Internasional

Saudi di Persimpangan Perang AS–Iran: Terus Membalas atau Menurunkan Eskalasi

×

Saudi di Persimpangan Perang AS–Iran: Terus Membalas atau Menurunkan Eskalasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saudi Arabia's dilemma as it tries to stay out of US-Iran war

jurnalistik.co.id – Arab Saudi kini berada di titik yang sulit: setelah berulang kali memilih untuk tidak terseret langsung ke perang Amerika Serikat dan Iran, negeri itu justru mulai merasakan serangan yang datang dari lebih dari satu arah. Kondisi ini membuat Riyadh harus menimbang apakah pembalasan akan terus dipertahankan sebagai penangkal, atau justru membuka jalan untuk menurunkan eskalasi.

Sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, Saudi berupaya menjaga jarak sejauh mungkin. Namun pekan ini, setelah mengalami serangan dari tiga sisi, otoritas Saudi menyatakan bahwa mereka “sudah cukup” dan memilih bergerak lebih jauh.

Dalam langkah yang dilakukan bersama pihak AS, Saudi melakukan serangan terhadap milisi proksi Iran di Irak. Pemerintah Saudi menilai kelompok-kelompok tersebut memiliki peran dalam peluncuran drone ke wilayah Kerajaan.

Opsi yang kini dihadapi Saudi pada dasarnya berputar pada dua pilihan besar. Satu sisi mendorong agar pembalasan tetap dilanjutkan sebagai upaya pencegahan, sementara sisi lain mempertimbangkan de-eskalasi, bahkan melalui cara yang dapat diartikan sebagai “melunakkan” hubungan dengan sebagian lawan mereka.

Siapa berhadapan dengan siapa, dan mengapa wilayah ini makin berisiko melebar

Konflik yang selama lima bulan terakhir menjadi konsumsi kawasan Teluk memiliki dua kutub utama. Di satu sisi ada Iran beserta Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC), serta sekutu-sekutunya yang memiliki kemampuan dan jangkauan berbeda.

Houthis di Yaman disebut berada dalam pihak yang selaras dengan Iran, setelah kelompok itu mengambil alih kendali negara pada 2014. Di Irak, dukungan Iran juga mengalir ke Popular Mobilisation Forces, yakni kelompok paramiliter yang menurut penilaian Saudi dan pihak lain telah melancarkan 30 serangan drone terhadap Arab Saudi, sebelum akhirnya mendapatkan serangan balasan.

Di Lebanon, Hezbollah masih disebut sebagai kekuatan yang berpotensi besar, meski saat ini digambarkan tengah berada dalam kondisi “berada rendah”. Sementara di pihak lawan, Amerika Serikat dengan kekuatan Central Command (Centcom) disebut menjadi tulang punggung, didukung—dalam tingkat yang berbeda—oleh sejumlah negara Arab di kawasan serta Yordania.

Israel digambarkan sebagai sekutu dekat AS, tetapi tidak ikut berpartisipasi secara aktif dalam perang yang dimaksud. Iran sendiri, dalam periode terbaru, lebih banyak memusatkan serangan drone dan rudal ke Yordania, Kuwait, dan Bahrain, serta menargetkan pengiriman komersial yang mencoba melintas di Selat Hormuz—dengan upaya menghindari aturan dan rute baru yang diberlakukan Iran.

Masuknya milisi Irak dan Houthis di Yaman merupakan fenomena yang relatif lebih baru. Karena belum ada kesepakatan damai yang bertahan antara AS dan Iran, kawasan menghadapi risiko konflik yang terus meluas dari perang antar-negara menjadi perang berbasis proksi dan lintas-batas.

Kenapa Saudi berusaha menghindari perang skala penuh

Ada beberapa alasan yang membuat Arab Saudi terus berhati-hati. Penguasa de facto, Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, menjalankan arah kebijakan yang dikenal sebagai “Vision 2030”, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak.

Dalam rencana tersebut, Saudi menargetkan munculnya industri domestik yang lebih modern dan mampu menyediakan pekerjaan bermakna bagi ratusan ribu lulusan universitas maupun lulusan sekolah yang tiap tahun masuk ke pasar tenaga kerja. Salah satu elemennya adalah menarik investasi asing, sekaligus membangun infrastruktur baru seperti pusat data—yang juga rentan menjadi sasaran serangan.

