Teknologi

Robot ITS Surabaya Bermodal Rp 50 Juta Antar Wakili Indonesia di ABU Robocon 2026 Hong Kong

×

Robot ITS Surabaya Bermodal Rp 50 Juta Antar Wakili Indonesia di ABU Robocon 2026 Hong Kong

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Robot Senilai Rp 50 Juta Antar ITS Kembali Wakili Indonesia di ABU Robocon 2026 di Hong Kong

jurnalistik.co.id – Robot karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali mengantarkan Indonesia ke ajang ABU Robocon 2026 di Hong Kong. Keberhasilan ini dipastikan setelah tim ITS meraih kemenangan di Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) 2026.

Dalam partai final yang berlangsung di Auditorium Universitas Jember (Unej), Minggu (12/7/2026), tim Richie memastikan diri sebagai juara. Mereka menaklukkan Maestro Evo dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan skor 160-20.

Sejak awal pertandingan, robot milik UNY mengalami kendala. Momentum itu dimanfaatkan tim Richie untuk mengamankan kemenangan sekaligus mempertahankan Piala Bergilir Sambhawana Pratimacala.

Risikan dimulai jauh sebelum kompetisi

Keberhasilan ITS tidak datang dalam waktu singkat. Muhammad Azmi Ikhsan dari mahasiswa Teknik Mesin ITS menjelaskan bahwa tim telah memulai riset sejak Oktober 2025, atau sekitar sembilan bulan sebelum kompetisi dimulai.

Selama masa pengembangan, tim membangun dua robot yang menjalankan peran berbeda. Satu dioperasikan secara manual oleh operator, sedangkan satu lagi bergerak secara otonom.

Kolaborasi keduanya menjadi kunci karena misi pada ABU Robocon 2026 membawa tema “Kungfu Quest”. Dalam skema pertandingan, kedua robot harus bekerja saling melengkapi agar tugas di arena bisa selesai sesuai ketentuan.

Azmi menjelaskan mekanisme kerja robot otomatis dan robot manual dalam pertandingan: “Robot otomatis bertugas mengambil perlengkapan, kemudian berkolaborasi dengan robot manual. Setelah itu robot otomatis naik turun tangga, mengambil obyek, lalu meletakkannya di arena sesuai misi pertandingan,” kata Azmi.

Komunikasi dan mobilitas robot otonom jadi tantangan utama

Menurut Azmi, tantangan terbesar justru berada pada robot otonom. Mesin itu harus bergerak tanpa kendali langsung, sementara lintasan permainan menuntut kemampuan naik-turun tangga dan penempatan objek yang presisi.

Ia menuturkan bahwa tuntutan tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih kompleks. “Robot otomatis harus bisa naik turun tangga, sementara mekanismenya cukup rumit. Selain itu, kedua robot harus bisa saling berkomunikasi. Kami menggunakan komunikasi cahaya agar keduanya dapat bekerja sama selama pertandingan,” ulas dia.

Dengan komunikasi cahaya, sinkronisasi antar-robot dapat dijaga sepanjang rangkaian misi. Strategi ini memungkinkan robot otomatis dan robot manual merespons kebutuhan permainan saat beroperasi di waktu yang sama.

Anggaran pengembangan sekitar Rp 50 juta

Proses rekayasa dan perakitan tentu membutuhkan biaya. Azmi mengungkap bahwa dana yang disiapkan untuk mengembangkan robot yang diturunkan pada kompetisi tersebut mencapai kisaran Rp 50 juta.

“Biaya yang kami butuhkan sekitar Rp 50 juta,” katanya. Angka tersebut menggambarkan skala sumber daya yang dipakai tim untuk menyusun perangkat, mengintegrasikan sistem, dan menyiapkan performa robot hingga siap bertanding.

Melanjutkan tanggung jawab mewakili Indonesia

Keberhasilan ITS pada KRAI 2026 sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai wakil Indonesia ke tingkat internasional. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Beny Bandanadjaja, menyampaikan bahwa tim juara kini mengemban tanggung jawab membawa nama Indonesia di panggung global.

Dalam komentarnya, Beny menegaskan arti kemenangan dan ketekunan di baliknya. “Semoga perjuangan berikutnya mampu membuat Merah Putih berkibar di panggung internasional. Ingatlah, setiap juara pernah merasakan jatuh dan kegagalan. Gelar juara bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah, melainkan buah dari kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus bangkit,” ucap Beny.

Pada tahap berikutnya, tim Richie akan menghadapi ABU Robocon 2026 yang digelar di Hong Kong pada Agustus mendatang. Target mereka berangkat dari pencapaian di KRAI 2026, namun tetap menuntut kesiapan teknik, koordinasi sistem, serta kemampuan robot untuk menyelesaikan misi “Kungfu Quest” secara konsisten.

Bagi ITS Surabaya, kemenangan ini juga menjadi bentuk keberlanjutan setelah mereka berhasil mempertahankan piala bergilir di kompetisi nasional. Dengan robot otonom yang mampu bergerak sesuai tuntutan arena serta robot manual yang berfungsi sebagai pasangan kerja, tim berharap format kolaborasi tersebut bisa tetap berjalan efektif saat bersaing pada level internasional.