Internasional

Angela Rayner Balik ke Kabinet: Menteri Perumahan di Bawah Andy Burnham

×

Angela Rayner Balik ke Kabinet: Menteri Perumahan di Bawah Andy Burnham

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Angela Rayner: Cabinet comeback for one of Labour's biggest names

jurnalistik.co.id – Angela Rayner akhirnya kembali duduk dalam kabinet pemerintahan Andy Burnham. Ia mengisi kembali kursi menteri perumahan yang pernah ia tinggalkan pada September lalu, setelah urusan pajaknya selesai diputuskan lewat penyelidikan HMRC.

Kembalinya Rayner memberi Burnham pasangan yang sudah lama ia kenal di jajaran Labour. Menurut gambaran yang mengiringi penunjukan ini, Rayner akan berperan besar dalam upaya mendorong perumahan sekaligus mendukung agenda pemindahan kewenangan dari Westminster ke level yang lebih dekat dengan warga.

Bunyi keputusan itu sekaligus menutup rangkaian spekulasi yang sempat mengemuka beberapa waktu sebelumnya. Awal tahun ini, Rayner dikabarkan mempertimbangkan apakah akan menempuh langkah untuk merebut peluang memimpin Labour jika kepemimpinan Sir Keir Starmer digugat.

Namun, jalan menuju kemungkinan itu baru terbuka setelah hasil penyelidikan HMRC terhadap urusan pajaknya yang selama ini menjadi penghambat. Setelah hambatan tersebut mereda, Rayner ikut menggalang dukungan untuk Andy Burnham sebagai pemimpin, sehingga Burnham melaju ke Downing Street tanpa hambatan berarti.

Dari resign ke jabatan yang sama

Rayner kembali ke peran menteri perumahan setelah pengunduran dirinya tahun lalu, menyusul pengakuan bahwa ia tidak membayar pajak secara cukup terkait pembelian rumah baru. Ia kemudian menyatakan bahwa penyesuaian diperlukan setelah ada ketentuan yang menunjukkan bahwa perhitungan pajaknya tidak sesuai.

Di pemerintahan Burnham, peran Rayner dipandang akan menjadi bagian penting dari program pembangunan rumah—terutama yang dirancang untuk mendorong pembangunan rumah dewan. Target besar itu ditempatkan dalam kerangka kerja pemerintahan yang ingin memperkuat daya tawar pemerintah lokal.

Rayner juga diperkirakan akan menjadi suara yang menonjol di tim inti Burnham. Kisah pribadinya, cara ia berhubungan dengan berbagai lapisan pemilih, serta reputasinya sebagai figur yang lugas disebut memberi nilai tambah dalam kabinet.

Riwayat hidup yang membentuk gaya politiknya

Rayner lahir dengan nama Angela Bowen di Stockport, Greater Manchester, pada 1980. Ia tumbuh di salah satu kawasan perumahan dewan yang tergolong paling sulit secara ekonomi di wilayah itu.

Sejak kecil, Rayner merawat ibunya yang mengalami bipolar disorder dan juga depresi. Ia pernah mengingat masa ketika tekanan hidup memaksa keluarga mengatur kebutuhan sehari-hari dengan sangat terbatas.

Menurut pengakuannya, pada usia 10 tahun, ibunya pernah berada pada kondisi yang mengarah ke risiko bunuh diri. Ia mengatakan, “My mum was a really vulnerable person. I remember, at 10, my mum being suicidal and me sleeping like a dog on the end of her bed, just to try and stay next to her so she didn’t do any harm to herself,”.

Rayner juga menceritakan kebiasaan pergi ke rumah nenek pada hari Minggu agar keluarga bergiliran mandi. “Hot water was too expensive for them to use at home,” menjadi salah satu gambaran tentang keterbatasan yang ia saksikan dalam kehidupan keluarganya sendiri.

Ia kerap menyebut bahwa sejak kecil ada pesan yang membuatnya merasa tak akan bisa maju. Ia mengungkap pernah diberi tahu bahwa ia akan “never amount to anything”, terutama setelah ia meninggalkan sekolah tanpa kualifikasi resmi.

Namun, setelah melahirkan anak pertamanya ketika berusia 16 tahun, Rayner melanjutkan pendidikan paruh waktu. Ia belajar bahasa isyarat Inggris, termasuk meraih kualifikasi vokasional di bidang perawatan sosial.

Ia kemudian bekerja beberapa tahun sebagai pekerja perawatan di Stockport, terutama untuk mendampingi lansia di rumah mereka. Pada saat yang sama, ia meniti karier melalui serikat pekerja Unison dan naik cepat dalam organisasi tersebut.

Perjalanan di serikat dan masuk ke parlemen

Di usia 20-an, Rayner menjadi pejabat serikat penuh waktu. Ia juga menanjak hingga mencapai peran terpilih senior di Unison untuk wilayah Inggris bagian barat laut, setelah rangkaian pertempuran yang berkaitan dengan kondisi kerja dan kontrak kerja nol jam (zero-hour contracts).

Di Unison pula, ia bertemu Mark Rayner yang juga bekerja sebagai pejabat serikat. Mereka menikah pada 2010 dan bercerai pada 2023, serta memiliki dua putra; satu di antaranya lahir terlalu prematur sehingga terdaftar tunanetra (registered blind) dan membutuhkan dukungan pendidikan khusus.

Ketika berusia 37 tahun, Rayner menjadi nenek dan memunculkan julukan “Grangela”. Ia menyandarkan keyakinannya pada gerakan serikat pekerja yang mendorongnya masuk politik, dengan mengatakan bahwa itu membawa dia dari “the girl on a council estate” menuju “a woman who feels like she can conquer the world”.

