jurnalistik.co.id – Fenomena “pelari kalcer” belakangan ramai terlihat, dari aktivitas fisik sampai bagian dari identitas dan gaya hidup. Meski tren dapat memberi dorongan awal, dr. Iman Permana mengingatkan agar lari tidak dijalani hanya untuk mengejar validasi sesaat di media sosial.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu menegaskan pentingnya menempatkan olahraga sebagai bagian dari pola hidup, bukan sekadar ikut arus. “Apa pun bentuk aktivitas fisiknya, kalau menyangkut pola hidup, kita harus mengaitkannya dengan manfaat jangka panjang, bukan hanya manfaat sesaat,” terang dr. Iman Permana dikutip dari laman UMY, Selasa (14/7/2026).
Dalam penjelasannya, dr. Iman mengaitkan kebiasaan berlari dengan tujuan kesehatan yang lebih nyata. Ia menyebut, olahraga yang dijalankan secara teratur dan terukur memberi manfaat besar bagi tubuh maupun kondisi mental.
Secara fisik, olahraga membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit tidak menular. Di antaranya diabetes melitus, hipertensi, stroke, hingga penyakit ginjal.
Dari sisi psikologis, aktivitas fisik juga berperan dalam mengurangi tingkat stres. Selain itu, olahraga disebut dapat menekan rasa cemas dan depresi.
Namun, dr. Iman menekankan bahwa manfaat itu tidak otomatis muncul hanya karena seseorang mulai berlari. “Olahraga harus dilakukan secara teratur dan terukur. Di situlah manfaat kesehatannya akan benar-benar dirasakan,” ungkapnya.
Ia menyoroti bahwa kunci utama ada pada prinsip yang benar. Dengan begitu, latihan tidak berhenti pada fase coba-coba atau sekadar ikut ramai lomba dan unggahan capaian.
Berkaca pada anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr. Iman menyebut aktivitas fisik ringan dapat dilakukan melalui berjalan kaki minimal 30 menit setiap hari. Untuk olahraga aerobik dengan intensitas sedang, seperti lari, WHO merekomendasikan total 150 menit per minggu.
Berita Terkait
Rekomendasi itu dapat dibagi menjadi lima kali latihan dengan durasi masing-masing 30 menit. Pembagian waktu seperti ini dimaksudkan agar intensitas dan keteraturan lebih terjaga dalam rutinitas mingguan.
Selain target durasi, dr. Iman menggarisbawahi cara menyusun latihan agar tetap berada pada jalur yang sesuai. Ia menyarankan memperhatikan prinsip FITT, yaitu frekuensi, intensitas, durasi, serta jenis olahraga yang dilakukan.
Melalui prinsip tersebut, latihan menjadi lebih terarah, bukan sekadar bergerak sesuai mood. Frekuensi latihan membantu membangun ritme, intensitas mengatur tingkat kerja tubuh, durasi memberi ruang adaptasi, sedangkan jenis olahraga menentukan jenis beban yang diterima.
Ia juga mengantisipasi kemungkinan seseorang memulai lari karena terdorong tren. “Kalaupun awalnya ikut-ikutan atau karena FOMO, harapannya lama-kelamaan orang menyadari manfaat jangka panjangnya sehingga olahraga menjadi kebiasaan yang terus dilakukan,” jelas dr. Iman.
Dengan cara pandang seperti itu, dorongan awal tidak dipatahkan, tetapi diarahkan menuju kebiasaan yang lebih sehat. Lari yang dijalankan teratur dan terukur dapat menjadi praktik jangka panjang, bukan aktivitas yang hilang saat perhatian publik bergeser.
Pada akhirnya, pesan dr. Iman bermuara pada satu hal: manfaat kesehatan hadir saat olahraga dilakukan dengan benar dan konsisten. Tren boleh menjadi pemantik, tetapi kualitas latihan dan kesesuaian dengan rekomendasi kesehatan yang menentukan hasilnya.
Dalam praktiknya, kerangka FITT membantu seseorang memetakan latihan agar tidak berubah-ubah tanpa arah. Frekuensi berfungsi menjaga ritme mingguan, sehingga tubuh terbiasa dengan pola gerak. Intensitas menjaga latihan tetap berada pada tingkat kerja yang ditujukan, sementara durasi memberi kesempatan bagi tubuh beradaptasi sesuai rencana. Jenis olahraga kemudian memastikan aktivitas yang dipilih selaras dengan tujuan yang ingin dicapai.
Ketika mengacu pada anjuran WHO, pengaturan yang rapi juga membuat rekomendasi lebih mudah diterapkan dalam rutinitas. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki yang dilakukan minimal 30 menit tiap hari dapat menjadi pijakan awal, lalu ditingkatkan ke olahraga aerobik intensitas sedang seperti lari dengan total 150 menit per minggu. Pembagian menjadi beberapa sesi membantu menjaga keteraturan, sehingga target tidak hanya menjadi angka di kertas.
Selain itu, arah latihan perlu dijaga agar tujuan olahraga tetap melekat pada manfaat jangka panjang yang telah disebutkan. Dengan pendekatan terukur, olahraga tidak berhenti pada fase coba-coba, tetapi terus diarahkan menjadi kebiasaan yang memberi dampak pada tubuh maupun kondisi mental. Jika tren hanya menjadi pemantik, konsistensi dalam penerapan prinsip dan rekomendasi kesehatan yang menentukan keberlanjutan hasil.












