jurnalistik.co.id – Kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi pendorong utama ekspansi industri pusat data (data center) di Indonesia. Menurut Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), kebutuhan komputasi untuk AI tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga menuntut perubahan standar infrastruktur yang dipakai.
Erick Hadi, Head of Talent Development & Industry Certification IDPRO, mengatakan pertumbuhan industri data center di Indonesia saat ini bahkan melampaui rata-rata global. Ia menyampaikan bahwa laju global berada di kisaran 20%–25% per tahun, namun Indonesia tumbuh lebih cepat dari angka tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Erick saat ditemui usai peresmian Rittal Modification Center di Cawang pada Senin (6/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa dorongan utama datang dari meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis AI yang terus berkembang.
Menurut Erick, lonjakan kebutuhan AI membuat layanan digital memerlukan kapasitas yang lebih besar dan berkelanjutan. Imbasnya, pembangunan data center menjadi semakin intens, sekaligus mengarah pada penyesuaian standar infrastruktur yang dibutuhkan untuk menopang kebutuhan tersebut.
Erick juga mengaitkan percepatan ini dengan kebutuhan dari perusahaan penyedia layanan berskala besar. Hyperscaler maupun penyedia layanan cloud global, menurutnya, memerlukan lebih banyak data center untuk mendistribusikan layanan digital kepada pengguna.
Ia menyebut bahwa permintaan tersebut terhubung dengan cakupan kawasan Asia Tenggara. Erick mengatakan kebutuhan untuk mendistribusikan layanan digital kepada ratusan juta pengguna di kawasan itu ikut mendorong perusahaan-perusahaan tersebut memperluas infrastruktur pusat datanya.
Berita Terkait
Selain dipicu oleh kebutuhan AI, Indonesia juga memperoleh tambahan investasi dari perubahan arah pengembangan di kawasan regional. Erick menilai adanya limpahan investasi itu berkaitan dengan keputusan Singapura yang menghentikan pembangunan data center baru sejak 2019.
Dengan kondisi tersebut, laju pertumbuhan yang terjadi di Indonesia menjadi lebih cepat dibanding standar global. Erick menyatakan, ketika pasar dunia bergerak pada kisaran 20%–25% per tahun, respons industri di Indonesia justru menunjukkan laju yang lebih tinggi.
Ia menambahkan bahwa perubahan standar infrastruktur merupakan bagian dari dampak langsung dari pergeseran kebutuhan komputasi. Karena AI membutuhkan sumber daya yang terus meningkat, data center dituntut untuk beradaptasi agar mampu mendukung distribusi layanan digital secara lebih luas.
Secara keseluruhan, IDPRO memandang kombinasi dua faktor sebagai pengungkit utama percepatan industri data center di Indonesia. Pertama, kebutuhan komputasi AI yang mendorong pembangunan dan penyesuaian standar infrastruktur. Kedua, kebutuhan hyperscaler dan layanan cloud global untuk memperkuat kapasitas distribusi di Asia Tenggara, yang turut diperkuat oleh limpahan investasi setelah Singapura menghentikan pembangunan baru sejak 2019.
Menurut IDPRO, laju ekspansi pusat data tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti kebutuhan komputasi yang kian menuntut performa dan konsistensi layanan. AI yang semakin luas dipakai dalam beragam aplikasi digital membuat perusahaan perlu kapasitas yang tidak hanya besar, tetapi juga dapat diandalkan dalam jangka panjang. Dalam kerangka itu, pertumbuhan industri di Indonesia dinilai melampaui standar kenaikan global yang disebut berada di kisaran 20%–25% per tahun.
Erick Hadi menilai, percepatan juga terkait karakter kebutuhan dari pemain ber skala besar. Hyperscaler dan penyedia layanan cloud global membutuhkan penambahan pusat data agar distribusi layanan dapat berlangsung lebih luas, termasuk untuk menjangkau pengguna di kawasan Asia Tenggara. Permintaan semacam ini, menurutnya, mendorong perusahaan untuk memperluas infrastruktur pusat datanya sekaligus menyesuaikan sistem pendukung agar mampu memenuhi kebutuhan pengolahan yang terus meningkat.
Selain faktor kebutuhan komputasi berbasis AI, Indonesia juga memperoleh dorongan dari dinamika investasi regional. Erick menyebut perubahan arah pengembangan yang muncul setelah Singapura menghentikan pembangunan pusat data baru sejak 2019 ikut menciptakan limpahan investasi, yang kemudian memperkuat laju pertumbuhan di Indonesia. Dengan kombinasi dua pengungkit tersebut, IDPRO melihat adanya kebutuhan penyesuaian standar infrastruktur sebagai konsekuensi langsung: data center harus beradaptasi agar tetap sanggup mendukung distribusi layanan digital dalam skala yang lebih besar.












