jurnalistik.co.id – Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Keputusan itu dibaca pemerintah sebagai pertanda bahwa kepercayaan investor serta komunitas internasional terhadap fundamental ekonomi dan arah kebijakan Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global.
Dalam penilaiannya, S&P menegaskan bahwa Indonesia tetap berada pada tingkat investment grade. Outlook stabil menunjukkan bahwa lembaga pemeringkat tidak melihat perubahan arah yang signifikan dalam waktu dekat, sekaligus memberi sinyal konsistensi terhadap kredibilitas kebijakan yang dijalankan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keputusan S&P merefleksikan pandangan pasar terhadap stabilitas serta arah kebijakan ekonomi nasional. Keduanya menilai keputusan itu memperkuat keyakinan bahwa langkah pemerintah masih selaras dengan ekspektasi investor global.
Purbaya menekankan bahwa keputusan S&P menjadi penguatan atas disiplin kebijakan pemerintah. “Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel. Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Purbaya.
S&P juga melihat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat. Laporan bertajuk “Indonesia Ratings Affirmed At ‘BBB/A-2’; Outlook Stable” menyebutkan penilaian tersebut ditopang oleh kebijakan makroekonomi yang dinilai prudent.
Selain itu, lembaga pemeringkat menilai stabilitas politik dan kelembagaan masih menjadi faktor penyangga. S&P juga menempatkan rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara lain dengan peringkat serupa sebagai salah satu pertimbangan penting.
Dalam proyeksinya, S&P memprakirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di kisaran 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Untuk tahun 2026, pertumbuhan diperkirakan sekitar 5,1 persen.
Proyeksi tersebut disejajarkan dengan capaian ekonomi pada awal tahun. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year-on-year), yang menurut laporan ditopang oleh permintaan domestik yang kuat serta peningkatan investasi.
Lebih lanjut, S&P memperkirakan pendapatan per kapita Indonesia meningkat menjadi sekitar 5.200 dollar AS pada tahun ini. Perkembangan tersebut dipandang sejalan dengan arah pertumbuhan yang masih terjaga.
Disiplin fiskal dinilai menjadi jangkar kredibilitas
Berita Terkait
S&P memberikan penilaian positif terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Disiplin fiskal tersebut disebut berfungsi sebagai policy anchor atau jangkar kebijakan yang memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor.
Lembaga pemeringkat juga mencatat adanya perbaikan pada sisi pendapatan negara. Selama enam bulan pertama 2026, pendapatan negara tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan itu disebut ditopang oleh penguatan administrasi perpajakan, meningkatnya kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). S&P menyoroti kontribusi khusus dari sektor sumber daya alam.
Menanggapi temuan tersebut, Purbaya menyatakan pemerintah akan memperkuat kualitas APBN melalui beberapa langkah. Pemerintah berfokus pada peningkatan penerimaan perpajakan dan PNBP, digitalisasi administrasi perpajakan, optimalisasi penerimaan dari sektor mineral dan sumber daya alam, serta peningkatan efektivitas belanja negara.
Selain itu, Purbaya menekankan pengelolaan pembiayaan yang efisien serta pengendalian risiko utang. Kombinasi langkah tersebut dimaksudkan menjaga kesinambungan kebijakan sekaligus mempertahankan ruang fiskal.
Reformasi struktural diproyeksikan memperkuat pertumbuhan menengah
Di sisi lain, S&P menilai reformasi struktural yang dijalankan pemerintah berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah. Sejumlah kebijakan yang mendapat perhatian mencakup hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.
S&P juga menyoroti penguatan tata kelola sektor mineral dan komoditas strategis. Lembaga pemeringkat menilai penguatan ini dapat meningkatkan nilai tambah domestik sekaligus memperbesar penerimaan negara.
Selanjutnya, S&P menilai optimalisasi pengelolaan aset negara turut menjadi faktor pendukung. Dari rangkaian reformasi tersebut, arah yang ditekankan adalah terbentuknya nilai tambah domestik yang lebih besar, kontribusi pada penerimaan, serta penguatan ekspor Indonesia.
Laporan S&P juga menyoroti penguatan peran Danantara dan kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE). Kebijakan tersebut disebut berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan aset negara, memperkuat transparansi, mengurangi kebocoran ekonomi, serta mendukung pembiayaan investasi pada sektor strategis.
Dengan outlook stabil, keputusan S&P memberi ruang agar langkah kebijakan yang sedang ditempuh dapat terus dijalankan secara konsisten. Bagi pemerintah, penetapan rating BBB tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa kredibilitas ekonomi Indonesia masih dipandang positif oleh pasar, meski tantangan global tetap berlangsung.












