jurnalistik.co.id – Luke Littler kembali menunjukkan daya ledak di panggung besar World Matchplay. Di Winter Gardens, Blackpool, ia memastikan satu tiket perempat final lewat kemenangan 11-8 atas Nathan Aspinall.
Meski laga berlangsung ketat dan sarat momen yang bisa membelokkan ritme, Littler tampil dengan eksekusi yang rapi sejak awal. Ia membuka pertandingan dengan leg sempurna, menyelesaikan dengan double 15.
Suasana di arena langsung memanas. Littler terlihat menikmati dukungan penonton saat Aspinall meresponsnya dengan ekspresi tidak percaya sebelum akhirnya ikut terlibat dalam tempo permainan yang makin cepat.
Di leg-leg berikutnya, fokus pertandingan tidak hanya pada skor, tetapi juga pada kualitas finishing yang ditunjukkan kedua pemain. Littler sempat meninggalkan kesan sebagai pihak yang memegang kendali, namun Aspinall menolak menyerah begitu saja.
Rangkaian momen dramatis kembali muncul pada leg keempat. Littler masih menyisakan double 15 dan mendapatkan peluang untuk menghadirkan nine-darter kedua, tetapi anak panahnya mendarat tepat di luar garis.
Keadaan itu membuat Aspinall bereaksi ke arah penonton, dengan cara bercanda menawarkan dart milik Littler kepada siapa pun yang ingin ikut mencoba permainan. Namun, justru setelah itu adrenalin permainan makin naik dan Aspinall kembali mencoba menutup jarak.
Aspinall tidak membiarkan Littler terus menjauh tanpa perlawanan. Ia mampu menyamakan keadaan menjadi 7-7, sebuah momen yang menunjukkan bahwa pertarungan masih sepenuhnya terbuka.
Setelah skor kembali seimbang, Littler mengubah momentum menjadi keuntungan yang lebih konkret. Ia melanjutkan dengan tiga leg berikutnya secara beruntun, memaksa Aspinall harus bekerja lebih keras untuk mengembalikan kendali.
Aspinall sempat memberi sinyal pemulihan lagi, tetapi pada leg ke-19 ia melewatkan peluang tops. Kesempatan itu dimanfaatkan Littler untuk melakukan checkout 52 dan mengunci kemenangan.
Berita Terkait
Pencapaian di akhir laga juga mempertegas kualitas penampilan Littler. Ia menutup pertandingan dengan rata-rata 113.68, angka yang menjadi yang kedua tertinggi dalam sejarah turnamen, sekaligus disertai total 14 kali 180s.
Dalam penilaiannya kepada Sky Sports, Littler menggambarkan momen nine-darter sebagai sesuatu yang “terjadi” di tengah dinamika pertandingan. Ia mengatakan, “The nine-darter just happened. These guys [the crowd] were booing me at the beginning and then they started cheering me on!”
Ia menambahkan, “It felt amazing and that was probably the best game Nathan and I have played against each other – it’s never over against Nathan because he never gives up.” Menurutnya, laga tersebut juga menjadi bukti bahwa persaingan melawan Aspinall tidak pernah benar-benar selesai sebelum pertandingan berakhir. “That’s two unbelievable performances from myself here. Hopefully I can pick up the title again, but I just have to focus on who I play next.”
Menanti lawan di babak berikutnya
Kemenangan ini mengantar Littler menatap laga babak berikutnya melawan pemenang pertandingan putaran kedua yang berlangsung pada Selasa antara Josh Rock dan Stephen Bunting. Jadwal itu menjadi penentu untuk siapa yang akan menjadi ujian berikutnya setelah Aspinall berhenti di fase perempat final.
Di sisi lain turnamen, persaingan juga tidak berjalan mulus untuk beberapa nama besar. Michael van Gerwen harus mengakhiri perjalanannya setelah kalah 14-12 dari sesama pemain Belanda, Dirk van Duijvenbode.
Van Gerwen sempat mengejar ketertinggalan dengan cara yang menunjukkan daya tahan permainan. Ia sempat bangkit dari skor 8-4 untuk menyamakan 10-10, tetapi akhirnya Van Duijvenbode menutup laga dan memastikan hasil akhir 14-12.
Hasil yang juga membawa kemenangan ke fase delapan besar datang dari Gary Anderson. Petarung asal Skotlandia itu menang 11-7 atas Jonny Clayton dari Wales, menegaskan bahwa persaingan di World Matchplay tetap diisi kejutan dan pertarungan finishing yang ketat.
Secara keseluruhan, rangkaian laga pada World Matchplay menunjukkan betapa pentingnya eksekusi di momen-momen kunci. Littler menjadi contoh paling terang lewat nine-darter yang ia ciptakan serta rata-rata tinggi yang ia pertahankan hingga akhir, sementara nama-nama lain tetap harus melewati batas ketat untuk bisa maju.