Selain itu, wilayah Selat Hormuz menempati posisi yang krusial dalam perang yang melibatkan Iran. Riyadh perlu menghindari ancaman yang berlarut-larut dari drone yang ditembakkan dari perbatasan selatan oleh Houthis di Yaman, maupun serangan rudal balistik langsung dari Iran.

Pada September 2019, Saudi sempat mengalami guncangan yang tidak menyenangkan. Saat hubungan dengan Iran sedang buruk, Riyadh mendapati bahwa sebuah milisi proksi Iran di Irak meluncurkan armada drone ke dua fasilitas minyak paling vital: Abqaiq dan Khurais.

Ketika itu sempat ada dugaan bahwa serangan berasal dari Houthis di Yaman, tetapi setelah mengunjungi lokasi, disebutkan bahwa jejak kerusakan menunjukkan lubang-lubang pada struktur menghadap ke utara. Serangan tersebut membuat sekitar setengah ekspor minyak Saudi terhenti selama beberapa hari, menjadi peringatan langsung bahwa infrastruktur nasional yang paling menentukan sangat rentan diserang.

Senin itu, citra satelit juga memperlihatkan bahwa fasilitas minyak Abqaiq kembali menjadi target serangan drone yang diluncurkan oleh milisi proksi Iran di Irak. Kejadian ini menambah beban perhitungan Riyadh karena dampaknya bukan hanya urusan keamanan, melainkan juga kemampuan ekonomi untuk tetap bergerak.

Minyak, pelayaran, dan efek berantai di perdagangan kawasan

Iran disebut telah melakukan tindakan balasan terhadap serangan AS dan Israel pada Februari dengan cara “secara efektif” menutup Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pengiriman penting antara Iran dan kawasan Teluk, di mana sekitar 20% minyak dunia serta gas alam cair melewati rute itu.

Untuk meredam dampaknya, Saudi memompa minyak sebanyak mungkin—sekitar lima juta barel per hari—melalui pipa dari timur ke barat menuju terminal ekspor di pesisir Laut Merah, tepatnya di Yanbu. Dari sana minyak dimuat ke kapal tanker yang menuju ke selatan, melewati Laut Arab, lalu diarahkan ke pasar-pasar di Asia.

Namun situasi kembali bergeser pada 13 Juli. Saudi melakukan pemboman terhadap bandara Sanaa yang berada di luar ibu kota Yaman, dan serangan itu diklaim oleh pemerintah Yaman yang didukung Saudi, dengan tujuan mencegah sebuah pesawat Iran mendarat.

Sebagai balasan, Houthis kemudian menyerang bandara-bandara di Arab Saudi di Abha dan Jizan. Yang makin mengkhawatirkan bagi Riyadh, Houthis juga mulai menyerang pengiriman kapal dagang Saudi di Laut Merah, membuat perjalanan kapal menjadi sangat berbahaya untuk melintasi Selat Bab El Mandeb di ujung selatan Laut Merah.

Akibatnya, arus ekspor minyak Saudi ke Asia terhambat. Latar belakangnya juga memperlihatkan bahwa upaya Riyadh selama tujuh tahun untuk menekan Houthis melalui pemboman tidak berhasil, dan perang yang melanda Yaman digambarkan sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk pada masa kini, dengan dampak yang masih terasa hingga sekarang.

Pada 2022, Saudi sempat menyepakati gencatan senjata yang bersifat tidak sepenuhnya stabil dengan Houthis, disertai laporan adanya “pembayaran” atau kompensasi. Tetapi kini, negeri yang disebut sebagai yang terkaya di kawasan kembali menghadapi ancaman serangan drone dan rudal dari tetangga selatannya, pada saat yang sama juga mendapat tekanan dari Irak di bagian utara.

Rangkaian kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan yang sedang terjadi tidak pernah masuk dalam rancangan Vision 2030. Ketika eskalasi berjalan sambil menekan sektor penting dan jalur ekonomi, keputusan Saudi berikutnya—meneruskan pembalasan atau memilih de-eskalasi—akan sangat menentukan arah yang bisa ditempuh Riyadh ke depan.