jurnalistik.co.id – Gelombang panas ekstrem di Eropa telah mendorong permukaan air sungai-sungai turun hingga rekor terendah, sehingga bagian dasar yang biasanya tertutup air kini menyingkap sejumlah peninggalan bersejarah. Di Serbia, Sungai Danube yang menyusut tajam menguak sisa-sisa kapal perang milik Nazi yang tenggelam.
Temuan itu muncul ketika curah hujan tidak lagi mampu menahan penurunan debit, membuat arus yang dulu ramai menjadi dangkal dan memperlihatkan jejak-jejak yang tersimpan lama. Kondisi semacam ini, menurut laporan media, menjadi salah satu dampak paling nyata dari musim panas yang lebih kering dan panas dari biasanya.
Danube mengalir melalui 10 negara, dan dalam beberapa titik penyusutannya mencapai level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasilnya, dasar sungai yang mengering turut memperlihatkan berbagai peninggalan dari periode berbeda.
Di Serbia, penurunan air membuka jalan bagi penemuan bangkai kapal perang Nazi yang selama ini terkubur di bawah permukaan. Di tempat lain, surutnya air juga memunculkan bukti sejarah lain yang terkait dengan masa modern awal abad ke-20.
Di Kroasia, ketika air sungai juga surut, kerangka kapal kargo bernama Fulton tampak di permukaan. Kapal tersebut diketahui tenggelam pada 1937 saat melayari sungai itu, dan kini muncul kembali karena perubahan drastis pada kondisi perairan.
Fenomena serupa turut dilaporkan terjadi di Bulgaria utara pada Rabu (29/7/2026). Pada periode itu, dasar Danube yang terungkap menampilkan temuan purba berupa rahang bawah, dua gading, serta kemungkinan tulang rusuk yang diduga milik mamut purba.
Menurut laporan media lokal yang dikutip Reuters, Direktur Museum Sejarah Regional di Kota Ruse menyatakan bahwa temuan tulang tersebut sedang menjalani pengujian. Proses pengujian ini dilakukan untuk mengonfirmasi apakah sisa-sisa itu benar berasal dari mamut purba.
Berita Terkait
Para ilmuwan menekankan bahwa cuaca panas dan kering saat ini terjadi dalam konteks krisis iklim yang dipicu aktivitas manusia. Gelombang panas ekstrem tidak hanya memicu kebakaran hutan, tetapi juga menekan sumber air di berbagai wilayah.
Di Budapest, ibu kota Hongaria, otoritas air nasional mencatat tinggi permukaan Danube berada di angka 9 inci (23 cm) pada Rabu. Angka tersebut memecahkan rekor terendah sebelumnya yang tercatat sebesar 13 inci (33 cm) pada 2013, sebagaimana diberitakan Associated Press.
Dengan minimnya potensi hujan signifikan dalam beberapa hari ke depan, kondisi diprediksi tidak akan banyak membaik dalam waktu dekat. Penurunan yang berkepanjangan membuat aktivitas yang bergantung pada ketersediaan air menjadi lebih rentan mengalami gangguan.
Dampaknya juga merambat ke sektor energi. Otoritas di Hongaria disebut bersiap menutup Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks selama beberapa minggu karena kekurangan air pendingin dari Danube, mengingat fasilitas tersebut merupakan pemasok hampir separuh listrik negara.
Perdana Menteri Bulgaria Peter Magyar menyampaikan melalui unggahan di X, dikutip CNN, bahwa untuk pertama kalinya dalam 44 tahun seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks akan ditutup total. Ia menyebut situasi krisis energi mungkin mulai muncul Senin (3/8/2026) akibat rendahnya permukaan Danube.
Di sisi lain, pelayaran di jalur sungai ikut terpengaruh karena kondisi air yang dangkal. Kapal kargo terpaksa mengurangi muatan secara signifikan agar tidak terdampar, sehingga jalur pengiriman menjadi lebih lambat dan biayanya cenderung meningkat.
Di tengah temuan-temuan yang kini terlihat di dasar sungai, muncul pula gambaran bahwa perubahan iklim dapat memperlihatkan sekaligus sekaligus mengganggu jejak masa lalu. Bangkai kapal dan sisa-sisa purba yang tersingkap bukan hanya soal penemuan, melainkan juga sinyal tentang seberapa besar ekstrem cuaca sedang mengubah lanskap Eropa.












