jurnalistik.co.id – Produk domestik bruto (PDB) Singapura pada kuartal II tumbuh 5,7 persen. Angka ini melampaui ekspektasi para ekonom yang disurvei Reuters sebesar 5,5 persen.
Pertumbuhan tersebut sekaligus menjadi kabar lanjutan setelah performa kuartal I direvisi menjadi 6,3 persen. Dengan demikian, laju kuartal II berada di bawah angka hasil revisi pada kuartal sebelumnya.
Menurut rilis Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, penguatan ekonomi kuartal II terutama ditopang oleh manufaktur. Sektor barang tumbuh 10,4 persen, meningkat dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 8,4 persen.
Di sisi lain, kontribusi sektor jasa justru melambat. Pertumbuhan sektor jasa pada kuartal II tercatat 4,6 persen, turun dari 6,2 persen pada kuartal I.
Data PDB ini dirilis menjelang pengumuman keputusan kebijakan moneter triwulanan bank sentral Singapura yang dijadwalkan pada akhir bulan. Perhatian pasar pun tertuju pada apakah langkah kebijakan akan diselaraskan dengan dinamika pertumbuhan dan inflasi yang masih berlangsung.
Berbeda dari banyak bank sentral yang menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan, Singapura menjalankan kebijakan moneternya melalui pengelolaan nilai tukar dolar Singapura. Mekanismenya dikenal sebagai Singapore dollar nominal effective exchange rate (S$NEER) dan dijalankan dalam sebuah kisaran perdagangan yang tidak dipublikasikan.
Usai rilis data PDB, nilai tukar dolar Singapura melemah tipis ke posisi 1,294 per dollar AS. Pergerakan tersebut menjadi bagian dari respons pasar terhadap kombinasi sinyal pertumbuhan kuartal II dan kondisi makroekonomi yang menyertainya.
Berita Terkait
Pada saat yang sama, inflasi Singapura bertahan di level 1,8 persen pada Mei. Angka tersebut merupakan level tertinggi bersama sejak September 2024, sehingga memperkuat kewaspadaan terhadap tekanan harga ke depan.
Otoritas Moneter Singapura (MAS) menyampaikan bahwa harga energi global masih berada pada tingkat yang lebih tinggi dibanding 2025. MAS memperkirakan inflasi sepanjang 2026 berada di kisaran 1,5 persen hingga 2,5 persen.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2026 berada di kisaran 2 persen hingga 4 persen. Proyeksi tersebut juga mempertimbangkan bahwa risiko penurunan dinilai meningkat signifikan, sejalan dengan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dengan pertumbuhan kuartal II yang berada di atas ekspektasi namun masih di bawah angka kuartal I yang telah direvisi, peta ekonomi Singapura memasuki fase yang menuntut kehati-hatian. Keputusan kebijakan moneter triwulanan yang dijadwalkan akhir bulan menjadi penentu penting bagi arah kestabilan nilai tukar dan ekspektasi inflasi ke depan.
Rangkaian indikator itu membentuk gambaran yang relatif berlapis bagi pelaku pasar. Kenaikan PDB kuartal II memang melampaui estimasi ekonom, tetapi posisi pertumbuhan yang tetap lebih rendah dibanding capaian kuartal I yang sudah direvisi memberi sinyal bahwa momentum pemulihan berjalan tidak merata.
Komposisi sektor juga menegaskan perubahan struktur. Manufaktur menjadi penopang utama dengan ekspansi yang makin kuat, sementara perlambatan pada sektor jasa membuat distribusi kontribusi antarsektor menjadi lebih seimbang terhadap performa barang ketimbang layanan.
Dalam konteks kebijakan moneter, respons pasar terlihat dari pergerakan dolar Singapura yang melemah tipis setelah rilis PDB. Dengan kerangka S$NEER yang mengarahkan nilai tukar dalam kisaran perdagangan yang tidak dipublikasikan, keputusan akhir bank sentral akan dibaca sebagai penajaman penyesuaian arah kebijakan terhadap kombinasi pertumbuhan dan inflasi.
Tekanan harga yang masih terjaga ikut menjadi pertimbangan penting. Inflasi yang bertahan di 1,8 persen pada Mei—tertinggi bersama sejak September 2024—bersama ekspektasi MAS bahwa inflasi 2026 berada di 1,5 persen hingga 2,5 persen, serta proyeksi pertumbuhan 2026 pada kisaran 2 persen hingga 4 persen, pada akhirnya menguatkan kebutuhan kehati-hatian. Risiko penurunan yang dinilai meningkat signifikan, sejalan dengan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut menambah dimensi ketidakpastian bagi outlook ekonomi.