Langkah politiknya mulai terlihat pada 2015 ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Ashton-under-Lyne, sebuah wilayah yang jaraknya tidak jauh dari kampung halamannya. Ia kemudian menyebut bahwa ia sebenarnya maju untuk membuat poin bahwa “people like me can’t get elected” dan ia “accidentally” memenangkan kursi tersebut.

Peran “Prescott” dan masa berseberangan

Rayner menggambarkan dirinya sebagai “proper working-class” dan naik cepat di Westminster. Di masa pemerintahan bayangan, ia memegang tugas terkait urusan perempuan, kesetaraan, dan pendidikan dalam kabinet bayangan mantan pemimpin Labour, Jeremy Corbyn.

Pada 2020, ketika Corbyn mundur setelah hasil pemilu legislatif terburuk Labour sejak 1935, Rayner tidak mencalonkan diri untuk kepemimpinan. Ia justru mendukung sekutunya, Rebecca Long-Bailey, yang berada di posisi kedua di belakang Sir Keir.

Namun, Rayner mengambil langkah lain dengan mencalonkan diri sebagai wakil pemimpin dan memenangi jabatan itu dengan meyakinkan. Di fase itu, ia disebut menjadi tokoh sentral dalam usaha Sir Keir untuk membentuk ulang partai.

Meski demikian, hubungan Rayner dan Sir Keir tidak selalu mulus. Setelah Labour kehilangan kendali atas delapan dewan di Inggris dan juga kehilangan kursi Hartlepool dalam pemilihan sela pada Mei 2021, wakil pemimpin tersebut dicopot dari jabatan ketua partai. Rayner melakukan perlawanan, dan kemudian diangkat sebagai shadow first secretary of state beserta sejumlah gelar lain.

Di titik itu, Rayner disebut punya basis dukungan yang kuat dan peran yang kerap disamakan dengan John Prescott—figur yang dipandang menjadi jembatan antara kalangan pekerja kelas bawah dan proyek New Labour pada masa Tony Blair.

Ia disebut menekankan peran tersebut untuk keuntungan partainya menjelang kemenangan Labour pada 2024. Di sisi lain, gayanya yang blak-blakan membuatnya kerap berhadapan langsung dalam debat politik.

Gaya bicara yang tajam dan kontroversi

Rayner berkali-kali menuding Konservatif “out of touch” dan menekan partai dengan kalimat seperti “one rule for them and another rule for us” saat skandal pesta pandemi di Downing Street menjadi sorotan.

Di beberapa kesempatan, ia mengakui bahwa ia mungkin melangkah terlalu jauh. Ia pernah meminta maaf setelah menyebut senior Konservatif sebagai “a bunch of scum”.

Pada 2021, Rayner juga menyerang isu “sexism and misogyny” dalam politik setelah sebuah laporan media menyinggung bahwa ia menyilangkan dan membuka kaki saat sesi pertanyaan kepada perdana menteri untuk mengalihkan perhatian Boris Johnson.

Setahun berikutnya, pada 2024, ia menjalani pemeriksaan oleh polisi terkait pajak yang dibayarkan atas penjualan rumah dewan. Pemeriksaan itu muncul kembali setelah serangkaian laporan dari surat kabar yang tidak sejalan, yang disebut berpihak pada narasi Konservatif.

Meski demikian, Rayner tidak ditemukan melakukan pelanggaran pidana. Dalam perjalanan politiknya, ia juga mendapat julukan “Teflon Ange” karena kecenderungannya tampak kebal dari pusaran kontroversi.

Program perumahan dan keputusan saat akhirnya mundur

Kenaikan Rayner sebagai wakil perdana menteri membuatnya memimpin salah satu janji kunci Labour untuk membangun 1,5 juta rumah pada 2030. Ia juga membantu Sir Keir meredam pemberontakan dari anggota parlemen Labour terkait pemotongan tunjangan.

Tetapi, situasi menjadi lebih sulit saat Rayner—sebagai menteri perumahan—mengakui bahwa ia tidak membayar pajak yang cukup ketika membeli flat senilai £800.000 di Hove. Dari sana, muncul tuduhan kemunafikan dan seruan agar ia mundur.

Rayner akhirnya mengundurkan diri setelah mengakui bahwa pengaturan di rumah keluarga di Greater Manchester seharusnya membuatnya membayar tarif yang lebih tinggi. Keputusan itu datang setelah penasihat etika perdana menteri, Sir Laurie Magnus, menyatakan bahwa Rayner melanggar menteriial code.

HMRC kemudian meluncurkan penyelidikan. Hampir 10 bulan kemudian, saat krisis kepemimpinan menimpa partainya, kesimpulan dicapai: Rayner mengumumkan telah menyelesaikan pembayaran £40.000 dalam pajak stempel yang belum dibayar. Ia menyatakan bahwa ia “exonerated” dari tuduhan bahwa ia “deliberately sought to avoid tax”.

Dalam wawancara dengan The Guardian, mantan wakil perdana menteri itu tidak menutup kemungkinan ikut bersaing dalam kontes kepemimpinan Labour, tetapi ia mengatakan tidak akan “trigger” sebuah kontes. Ketika ditanya apakah perdana menteri harus mundur, Rayner menyebut: “Keir will have to reflect on that.”

Sebelum kejatuhannya sebagai pemimpin Labour, Sir Keir pernah menyatakan bahwa ia bisa membawa Rayner kembali ke kabinet, sembari menilai Rayner memiliki “the best social mobility story this country has ever seen”. Kini, setelah kembali ke kabinet, Rayner diharapkan melanjutkan narasi itu bersama langkah politik Labour di bawah arah baru Burnham.