jurnalistik.co.id – Ashley Cain, mantan presenter BBC Three, menyatakan bahwa ia tidak bangga dengan bahasa seksis yang pernah ia gunakan dalam unggahan media sosial bertahun-tahun lalu. Pernyataan itu muncul setelah BBC memutuskan menarik seri dokumenter terbarunya, “Ashley Cain: Into The Danger Zone”.
BBC mengatakan tidak ada rencana untuk menayangkan seri baru tersebut. Langkah itu dilakukan setelah pemberitaan melaporkan bahwa Cain kerap menggunakan istilah merendahkan dan bahasa yang men seksualisasi perempuan dalam komentar-komentar lama.
Dalam unggahan Instagram, Cain menegaskan ia tidak menyangkal isi komentar yang sebelumnya terungkap. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak membenarkan maupun menganggap wajar bahasa yang ia pakai pada masa lalu.
Tanggapan Ashley Cain
Cain menulis: “You may have seen a recent article concerning language I used many years ago that I am not proud of.” Ia melanjutkan, “I don’t deny it, I don’t excuse it and I certainly don’t condone it.”
Ia menambahkan bahwa komentar-komentar itu dibuat oleh versi dirinya yang masih sangat muda, dengan kalimat: “The truth is, these comments were made over a decade ago by a younger version of myself who still had a lot of growing up to do.”
Dalam konteks unggahan lama di akun X yang kini sudah dihapus, Cain juga menghubungkan perubahan arah hidupnya dengan cedera yang mengakhiri impian menjadi pesepak bola profesional. Ia menyebut realitas TV memberi “second chance”, tetapi juga menempatkannya pada dunia yang belum ia pahami sebelumnya.
Cain menuliskan bahwa ia lantas memperoleh “reward” ketika mengembangkan kepribadian yang provokatif. Ia menggambarkan dinamika itu sebagai bagian dari perjalanan yang memperlihatkan bahwa tindakan dan cara bicara yang ia pilih pada masa itu kemudian menjadi masalah.
Ia juga menulis panjang lebar mengenai pentingnya akuntabilitas dan proses berkembang. Cain menyatakan: “I have always believed that accountability matters. We should all take responsibility for our actions, good or bad.”
Ia menambahkan: “But I also believe in growth, in learning from our mistakes, and in proving through our actions that the person we once were does not have to be the person we remain.” Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan berarti tidak menutupi masa lalu.
Cain mengatakan ia tidak memaafkan tindakannya, namun ia berusaha menjelaskan bahwa kehilangan karier sebelumnya akibat cedera membuatnya merasa “lost, frustrated and unsure of where my life was heading”.
Dalam perenungannya, ia juga menyebut dirinya “raised by incredible women”, termasuk ibu, bibi, nenek, dan saudara perempuannya. Ia mengatakan bahwa dengan melihat ke belakang, ia bisa melihat momen-momen ketika ia “lacked maturity, perspective and understanding”.
Ia menambahkan bahwa, seperti banyak pria muda, ia memiliki pelajaran untuk dipelajari, dan kehidupan memastikan ia mempelajarinya. Di bagian lain tulisannya, Cain juga menyinggung kematian anak perempuannya yang masih bayi akibat kanker pada 2021.
Cain menyatakan bahwa peristiwa itu “changed me forever”. Ia menulis bahwa ia telah mendedikasikan hidupnya untuk menghormati warisan putrinya dan membantu orang lain, khususnya anak-anak dan keluarga yang menghadapi kanker pada masa kanak-kanak.
Ia menambahkan: “The reason I am able to connect with people who are struggling, particularly young men, is not because I have lived a perfect life.” Menurutnya, ia justru bisa terhubung karena ia “haven’t” menjalani kehidupan yang sempurna, pernah membuat kesalahan, mengalami kehilangan, menghadapi konsekuensi, dan belajar dengan cara yang sulit.
Cain juga menegaskan bahwa ia menganggap pertumbuhan nyata bukan tentang berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi. “It’s about owning it, learning from it and becoming better because of it,” tulisnya.
Terakhir, ia mengatakan bahwa “difficult to see these stories return” dan ia berharap orang bisa mengenali bahwa pertumbuhan itu mungkin. Ia menempatkan komentarnya sebagai upaya untuk memperlihatkan perubahan, sekaligus menanggapi kritik atas bahasa yang pernah ia gunakan.
Keputusan BBC dan proses verifikasi
BBC menyatakan bahwa unggahan-unggahan Cain—meski berasal dari banyak tahun lalu—adalah sesuatu yang “completely unacceptable”. Dalam pernyataan dari juru bicara BBC, disebutkan bahwa BBC memiliki persyaratan untuk proses vetting dan pengecekan media sosial yang dilakukan oleh perusahaan produksi.
BBC menegaskan bahwa dalam kasus ini proses tersebut “clearly failed” dan mereka sedang menyelidiki mengapa kegagalan itu bisa terjadi. BBC juga menyatakan akan terus memperkuat proses agar semua pihak yang bekerja untuk, atau atas nama, BBC memenuhi nilai dan standar yang ditetapkan.
Selain itu, BBC juga menegaskan “no future projects with Ashley Cain”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan menarik seri bukan sekadar penundaan, melainkan penutupan rencana siaran dan kerja sama ke depan terkait pembuatannya.
Menurut laporan, seri kedua “Ashley Cain: Into the Danger Zone” pernah dipesan dan direkam lebih awal pada tahun ini, tetapi belum dijadwalkan untuk ditayangkan. Dengan keputusan BBC, seri tersebut tidak akan dipublikasikan ke hadirin.
Pemberitaan juga menyebut bahwa dalam cuitan-cuitan awal yang pertama kali dilaporkan oleh The Guardian—dan kemudian dipantau oleh BBC News—Cain diduga menggunakan berbagai istilah ofensif untuk merujuk perempuan, termasuk kata-kata seperti “slags” dan “bitches”.
Dalam laporan yang sama, Cain disebut juga menggunakan istilah seperti “sluts” dan “psychos”, serta membuat lelucon tentang memukul perempuan. BBC kemudian merespons dengan menarik rencana siaran dan menyelidiki kegagalan proses verifikasi.
Di tengah pengakuan Cain bahwa ia tidak bangga atas bahasa tersebut, keputusan BBC menggambarkan bahwa isu akuntabilitas dan standar vetting menjadi faktor penentu. Bagi Cain, pesan utamanya adalah bahwa masa lalu tidak bisa dihapus, tetapi bisa dipahami, dimiliki, dan dijadikan dasar untuk menjadi lebih baik.







