Teknologi

Commonwealth Games 2026: Dimeji Shittu ‘robbed’ di final, apakah juri AI bisa jadi jawabannya?

×

Commonwealth Games 2026: Dimeji Shittu ‘robbed’ di final, apakah juri AI bisa jadi jawabannya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: England's Dimeji Shittu 'robbed' in final - is AI judging the answer?

jurnalistik.co.id – Dimeji Shittu dari Inggris disebut “dirampok” pada final Commonwealth Games 2026 setelah kekalahannya atas Ankush Panghal memicu kemarahan banyak pihak—dan pertanyaan tentang apakah penilaian berbantu AI bisa menjadi jalan keluar.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Glasgow, Shittu akhirnya harus menerima medali perak. Namun di luar hasilnya, yang paling banyak dibahas justru proses keputusan saat laga berlangsung.

Penyebab utama perdebatan bermula ketika Shittu dipotong satu poin di ronde kedua dan ronde ketiga. Meski begitu, Richie Woodhall menilai bahkan tanpa pengurangan itu, hasil tetap tidak akan berubah karena keputusan lain dianggap merugikan.

“Shocking. Terrible. Totally robbed,” kata Richie Woodhall, mantan juara, dalam komentarnya. Ia kemudian menyampaikan pandangan yang sama soal dampak keputusan wasit terhadap jalannya laga.

Woodhall menyebut, “The referee has cost Shittu the contest,” dan menambahkan, “He has been robbed. I really feel for him,” seperti yang ia sampaikan di TNT Sports.

Kontroversi pada keputusan wasit

Shittu sendiri tampil lebih baik pada fase awal final. Ia sempat unggul setelah memenangkan ronde tersebut di seluruh kelima kartu skor para juri.

Satu pukulan juga berujung pada standing count untuk Ankush. Setelah itu, jalannya pertandingan berbelok pada ronde kedua.

Meski Shittu tampak mendarat lebih banyak pukulan, tiga dari lima juri justru memberikan ronde kepada Ankush. Imbasnya, ketika Shittu mengalami pemotongan poin karena menundukkan kepala terlalu rendah, petinju Inggris itu tertinggal secara keseluruhan.

Situasi tersebut berlanjut di ronde berikutnya. Shittu kembali dihukum atas pelanggaran yang sama meski ia sempat melukai Ankush hingga akhir ronde.

Dave Farrar dari TNT Sports menilai keputusannya mengarah pada ketidakadilan. Ia mengomentari, “That is dreadful, absolutely dreadful,” saat penalti kedua diberikan.

Sementara itu, Woodhall juga terang-terangan menyuarakan ketidakpuasannya. Ia mengatakan, “Do me a favour, referee,” ketika penalti kembali dijatuhkan.

Yang semakin memperbesar kontroversi adalah fakta bahwa empat juri tetap memberi ronde final kepada Ankush. Dengan demikian, pengurangan poin sekalipun tidak mampu membalikkan keadaan. Woodhall pun mempertanyakan cara skor itu bisa terjadi.

Ia berkata, “How did [Ankush] win that last round on the scores 4-1?” lalu menegaskan, “Absolutely terrible. Shocking. That is not sour grapes.”

Jawaban Shittu dan sikapnya

Begitu hasil dipastikan, Shittu memilih tidak ikut terjebak dalam perdebatan terbuka yang lebih luas. Ia tampak sangat terpukul saat putusan dibacakan.

Namun, Shittu menyampaikan pandangannya dengan tegas. Ia mengatakan, “whatever the referee says goes.”

Dalam wawancara kepada BBC Sport, Shittu juga menambahkan, “A lot of people might say this about the referee, the judging, but at the end of the day I can only blame myself,” serta menekankan, “Those are the rules. We live and we learn.”

Ia kemudian menuturkan bahwa, baginya, keputusan itu berkaitan dengan aturan tinju amatir. “At the end of the day, it’s a foul in amateur boxing. It cost me the fight.”

Shittu juga menegaskan batas yang ia pilih untuk tidak terus menyalahkan pihak lain. “If people think I should have got the decision, fair play, I understand. But if I’m sitting here blaming judges, blaming refs, I’m not going to get better.”

Usulan AI dan perdebatan tentang subjektivitas

Di luar Shittu, beberapa tokoh tinju turut menyebut hasil tersebut tidak adil. Delicious Orie, juara kelas superberat Inggris dari Commonwealth Games 2022, ikut mempertanyakan keputusan tersebut.

Orie mengatakan kepada TNT Sports, “The referee has stripped the medal from Dimeji.” Ia lalu mengusulkan agar penggunaan AI dalam penilaian tinju bisa menjadi cara memperbaiki situasi.

Wacana itu belakangan makin sering dibahas. Salah satu rujukan yang disebut adalah penggunaan teknologi dalam menilai pertarungan Tyson Fury vs Oleksandr Usyk, termasuk ketika prosesnya dibahas “external behind the scenes in 2024.”

Dalam konteks tinju amatir, World Boxing—yang mengelola tinju amatir di berbagai ajang termasuk Olimpiade dan Commonwealth Games—juga dikatakan mulai mempertimbangkan implementasi teknologi tersebut. Di bawah presiden dan mantan juara dunia tak terbantahkan Gennadiy Golovkin, organisasi tersebut disebut membuat langkah untuk melihat kemungkinan penerapan AI.

Meski demikian, tidak ada yang disebut akan segera terjadi. Keinginan utamanya adalah meneliti apakah AI bisa membantu meningkatkan transparansi dan integritas dalam keputusan.

Namun, kubu tradisional tetap mengingatkan bahwa subjektivitas justru bagian dari olahraga. Mereka menilai teknologi biasanya lebih mudah digunakan untuk situasi yang bersifat faktual—misalnya apakah offside terjadi, apakah pukulan forehand “land out”, atau apakah ada tepi dari kayu pemukul kriket.

Orang-orang juga mempertanyakan apakah AI sanggup menilai aspek yang lebih rumit, seperti tenaga pukulan. Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah semua pukulan dianggap sama, atau perlu penilaian yang mempertimbangkan konteks yang lebih luas.

Orie sendiri tidak menutup diri terhadap ide tersebut. “I wouldn’t necessarily be against it,” katanya, lalu menambahkan, “Then it becomes an objective sport. If I knew there was a specific set of scoring then yeah, bring AI.”

Ia mengakhiri pendapatnya dengan menegaskan preferensinya pada aturan yang jelas: “I would follow that rule book rather than someone’s opinion.”