Olahraga

Piala Dunia 2026: “Perang saudara bisa pecah” soal Cristiano Ronaldo di skuat Portugal

×

Piala Dunia 2026: “Perang saudara bisa pecah” soal Cristiano Ronaldo di skuat Portugal

Sebarkan artikel ini
How do you solve a problem like Ronaldo?
Ilustrasi: World Cup 2026: 'Civil war could emerge' over Cristiano Ronaldo within Portugal team

jurnalistik.co.id – Portugal menghadapi Uzbekistan dengan atmosfer yang jauh dari tenang, menyusul rangkaian sorotan media dan kecaman di media sosial yang menyeret Cristiano Ronaldo ke dalam pusaran perdebatan internal tim. Di tengah performa sang kapten yang dipertanyakan, kata-kata Joao Neves setelah laga pembuka kembali dibaca ulang dan memicu respons yang tidak terduga.

Portugal bermain 1-1 saat menghadapi DR Congo di laga pembuka Piala Dunia 2026, dan laga itu menjadi awal dari rangkaian kontroversi yang kemudian membesar. Meski hasil imbangnya sudah menyisakan rasa frustrasi, wawancara seusai pertandingan menjadi pemantik utama yang mendorong kegaduhan melebar sebelum pertandingan berikutnya.

Neves, yang mencetak gol satu-satunya Portugal dalam laga melawan DR Congo, ditanya mengenai peran Ronaldo di skuat nasional. Ia menjawab, “We know what Ronaldo has done for our national team, but at this moment I feel that for him, and for everyone, he’s one of us. He’s one more player trying to help, he’s no different to the others. He’s here to contribute like we all will,”.

Namun, kalimat yang awalnya dimaksudkan sebagai penegasan justru memicu reaksi balik dari para pendukung Ronaldo di media sosial. Para penggemar membanjiri akun media sosial Neves, Bruno Fernandes, dan sejumlah pemain lain, menuduh mereka tidak menghormati kapten Portugal. Bahkan menurut ukuran Ronaldo sebagai bintang dunia, reaksi tersebut dinilai “unprecedented”.

Di tengah eskalasi itu, Anibal Pinto dari Record newspaper menyampaikan kekhawatiran tentang situasi yang bisa menjadi lebih serius. “It highlights the risk of a civil war that could emerge within the national team,” kata Pinto.

Keributan tidak berhenti pada komentar para pemain di lapangan. Georgina Rodriguez, yang merupakan pasangan Ronaldo, disebut bereaksi terhadap “fake quote” yang dikaitkan dengan Madalena Aragao, sebelum kemudian menghapus komentarnya. Sementara itu, saudara-saudara Ronaldo—Katia dan Elma Aveiro—juga membagikan unggahan yang mengisyaratkan adanya upaya untuk “freeze him out of the team”.

Situasi bertambah panas melalui kanal televisi CMTV, yang disebut sebagai stasiun paling banyak ditonton di Portugal dan di mana Ronaldo tercatat sebagai pemegang saham. Dalam program tersebut, pundit sekaligus pengacara Luis Miguel Henrique—yang dikatakan pernah menangani urusan bisnis Ronaldo—mengutip “fake quote” yang dikaitkan dengan Zinedine Zidane sebagai pembelaan.

Guncangan tersebut akhirnya “inevitably found its way” ke dalam kamp tim nasional di Miami. Dalam konferensi pers yang berulang, pertanyaan mengenai adanya polarisasi di skuat kembali muncul. “Are Portugal polarised between those who are with Cristiano and those who are not?” menjadi pertanyaan yang dinaikkan berkali-kali.

Jawaban dari para pemain memperlihatkan ketegangan yang terasa jelas. Ruben Dias menanggapi, “This shouldn’t even be a topic of discussion,” dalam sebuah wawancara yang disebut berlangsung dalam suasana yang menegangkan. Diogo Dalot kemudian menambahkan setelahnya, “We know there are a lot of people who don’t want Portugal to win.” Ia juga menolak menyebut nama pihak-pihak terkait, dengan kalimat, “If I had to do that, we’d never leave here. It’s not my role.”

Secara keseluruhan, Portugal tampak menyadari bahwa hanya kemenangan meyakinkan atas Uzbekistan yang bisa membawa jeda dari kebisingan tersebut—lebih disukai jika Ronaldo turut mencetak gol. Laga Selasa tersebut dijadwalkan pada 18:00 BST, dan tekanan terasa bukan hanya soal klasemen, tetapi juga soal stabilitas tim.

Catatan Ronaldo jadi bahan utama perdebatan

Perdebatan itu menemukan landasan pada performa Ronaldo yang sedang mengalami penurunan di level-turnamen besar. Ronaldo kini menjalani 10 pertandingan beruntun di ajang besar tanpa menemukan gol sejak gol dari titik penalti melawan Ghana pada Piala Dunia 2022. Dalam laga melawan DR Congo, ia melepaskan tiga tembakan—lebih banyak daripada pemain lain—tetapi gagal mengarah ke sasaran.

