Teknologi

Aplikasi pelacak makanan: benarkah membuat pola makan lebih sehat?

×

Aplikasi pelacak makanan: benarkah membuat pola makan lebih sehat?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Food tracking: Does using an app make you healthier?

jurnalistik.co.id – Aplikasi pelacak makanan makin sering dipakai untuk berbelanja, dari label nutrisi hingga daftar aditif. Namun, sejauh mana cara ini benar-benar membuat pola makan lebih sehat—dan di mana batasnya?

Di sebuah lorong produk manisan di Hyper U, wilayah barat Paris, Nathalie memperlihatkan layar ponselnya sambil memegang seikat biskuit. Skor di aplikasi menampilkan angka 0/100 dengan latar merah, menandai pilihan tersebut bermasalah.

Bagi Nathalie, isu bukan hanya soal gula dan lemak jenuh. Ia juga melihat adanya empat aditif, termasuk satu dengan kode E450, yang menurut keterangan di aplikasinya dapat memicu gangguan bila dikonsumsi berlebihan, seperti masalah pada sumsum tulang dan ginjal.

“Lihat itu!” katanya saat menunjukkan detail yang muncul di ponsel. “Punya anak-anak, mereka menaruh zat seperti ini di makanan yang ditujukan untuk anak-anak membuat saya geram,” lanjutnya, sebelum menunjuk aditif yang dimaksud.

Kemudian ia memindai alternatif dari kemasan lain, dengan tampilan yang memberi kesan pembuatan tradisional. Meski begitu, hasil penilaian tetap tidak jauh berbeda, dan Nathalie mengaku putranya, Malo yang berusia 12 tahun, makin enggan ikut saat berbelanja.

“Malo sekarang tidak suka belanja dengan saya,” ucap Nathalie. Ia menjelaskan proses memindai membuat waktu terbuang lama, sementara anaknya tak pernah benar-benar mendapatkan biskuit yang ia inginkan.

Setelah peringatan merah aktif, aplikasi menyarankan pilihan pengganti yang dianggap lebih baik. Rekomendasi itu mengarah pada produk organik yang memuat gandum utuh, buah, dan serat, tetapi Nathalie menilai konsekuensinya juga nyata: harga cenderung lebih mahal.

Gambaran ini memperlihatkan salah satu daya tarik Yuka, aplikasi yang dikembangkan di Prancis. Aplikasi ini tidak hanya menilai makanan, tetapi juga kosmetik serta perlengkapan mandi, dengan sistem warna seperti lampu lalu lintas: hijau untuk “baik”, kuning untuk “bisa lebih baik”, dan merah untuk “kurang baik”.

Secara teknis, pengguna dapat memindai barcode produk dari basis data Yuka yang memuat sekitar enam juta item. Setiap hari, jumlah entri bertambah sekitar 1.200 produk baru, dan aplikasi merespons cepat untuk memberi penilaian awal sebelum pengguna menggali informasi lebih jauh.

Yuka, yang mulai beroperasi pada 2015, kini menyebut memiliki 85 juta pengguna di 12 negara. Komposisi pengguna mencakup Inggris sekitar lima juta, Prancis enam juta, dan yang terbesar adalah Amerika Serikat dengan 28 juta.

Di Negeri Paman Sam, nama Yuka juga disebut mendapat sorotan dari kalangan tertentu. Robert F. Kennedy Jr, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan di pemerintahan Donald Trump, disebut menyatakan Yuka sebagai aplikasi favoritnya.

Namun, kisah Yuka tidak berdiri sendiri. Di Prancis, fenomena pelacakan dan penilaian makanan berkembang sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Pada 2012, seorang programmer Prancis bernama Stéphane Gigandet meluncurkan Open Food Facts, basis data produk pangan gratis yang bersifat kolaboratif. Proyek ini dimulai pada peringatan Food Revolution Day yang diselenggarakan oleh chef Inggris Jamie Oliver, dan saat ini menyediakan informasi untuk lebih dari empat juta produk makanan di seluruh dunia.

Tak lama setelah peluncuran Yuka, Prancis juga menjalankan skema pelabelan Nutri-Score. Sistem ini merupakan label sukarela di bagian depan kemasan makanan siap saji, dengan nilai global yang membantu konsumen melihat sekilas apakah suatu produk cenderung lebih baik atau lebih buruk bagi kesehatan.

