Internasional

Harga listrik Inggris tetap tinggi: 3 penyebab utama

×

Harga listrik Inggris tetap tinggi: 3 penyebab utama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Electricity prices: Three reasons why they are high in the UK

jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris mengumumkan pemotongan PPN listrik domestik dari 5% menjadi nol mulai Oktober, sebagai bagian dari upaya menekan biaya hidup. Namun, rumah tangga di Inggris tetap membayar listrik lebih mahal dibanding banyak negara Eropa lainnya.

Perbandingan harga listrik di kawasan Uni Eropa menunjukkan, untuk rumah tangga dengan pemakaian sedang, Inggris berada di peringkat keempat tertinggi pada paruh kedua tahun lalu. Perhitungan tersebut mencakup pajak dan pungutan, meski sejak saat itu pemerintah telah mengambil langkah untuk menurunkan tagihan.

Dalam analisis kebijakan dan verifikasi fakta, ada tiga alasan utama mengapa harga listrik di Inggris tetap tinggi.

1) Harga grosir listrik ditentukan oleh biaya gas

Harga yang dibayar pemasok energi untuk listrik pada dasarnya dibentuk melalui proses lelang. Setiap perusahaan pembangkit mengajukan nilai yang bersedia diterimanya untuk memproduksi satu unit listrik.

Setelah kapasitas dibangun, biaya menghasilkan listrik dari sumber seperti angin dan surya relatif lebih rendah, sehingga umumnya ikut masuk sebagai penawaran termurah. Tenaga nuklir bisa datang setelahnya, tergantung struktur penawaran pada saat tertentu.

Namun, pembangkit berbahan bakar gas sering berada pada posisi biaya tertinggi, karena selain harus membeli bahan bakar, mereka juga menanggung apa yang disebut “carbon price”, yakni biaya untuk emisi.

Komponen harga grosir ditetapkan oleh “unit terakhir” listrik yang diperlukan untuk memenuhi permintaan konsumen. Akibatnya, meski gas hanya berkontribusi sekitar 1% dari total pasokan pada jam tertentu, bahan bakar itu tetap dapat menjadi penentu harga grosir yang kemudian dibayar untuk semua jenis pembangkit.

Kondisi ini membuat harga listrik rumah tangga ikut terangkat. Perang di Iran dan Ukraina disebut turut meningkatkan biaya gas dalam pasar global.

Pola yang berbeda juga terjadi di Irlandia Utara. Wilayah itu beroperasi dengan sistem terpisah dari bagian lain Inggris, karena masuk dalam Single Electricity Market bersama Republik Irlandia.

2) Bauran energi negara lain berbeda dari Inggris

Sejumlah analis menilai salah satu penyebab tingginya harga listrik Inggris dibanding beberapa negara lain adalah porsi produksi listrik dari gas alam yang relatif besar.

Pada 2025, 31% listrik Inggris dihasilkan dari pembakaran gas alam. Sebagai perbandingan, di Prancis porsi gas alam hanya 3%, sementara mayoritas listrik Prancis berasal dari nuklir, yakni 69%.

Amerika Serikat juga memiliki porsi gas alam yang lebih tinggi ketimbang Inggris, yaitu 40%. Tetapi harga grosir gas di AS disebut jauh lebih rendah karena ledakan produksi shale gas dalam dua dekade terakhir.

Intinya, ketika suatu negara lebih bergantung pada gas untuk pembangkitan listrik, fluktuasi harga gas akan lebih cepat memantul ke biaya listrik yang akhirnya dibayar konsumen.

3) Inggris membangun infrastruktur jaringan listrik lebih besar

Harga grosir gas yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya listrik domestik pada tahun ini. Untuk Inggris Raya (Great Britain), kontribusi biaya energi grosir pada tagihan rumah tangga rata-rata naik dari £311 pada 2024-25 menjadi £320 pada 2025-26.

Meski begitu, tagihan tidak hanya dipengaruhi biaya grosir. Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan juga didorong oleh subsidi negara untuk mendorong perusahaan swasta membangun pembangkit tenaga angin dan surya, serta biaya investasi jaringan listrik nasional yang sebelumnya ditambahkan ke tagihan rumah tangga oleh pemerintahan-pemerintahan terdahulu.

Biaya jaringan (network costs) muncul karena kebutuhan memperluas dan memodernisasi jaringan agar mampu mengakomodasi pembangkit baru dari angin dan surya. Jaringan juga harus menyalurkan daya dari pembangkit tersebut hingga mencapai rumah tangga dan dunia usaha.

Kontribusi biaya jaringan pada tagihan rata-rata meningkat dari £136 pada 2019-20 menjadi £250 pada 2026, atau naik £113. Pada saat yang sama, kontribusi subsidi pembangkit naik dari £127 pada 2019-20 menjadi £159 pada 2026, meningkat sebesar £32.

Proyeksi juga menunjukkan biaya jaringan masih akan bertambah setelahnya. Menurut perhitungan analis energi Ben James, pada 2030 biaya jaringan diperkirakan meningkat lagi sebesar £48 pada tagihan rumah tangga rata-rata.

Frankie Mayo, analis energi dari Ember Energy, menyampaikan, “We’ve probably underinvested in the last decade and now we’re trying to catch up so there’s quite a lot of spending.” Pernyataan itu merujuk pada kebutuhan belanja yang mengikuti percepatan pembangunan infrastruktur.

Meski biaya-biaya tersebut mendorong kenaikan tagihan, pemerintah dan sebagian kelompok energi berargumen bahwa pengurangan ketergantungan Inggris pada gas internasional yang mudah bergejolak dapat menahan biaya grosir listrik. Mereka mengaitkannya dengan kebijakan pemerintah 2030 clean power policy.

Gagasan kebijakan itu adalah menurunkan waktu dalam setahun ketika gas menjadi penentu harga listrik grosir. Dengan kata lain, jika gas lebih jarang “menjadi unit terakhir” yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan, maka dampak harga gas terhadap harga listrik grosir dapat ditekan.

Tetapi, banyak bergantung pada harga gas grosir di masa depan, yang sulit diprediksi secara akurat. Karena itu, hasilnya tidak bisa dipastikan hanya dari desain kebijakan.

Beberapa analis, termasuk Climate Change Committee milik pemerintah, juga menyatakan pemerintah seharusnya melangkah lebih jauh untuk menghilangkan biaya kebijakan dari tagihan listrik rumah tangga, lalu membiayainya lewat pajak umum. Argumennya, pendekatan itu mencegah orang terdorong memakai gas ketimbang listrik untuk pemanas rumah.

Frankie Mayo merangkum soal pembagian biaya dengan mengatakan, “The way you allocate those costs matters.” Ia menambahkan, biaya tersebut bisa saja dibebankan melalui tagihan atau dibayar oleh konsumen dengan cara lain yang kurang terlihat, seperti pajak.

Dengan pertimbangan semua faktor tersebut, diskon PPN listrik domestik sejak Oktober tetap tidak langsung menghapus tekanan harga yang lebih dulu terbentuk dari mekanisme pasar grosir, perbedaan bauran energi antarnegara, serta kebutuhan pembiayaan jaringan dan subsidi pembangunan pembangkit.