Peristiwa

Banjir Bandang Hantam Gorontalo, Ribuan Warga Terdampak dan Sejumlah Rumah Hanyut

0
×

Banjir Bandang Hantam Gorontalo, Ribuan Warga Terdampak dan Sejumlah Rumah Hanyut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Banjir Bandang Terjang Gorontalo, Ribuan Warga Terdampak, Rumah pun Hanyut

jurnalistik.co.id – GORONTALO — Ribuan warga di Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut sejak Selasa (26/5/2026) malam. Bencana itu tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghanyutkan sejumlah rumah beserta peralatan rumah tangga milik warga.

Berdasarkan data Posko Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinsosdukcapil) Provinsi Gorontalo, dampak banjir bandang tersebar di lima desa di Kecamatan Biau. Kelima desa itu adalah Didingga, Omuto, Bualo, Biau, dan Luhuto.

Di Desa Didingga, jumlah warga terdampak mencapai 200 kepala keluarga atau 269 jiwa. Sementara itu, di Desa Omuto tercatat 168 kepala keluarga atau 562 jiwa ikut terdampak banjir bandang.

Adapun di Desa Bualo, jumlah warga terdampak mencapai 212 kepala keluarga atau 771 jiwa. Kemudian di Desa Biau, banjir berdampak pada 188 kepala keluarga atau 717 jiwa. Desa Luhuto juga terdampak cukup besar dengan 52 kepala keluarga atau 715 jiwa.

“Total keseluruhan warga terdampak mencapai 820 kepala keluarga atau 3.034 jiwa,” kata Kepala Dinsosdukcapil Provinsi Gorontalo, Reflin Buata, Kamis (28/5/2026).

Reflin menyebut pihaknya sudah menangani dampak banjir bandang yang melanda Kecamatan Biau. Salah satu langkah yang dilakukan adalah asesmen terhadap warga terdampak untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan.

Selain asesmen, pemerintah juga membangun dapur umum guna memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi bencana. Kehadiran layanan ini dinilai penting untuk memastikan warga yang masih bertahan di sekitar lokasi banjir tetap mendapat pasokan makanan dan dukungan dasar lainnya.

Banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga mengalami kerusakan. Sejumlah harta benda ikut hanyut terbawa arus, sementara ternak milik warga juga terdampak akibat derasnya banjir yang menerjang kawasan itu.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Langkah itu dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa di tengah situasi bencana yang masih mengancam.

“Saat ini tim Tagana bersama pilar-pilar sosial lainnya telah berada di lokasi untuk menyiapkan berbagai kebutuhan mendesak bagi para penyintas banjir,” ujar Reflin.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Gorontalo terus berkomitmen hadir di tengah masyarakat, terutama dalam kondisi darurat seperti bencana banjir. Menurut dia, langkah cepat yang dilakukan pemerintah merupakan bentuk kepedulian terhadap warga mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan akibat banjir bandang tersebut.

Meski situasi di lapangan masih dinamis, penanganan awal difokuskan pada pemenuhan kebutuhan paling mendesak bagi warga yang terdampak. Pendekatan ini dipilih agar bantuan dapat langsung menjangkau masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, mengalami kerusakan rumah, atau masih berada di sekitar area banjir dengan akses terbatas.

Dampak yang meluas di lima desa menunjukkan bahwa banjir bandang ini tidak hanya menjadi persoalan genangan air sesaat, tetapi juga menyisakan persoalan lanjutan bagi pemulihan warga. Kerusakan pada rumah, hilangnya peralatan rumah tangga, serta terganggunya aktivitas sehari-hari membuat proses pemulihan diperkirakan membutuhkan penanganan yang berkelanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, kehadiran tim Tagana dan unsur sosial lainnya menjadi penting untuk memastikan kebutuhan warga tetap terpantau dari waktu ke waktu. Dengan asesmen yang berjalan dan dukungan dapur umum di lokasi, pemerintah berupaya menjaga agar penyintas banjir tidak menghadapi beban tambahan selama masa tanggap darurat berlangsung.

Dengan kondisi yang masih berpotensi berubah, warga terdampak kini menunggu kepastian lanjutan terkait bantuan dan penanganan di lapangan. Fokus utama saat ini tetap pada pemulihan awal, mulai dari kebutuhan makan, tempat aman, hingga pemetaan dampak yang lebih rinci agar penanganan berikutnya bisa lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, skala terdampak yang mencapai ribuan jiwa menegaskan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan secara singkat. Selain memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, upaya pendampingan juga diperlukan agar warga yang kehilangan rumah dan barang-barang penting dapat perlahan kembali menata kehidupan mereka setelah banjir bandang mereda.