Pencipta Nutri-Score, Serge Hercberg dari Universitas Sorbonne di Paris, mengatakan ia terinspirasi oleh sistem lampu lalu lintas Inggris yang menandai gula, lemak, garam, dan kalori dengan warna hijau, amber, atau merah. Ia lalu merancang pendekatan yang dinilai lebih sederhana: Nutri-Score memberikan skor menyeluruh sehingga keputusan bisa dipahami dalam pandangan pertama.

Skema ini sempat berhadapan dengan tarik-menarik bersama industri makanan. Meskipun banyak produsen besar seperti Danone dan Nestlé mengadopsinya secara luas, beberapa merek—terutama yang jika dinilai akan mendapat skor kurang baik—memilih untuk tidak ikut.

Dalam konteks itulah, Hercberg menilai aplikasi seperti Yuka dan Open Food Facts mengisi celah yang tidak tertangani oleh label sederhana. Selain memberi interpretasi nutrisi, keduanya juga melangkah lebih jauh dengan menyediakan informasi tambahan, misalnya soal aditif yang dapat dikodekan sebagai e-number, yang keberadaannya sering dikaitkan dengan makanan ultra-proses.

Meski menarik, ada catatan penting soal efektivitas. Christian Reynolds, dosen bidang kebijakan pangan di City St George’s University, London, menyatakan teknologi adalah salah satu bagian dari berbagai solusi, tetapi penelitian menunjukkan batasnya.

Reynolds merujuk pada peninjauan pemerintah Inggris tentang bagaimana orang berinteraksi dengan label dan informasi, yang kesimpulannya menyebut tidak banyak orang memiliki waktu, kapasitas, atau kemauan untuk menelaah pilihan belanja dan makanan di luar rutinitas harian mereka.

Selain itu, Hercberg juga menyoroti keterbatasan yang lebih struktural. Ia menyebut sistem pelacakan pada praktiknya hanya menyentuh kelompok masyarakat yang lebih beruntung, padahal justru kelompok yang paling berisiko terhadap masalah kesehatan akibat pola makan adalah mereka yang tidak selalu berada dalam posisi untuk menggunakan alat semacam ini.

Dari sisi bisnis, CEO Yuka, Julie Chapon, menyampaikan Yuka sebagai perusahaan privat dan tetap bergerak secara menguntungkan. Ia menekankan pendapatan tidak berasal dari iklan atau dari pengaruh peringkat produk yang disponsori, melainkan dari pengguna melalui versi premium aplikasi.

Chapon juga menyatakan Yuka tidak pernah menerima uang dari merek agar penilaian atau rekomendasi berubah. Ia mengaku persentase pengguna yang membayar untuk premium memang kecil, tetapi cukup karena jumlah total pengguna sangat besar.

Ia pun menyebut ada tanda bahwa Yuka memengaruhi kebiasaan berbelanja. Dalam survei perusahaan yang melibatkan 20.000 pengguna pada 2024, 94% responden melaporkan mereka meletakkan produk kembali di rak ketika aplikasi menampilkan penilaian merah.

Untuk bukti perubahan yang lebih tampak pada produk, contoh yang paling menonjol disebut datang dari Intermarché, jaringan supermarket dan hypermarket di Prancis. Perusahaan itu berada di urutan ketiga terbesar dengan lebih dari 2.100 toko, dan mereka menyatakan telah banyak mengubah formula produk merek sendiri karena skor Yuka.

Dalam pernyataan resmi, Intermarché menyebut sejak 2017 telah mereformulasi lebih dari 3.000 resep dan menghapus 160 aditif. Tahun sebelumnya, mereka juga menyebut telah mengerjakan ulang formulasi sekitar 300 produk.

Selain perubahan formula, Intermarché juga dikabarkan mulai menampilkan skor Yuka pada situs belanja online pada April tahun ini. Langkah tersebut menunjukkan aplikasi penilaian makanan tidak hanya memengaruhi keputusan di rak, tetapi juga dapat masuk ke tahap informasi saat belanja digital.

Di tengah meningkatnya penggunaan Yuka, Open Food Facts, dan Nutri-Score, pertanyaannya tetap sama: alat bantu memang bisa memperjelas informasi, tetapi tidak otomatis memastikan semua orang memiliki akses yang sama untuk menerapkannya. Bagi konsumen, tantangan akhirnya bukan hanya menemukan data, melainkan menjadikannya kebiasaan—dan untuk itu, efektivitas tetap dipengaruhi waktu, kebiasaan, serta kemampuan menindaklanjuti informasi yang tersedia.