Luis Aguilar, pundit SIC Noticias, menggambarkan persepsi publik yang membentuk cara pandang terhadap tim. Ia menyebut, “Whenever people talk about Cristiano Ronaldo, it almost feels like Portugal are playing in Cristiano Ronaldo’s country,”. Ia melanjutkan, “It’s like there is one man who is far bigger than the collective good, and that it is more important for things to work for Cristiano Ronaldo than for the team, when that doesn’t have to be the case.”

Aguilar juga menyoroti perbandingan yang sering dilakukan dengan Lionel Messi. “Because the reality today is that, unlike the comparison that is often made with Lionel Messi, Cristiano Ronaldo is not the best player in the Portugal team. Messi is still the best player in the Argentina team.”

Dalam pertandingan pembuka itu, nomor tujuh tetap berada di lapangan selama 90 menit. Di bawah pelatih Roberto Martinez, Ronaldo disebut telah disubstitusi keluar sebanyak 13 kali dari 30 pertandingan yang ia mulai, namun hanya sekali yang terjadi sebelum menit ke-60, yakni pada kemenangan 5-0 atas Armenia pada September 2025.

Meskipun Martinez tidak ingin mendefinisikan Ronaldo sebagai pemain yang “tak tersentuh”, data yang muncul tetap memperlihatkan pola berbeda. Eksekutif A Bola, Luis Mateus, menilai bahwa masalahnya tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga efek psikologis dan dinamika serangan. Ia menyampaikan, “He’s not the solution and that alone makes him part of the problem,”. Ia menambahkan, “His goals used to make up for his lack of defensive contribution. Now he is no longer scoring and he is affecting the entire attack. Mentally, because his team-mates still want to serve him even when there are better options, but also because he has become something of a square peg in the whole attacking process.”

Mateus merangkum sikapnya dengan kalimat, “He is on the pitch because of gratitude, not because of how he is playing.” Pandangan semacam ini kemudian bertemu dengan data dukungan yang menunjukkan adanya keraguan di kalangan penggemar.

Hasil jajak pendapat dari situs Zerozero menyebutkan 63% penggemar Portugal yang memberikan suara tidak ingin Ronaldo menjadi starter saat menghadapi Uzbekistan. Angka itu memperlihatkan bahwa perdebatan di luar lapangan sudah menjadi isu nyata sebelum pertandingan berikutnya.

Mengulang cerita lama: kritik soal gol

Ini bukan kali pertama Ronaldo menghadapi kritik di Piala Dunia, terutama terkait minimnya gol untuk tim nasional. Pada Piala Dunia 2010, situasinya bahkan disebut lebih buruk. Ronaldo disebut tiba di Afrika Selatan bersama Al-Nassr tanpa mencetak gol dalam pertandingan kompetitif Portugal selama dua tahun.

Namun, ia merespons dengan cara yang dinilai lebih ringan pada waktu itu. “Goals are like ketchup. When they come, they come all at once,” ujarnya. Ia akhirnya mengakhiri paceklik tersebut pada kemenangan Portugal 7-0 atas Korea Utara di pertandingan grup kedua, tetapi golnya itu disebut menjadi satu-satunya gol Ronaldo pada turnamen tersebut.

Kisah berlanjut hingga akhir: tim yang dilatih Carlos Queiroz tersingkir oleh Spanyol di babak 16 besar. Dalam konteks itulah, pertandingan kali ini dipandang sebagai upaya untuk menghindari pengulangan cerita yang sama—ketika kritik kembali muncul meski nama besar tetap berada dalam sorotan utama.

Andre Villas-Boas, mantan pelatih Tottenham dan Chelsea yang kini menjabat presiden Porto, menilai bahwa tim perlu melakukan perenungan. Ia menyebut, “It is now time to rethink a few things, to spend less time at the beach [there’s been some controversy regarding that in the country] and more time in the meeting room,”. Villas-Boas menambahkan, “Our ambitions remain enormous, because this is a golden generation and we want the man who has given so much to our country to leave the game holding the World Cup trophy, the same way Messi did in Qatar.”

Ia juga menegaskan bahwa urusan waktu bermain akan menjadi keputusan pelatih, dengan kalimat, “But the coach will manage his playing time as he sees fit. I still believe we have enough talent to leave a much better impression.”

Dengan segala pertarungan narasi yang sedang terjadi, satu-satunya jalan agar perdebatan mereda kemungkinan besar adalah respons di lapangan: Portugal perlu menunjukkan kendali, dan kemenangan atas Uzbekistan menjadi kunci. Untuk saat ini, tekanan pada Ronaldo tidak hanya soal kontribusi di statistik, tetapi juga soal bagaimana tim mengelola dinamika yang terlanjur terpecah oleh isu yang bermula dari kata-kata, lalu berkembang menjadi pusaran publik, dan akhirnya masuk ke ruang konferensi pers.