olivia, adalah petenis profesional, dan Fery sempat menunjukkan sinyal awal menjelang musim ini dengan mencapai perempat final di Queen’s.
Namun, langkah karier Fery menuju ATP Tour sempat terlambat dibanding arus umum. Ia menunda transisi untuk mengejar gelar di Stanford University pada bidang science, technology and society, sambil menghadapi perlambatan akibat cedera.
Pengalaman cedera—termasuk bone bruising di lengannya—membuat ia tertahan selama 18 bulan dan sempat menghadapi “doubts and dark moments”. Setelah kondisinya membaik dan ia bisa bermain lebih konsisten, ia kembali menunjukkan kemajuan dengan mencapai babak kedua Wimbledon tahun lalu serta Australian Open pada Januari.
Kini, Fery memasuki wilayah yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya, tetapi ia tetap dibangun oleh keyakinan pada prosesnya. Di depan pendukung tuan rumah yang akan terus memberikan dukungan, ia punya kesempatan besar untuk kembali membuat kejutan—kali ini melawan Zverev yang berstatus unggulan—menuju satu langkah lagi dari babak final.












